Buat yang belum tahu, IPO itu istilah dalam dunia investasi dimana sebuah perusahaan memutuskan untuk menjual sahamnya di bursa saham. IPO punya kepanjangan Initial Public Offering, itu artinya, dengan IPO, setiap orang yang punya duit tentu saja, bisa ambil bagian sebagai pemilik perusahaan.

Nah, khusus buat startup, IPO sering dianggap sebagai exit strategy. Kenapa namanya exit? Itu karena pas IPO, saham-saham yang dimiliki investor sebelumnya akan terbang tinggi.

Masih belum paham? Jadi gini, dalam ekosistem startup manapun, si founder ini belum tentu pihak yang punya uang. Si founder bisa aja cuma punya ide revolusioner yang bisa mengubah dunia tapi dia terlalu bokek buat mewujudkannya. Solusinya adalah dia mencoba menawarkan ide itu pada angle investor atau venture capitalist untuk didanai. Uang dari investor itu tentu engga mungkin gratis dong. Uang itu ditukar dengan saham aka sebagian kepemilikan dari startup. Ini win-win solution, founder dapat uang, investor dapat perusahaan. Semua senang.

Terus, saat startup makin berkembang, tentu butuh dana lebih banyak lagi, dong ya. IPO adalah jalan keluar yang memungkinkan, andai kata tidak ada investor baru yang mau masukin duit lagi. Karena apa? Karena valuasinya udah terlalu mahal.

Dengan mengerti konsep itu, kamu akan paham kenapa startup-startup berikut ini amat sangat ditunggu IPO-nya. Alasannya jelas karena potensi keuntungannya besar! Siapa yang engga mau ambil bagian coba.

Spotify

Streaming musik via spotify.com

Siapa anak jaman now yang engga tau dan engga pernah pakai Spotify? Sungguh terlalu kalau ada.

Proyek IPO Spotify adalah salah satu yang ditunggu pelaku pasar dunia, terutama di Amerika sana. Walaupun berasal dari Swedia, penggunanya cukup banyak di Amerika dan Asia. Makanya kalau urusan streaming musik, Spotify adalah juaranya.

Di tahun 2016 kemarin, Spotify berhasil membukukan keuntungan sebesar $3.27 billion. Ditambah dengan ekosistem yang terdiri dari 60 juta streamer, IPO Spotify adalah berita besar di dunia IT global.

FYI, banyak analyst yang memprediksi kalau Spotify nantinya akan bernilai $20billion setelah IPO!

Dropbox

Cloud Storage via qz.com

Berita IPO-nya Dropbox sebenarnya udah terdengar dari beberapa tahun belakangan. Tapi di tahun 2018 inilah proyeknya akan jadi kenyataan.

Buat yang belum tahu, Dropbox adalah salah satu pemain awal dari solusi cloud storage. Jauh lebih awal dari Google Drive-nya Google atau OneDrive-nya Microsoft.

Dengan basis dari sekitar 200 ribu pengguna premium plus hampir seluruh perusahaan tercatat di daftar Fortune 500, IPO-nya Dropbox seakan menyiratkan keuntungan yang masif di masa depan.

FYI, Dropbox kabarnya udah meng-hire Goldman Sachs sebagai advisor. Artinya, besar kemungkinan kalau IPO emang akan terjadi dalam waktu dekat.

DocuSign

Pengelola signature dokumen via quadient.com

Dibanding dua perusahaan diatas, DocuSign mungkin masih asing telinga kamu. Tapi buat para professional, engga pernah dengar DocuSign artinya posisi kamu, sorry to say, masih rendahan karena engga pernah berurusan sama kontrak.

DocuSign adalah layanan untuk mengelola digital document dan digital signature. Layanan ini jadi penting karena document-document yang sifatnya sensitif cenderung rahasia harus bisa diidentifikasi keaslian dokumen dan pengirimnya. Proses identifikasi inilah yang perlu bantuan dari DocuSign.

Dengan valuasi sekarang yang berkisar di angka $3 billion, dengan IPO, DocuSign berpotensi punya dana lebih untuk mendorong keuntungan jadi of $100 million.

Lyft

Taksi online via latimes.com

Lyft punya layanan yang mirip banget sama Uber tanpa si kontroversial Travis Kalanick. Startup ini lah penantang serius Uber khususnya di pasar Amerika Utara. Saking populernya, kalau kamu jeli, banyak film-film Hollywood jaman sekarang yang menyebut Lfyt daripada Uber dalam scene-scen-nya.

September kemarin, Lfyt baru aja mendapat pendanaan baru sebesar $1 billion dari venture capital yang dikomandani Alphabet Inc (induknya Google). Tapi hal itu tentu bukan alasan untuk engga IPO. Dengan berbagai kesialan yang memayungi Uber, market share Lyft diperkirakan bisa naik mencapai 61% di Amerika. Dan kalau memang benar Lyft akan IPO tahun ini, investor Amerika pasti engga ragu buat beli.

Xiaomi

Produsen HP Cina via xiaomigeek.com

Mirip sama Dropbox, sudah sejak lama Xiaomi mengungkapkan keinginannya buat IPO. Sayang, lemahnya penjualan beberapa tahun belakangan menurunkan kepercayaan diri Xiaomi buat IPO.

Walaupun begitu, penjualan Xiaomi naik signifikan, sekitar 18%, di tahun 2017 kemarin. Hal ini cukup menjadi alasan kenapa rencana IPO Xiaomi mengemuka lagi. Menurut hitungan para Analyst, Xiaomi bisa menghasilkan  profit $2 billion di 2018. Plus ditambah IPO, kalau jadi terlaksana, valuasi produsen smartphone ini bisa tembus $100 billion. Ehmm…. The next Alibaba?

Bonus: Go-Jek

Ojek Online via ceritapadang.com

Bersama Traveloka dan Tokopedia, Go-Jek adalah salah satu dari sekian banyak startup yang menyandang status sebagai Unicorn atau bervaluasi sekitar $1 billion. Dan dengan valuasi segede itu di Indonesia, Go-Jek bisa komoditi panas di pasar saham. Makanya, banyak banget orang yang pengen Go-Jek ini IPO.

Lama-lama, CEO Go-Jek Nadiem Makarim pun luluh. Walaupun begitu, Nadiem belum memutuskan kapan prosesnya akan dimulai. Besar kemungkinan bukan di tahun 2018 ini atau tahun depan. Pihaknya masih akan mengkaji lebih dulu sebelum benar-benar memutuskan.

Yah, memutuskan untuk IPO itu emang bukan perkara gampang. Banyak banget yang harus dipertimbangkan. Banyak emang startup yang IPO dan sukses, Facebook contohnya. Tapi lebih banyak lagi yang IPO dan harga sahamnya malah nge-drop. Kan repot, ya.

Categories: Tech

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.