Seperti yang kamu sudah tahu, yang disebut “Millenials” adalah kamu-kamu yang lahir antara tahun 80 sampai 90an. Nah, menurut perhitungan Kanda Fajar, Millenials adalah orang-orang yang sekarang berumur 20an sampai 35an tahun. Mereka-mereka ini (dan saya tentu saja) memiliki satu keuntungan dibanding orang-orang golongan baby boomer soal uang: Umur kita masih panjang.

Menurut penelitian, Millenials akan akan lebih kaya daripada orang tua kita. Bahkan investor sekelas Warren Buffet saja mengamini fakta ini. Sayangnya, hal ini juga berarti kita punya waktu lebih banyak untuk melakukan kesalahan-kesalahan finansial yang fatal. Hal itu seperti:

Tidak Mengindahkan Time Value of Money

Sederhananya, Time Value of Money berarti membuat uang bekerja untuk dirinya sendiri, lewat skema yang disebut compound interest. Sayangnya, ini yang sering dilupakan sama anak-anak muda kayak kamu dan Kanda Fajar.

Kita tidak terbiasa untuk menyisihkan uang untuk mendapat compound interest aka investasi. Bahkan Kanda Fajar cukup yakin uang di bank pun pun bukan buat “menabung” tapi untuk memudahkan transaksi.

Padahal dengan peraturan pemerintah saat ini, siapa saja termasuk kita-kita yang duitnya terbatas bisa ikut berinvestasi. Cukup 100 ribu per bulan, kamu sudah bisa beli reksadana atau menabung lembaran saham buat masa depan.

Ingat, investasi itu soal kedisiplinan, bukan soal besarnya jumlah uang!

Gagal Merencanakan Uang Pensiun

Mungkin karena masih muda, pikiran kita para millennials tidak sampai sejauh ini. Di usia 20 sampai 30an, kita masih punya dana buat hang out dan senang-senang. Tapi coba bayangkan saat kalian sudah memasuki masa pensiun. Semua gaya hidup kalian bisa lenyap tidak berbekas.

Justru ada baiknya kita mulai menyiapkan persiapan dana pensiun. Hal ini juga bukan budaya di Indonesia. Padahal kalau di Singapura sana, anak-anak mudanya sudah mulai memikirkan soal retirement. Kanda Fajar tahu ini lewat vlog

Istilahnya, mereka sudah siap untuk dapat uang gratis setiap bulannya setelah pensiun. (Tonton di 2 menit pertama).

Lah, uangnya dari mana? Ya, dari simpanan dana pensiun yang sudah disisihkan dong.

Takut akan Resiko

Ada satu rule of thumb penting di dunia keuangan: High Risk, High Return.

take risk
take risk guys via keytostressfreeliving.com

Semakin tinggi resiko yang kita ambil, semakin tinggi potensi imbal hasil yang bisa kita dapatkan. Karena umur yang masih panjang, sudah semestinya kita berani mengambil resiko yang lebih besar. Millennials masih punya banyak waktu untuk membuat kesalahan dan belajar memperbaikinya.

Sayangnya, sebagai orang dengan budaya ketimuran yang kental, kita takut berbuat salah dan mengambil resiko. Ini bisa dilihat dari berapa jumlah emiten dan investor di Indonesia. Masih kuat keyakinan di masyarakat kalau saham itu judi dan bisa membuat bankrut.

Padahal secara data, bursa efek Indonesia termasuk Top Performer diatas bursa saham dunia lain. Lalu kenapa kita tidak memanfaatkannya, ya?

Gagal Paham dengan Basic Personal Finance Equation

Ada rumus paling basic di personal finance. Kamu juga pasti sudah tahu dari SD kelas 5 atau 6. Rumusnya adalah Income – Expenses = Savings.

personal finance
income harus lebih besar dari expense via dreamstime.com

Intinya adalah either kita memperbesar income atau menekan expense. Lebih baik lagi kalau keduanya bergerak berlawanan. Jadinya, kita punya cadangan dana yang lebih besar buat masa depan.

Karena kebanyakan orang, kalau income-nya dikit, dia ngeluh. Kalau expense-nya gede, dia pasrah aja. Kalau kayak gini ya gimana ya.

Padahal, menurut penelitian, Millennials punya kemampuan lebih besar untuk men-generate income karena kita lebih tahu dengan internet dan teknologi. Kamu bisa jadi YouTuber, bikin startup, jadi penulis atau jadi blogger kayak Kanda Fajar ini.

 

 

 

Categories: Personal Finance

Leave a Reply