Beberapa minggu ke belakang, jagat dunia maya heboh karena Facebook tersangkut skandal besar. Mark Zuckerberg selaku CEO pun sampai harus pakai formal suits, padahal selama ini dia kan selalu nyantai dengan kaos oblong abu-abunya. Dikutip dari berbagai sumber, skandal ini sebenarnya adalah alasan dibalik terpilihnya Trump di pemilihan 2017 kemarin. Masalah jadi serius karena image Facebook sebagai media sosial terkotori dengan image Trump yang agresif dan menghalalkan segala cara demi cita-citanya terwujud.

Lalu, apakah cuma itu saja yang terjadi di balik kasus ini? Tentu saja tidak. Skandal ini adalah skandal besar. Efeknya malah mungkin lebih besar dari efek kekecewaan Kyle Jenner atas Snapchat.

Pengen tahu lebih lanjut, silahkan lanjutkan membaca blog post ini sampai akhir.

What’s Actually Happened Here?

Ini sebenarnya sudah Kanda Fajar singgung sedikit diatas tapi emang belum semuanya.

Jadi gini lebih jelasnya. Di tahun 2014, Facebook mulai menyentuh ranah politik. Paling tidak di Amerika Serikat, Facebook mulai menghubungkan kandidat dengan konstituenya (pendukungnya). Lewat Facebook, para kandidat bisa mendapatkan data-data terkait para pemilih seperti nama, tempat tinggal bahkan ideologi politik.

Skandal terheboh di 2018 via fossbytes.com

Lalu datanglah Cambridge Analytica. Di 2015, seorang professor dari University of Cambridge, Dr. Aleksandr Kogan, membuat suatu aplikasi bertema test psikologi yang disebut “thisisyourdigitallife.” Aplikasi ini menyamar sebagai sebuah game biasa tapi memungkinkan si professor mengakses informasi personal yang tersimpan di Facebook.

Aplikasi ini tidak disangka sukses besar. Di download 270 ribu kali, aplikasi ini bahkan mampu mengakses informasi dari orang-orang yang ada di daftar pertemanan. Salahnya adalah, si professor menyatakan bahwa aplikasi ini akan digunakan untuk kepentingan research. Nyatanya adalah informasi-informasi yang terkumpul dibagikan ke pihak ketiga yakni Cambridge Analythica. Nantinya, data-data ini akan diolah untuk dengan tujuan voter profiling sehingga kampanye Trump bisa lebih mengena.

Sampai disitu aja? Engga.

Karena ternyata Cambridge Analythica juga menawarkan aplikasi ini ke lebih banyak orang dengan bayaran $1 saja! Buat yang ngisi, sih nothing to lose banget tapi sebenarnya mereka sudah membahayakan data pribadi temannya juga.

What is Cambridge Analythica?

Dari Mercer ke Trump via money.cnn.com

Cambridge Analytica pada dasarnya adalah perusahaan data science. Konon, perusahaan ini ada dibalik kesuksesan kampanye Brexit dan Trump. Wadoh.

Cambridge Analythica punya expertise dibidang data analysis, mengubah banyak data mentah menjadi insight-insight penting yang berguna untuk proses pengambilan keputusan.

Awal mula Cambridge Analythica diawali dengan Robert Mercer yang berpartner dengan SCL Group dari Inggris. Robert lalu menggunakan expertise dari SCL untuk pemilihan gubernur Virginia, dan dia menang. Mercer lalu berpartner lagi dengan Alex Nix dan terbentuklah Cambridge Analytica.

Why are People Angry with Facebook?

Orang-orang salah kalau marah ke Facebook via fossbytes.com

Karena skandal ini, orang-orang mulai marah sama Facebook. Hashtag #DeleteFacebook mulai banyak bermunculan di berbagai media sosial kompetitor Facebook. Tapi menurut Kanda Fajar, kemarahan ini salah sasaran.

Orang-orang marah sama Facebook karena skandal Cambridge Analythica mengindikasikan Facebook mudah di-hack. Nyatanya, pihak Facebook membantah bahwa ada data breach (kebocoran data) di Facebook. Skandal ini timbul karena pihak Cambridge Analythica menyamarkan tujuannya. Facebook membolehkan aplikasi seperti “thisisyourdigitallife” mengambil data-data pribadi pengguna demi tujuan penelitian. Tapi Facebook melarang data-data itu dijual atau digunakan ke pihak lain apalagi untuk demi kepentingan komersial.

Ini artinya, justru Cambridge Analythica yang dengan sadar dan sengaja melanggar term and condition yang Facebook tetapkan.

Is Facebook Suffered because of the Scandal?

Karena Facebook adalah perusahaan publik, dampaknya datang dari pasar saham. Semenjak skandal ini terkuak, harga saham Facebook terkoreksi sampai 18%. Nilai ini setara dengan $80 milliar market value. Bukan cuma itu, saham-saham teknologi yang tercatat di NASDAQ juga turun sampai 6%.

Nampaknya, skandal Facebook ini mempengaruhi kepercayaan masyarakat soal keamanan data-data pribadi mereka di layanan online yang lain.

How does Mark Respond to that Scandal?

Skandal “kebocoran data” Facebook membuat regulator merasa perlu meminta keterangan dari Mark Zuckergerg selaku CEO. Kanda Fajar engga akan bicara banyak disini karena kamu lebih baik nonton sendiri aja bagaimana Zuckerberg merespon pertanyaan-pertanyaan dari regulator.

Dari video diatas, kelihatan kan kalau orang-orang dewan di Amerika Serikat sana punya pengetahuan yang dangkal soal internet dan tetek bengeknya. wkwk.

Categories: Tech

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.