Alasan-Alasan Kenapa Bertambahnya Utang Negara Adalah Hal Bagus

utang luar negeri indonesia

Apa yang ada dipikiranmu kalau dengar kata “UTANG”?

Sesuatu yang negatif atau positif?

Kata “Utang” punya image yang negatif di mata orang Indonesia. Utang memang biasanya identik dengan situasi kepepet, miskin, bunga yang mencikik. Kanda Fajar sendiri sebenarnya juga gitu. Kanda Fajar agak parno sama kata-kata utang. Kanda Fajar termasuk orang yang pantang berutang sebenarnya. Tapi, Kanda Fajar punya pengalaman yang cukup banyak dengan orang-orang yang butuh membutuhkan (utang).

Ijinkan Kanda Fajar sedikit curhat disini. Cukup banyak teman-teman Kanda Fajar yang menghubungi Kanda Fajar kalau mereka sedang kesulitan keuangan. Disini, Kanda Fajar bukan mau sombong dan bilang Kanda Fajar orang kaya. Tapi lebih kepada karena Kanda Fajar bisa mengatur keuangan pribadi dengan lebih baik. Jadi, Kanda Fajar terbilang bebas dari budaya kantong kering akhir bulan khas anak kosan. Masalahnya, banyak teman-teman yang tahu hal ini.

Makanya, mereka menganggap Kanda Fajar sebagai penolong. Yap, mereka minta utang dari Kanda Fajar. Karena Kanda Fajar orangnya baik hati dan engga tegaan, Kanda Fajar biarin lah mereka berutang. Dan tanpa bunga dan tanpa fee tambahan.

Untuk jenis utang seperti ini, posisinya justru menguntungkan si peminjam atau borrower. Tapi di dunia nyata, hampir semua utang memberatkan si peminjam dan menguntungkan si pemilik modal.

Yang menyakitkan dari utang adalah bunga atau interest-nya. Tidak jarang bunga ini sangat mencekik karena perbandingan total bunga dan modalnya bisa sampai 2:1 atau 3:1. Makanya, stigma orang Indonesia terhadap utang sangat jelek. Makanya, ketika ada kabar bahwa utang luar negeri Indonesia membengkak, rakyat meradang dan mempertanyakan keputusan pemerintah. Mereka menganggap bahwa negara kita ini lebih baik tanpa utang.

Sayangnya, hal itu jauh dari harapan.

Dari kabar dari CNN diatas, Utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal satu 2017 berada di posisi 326,3 Miliar Dolar Amerika. Nilai tersebut justru tumbuh 2, 9% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Loh, ini gimana sih? Bukannya dikurangin kok malah ditambah?

Ini memang agak aneh. Ini sangat tidak sesuai dengan janji kampanye pemerintahan saat ini yang katanya bakal meminimalkan utang.

janji kampanye
Janji Jokowi-Hatta via lingkarannews.com

Bukannya dikurangin, malahan sepanjang 2 setengah tahun terakhir, pemerintah telah menambah utang sebesar Rp. 1067,4 Triliun.

Tapi terus terang, Kanda Fajar menilai utang segitu banyak tidak sebagai hal yang buruk. Malahan, nilai itu cukup masuk akal menurut penilaian pribadi Kanda Fajar.

Kenapa? Berikut beberapa alasannya.

Utang = Leverage

Mari kita telaah pengertian utang terlebih dahulu.

Dalam ilmu manajemen keunangan, utang seringkali juga disebut sebagai leverage atau daya ungkit.

Kenapa disebut demikian?

Karena utang bisa membuat kita melakukan sesuatu yang awalnya tidak bisa kita lakukan. Misalnya, kalau kamu mau bikin bisnis jual beli jam tangan secara online. Karena kamu masih mahasiswa, otomatis modalmu sedikit. Buat kebanyakan orang, situasi ini berarti untuk mengubur impian sebagai pebisnis online.

Tapi bayangkan kalau kamu berhutang sejumlah uang pada orang tua atau teman? Bisa jadi bisnis online kamu bisa berkembang dan bertumbuh pesat.

Bukan cuma itu, dalam lingkup mikro ekonomi yang sebenarnya, utang yang sering disebut juga kredit, sering disalurkan kepada UKM-UKM. Dan yang seperti kita tahu, mereka penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto saat ini.

Utang Luar Negeri Mem-boost Infrastruktur

Setelah Kanda Fajar cek diberbagai sumber, ada alasan kuat dibalik membengkaknya utang luar negeri Indonesia. Hal itu adalah memperbaiki infrastruktur nasional yang sudah jauh tertinggal bahkan diantara negara-negara ASEAN.

Menurut artikel Bloomberg yang berjudul Battle for 261 Million Wallets Grips China’s Online Shopping Giants, pasar e-commerce Indonesia akan bernilai 261 juta dollar Amerika di masa depan. Sayangnya, nilai itu cuma bisa tercapai jika saja Indonesia bisa memperbaiki infrastruktur darat, laut dan udaranya.

Menurut artikel itu juga, biaya pengiriman truk bermuatan 2 ton di sekitar pulau Jawa adalah sebesar 5.1 juta Rupiah. Saat pengiriman ke luar pulau seperti Sulawesi, biayanya menjadi 3 kali lipat.

Masalah bukan cuma soal biaya, tapi juga waktu. Di Amerika Serikat, Amazon sudah mulai mengujicoba pengiriman logistik yang cuma butuh waktu 1 hari ke semua negara bagian. Sedangkan, masyarakat Indonesia masih berkutat dengan lama pengiriman 1 sampai 2 minggu.

Dari video penjelasan diatas juga dijelaskan kalau seiring bertambahnya utang, alokasi dana buat infrastruktur dan pendidikan juga bertambah. Artinya, utang tadi digunakan untuk kegiatan-kegiatan produktif yang baru akan memberi return 5-10 tahun kedepan.

Berefek Cukup Kecil Pada GDP

Informasi ini baru Kanda Fajar dapatkan lewat website resmi Bank Indonesia.

Dengan judul Utang Luar Negeri Indonesia Tetap Terkendali, disitu dijelaskan kalau utang yang terlihat besar secara nilai tadi ternyata cukup stabil secara presentase.

Kontribusi terbesar utang ada di sektor publik. Pada akhir triwulan I 2017, posisi Utang Luar Negeri sektor publik tercatat sebesar USD166,5 miliar (51,0% dari total ULN). Sementara itu, posisi ULN sektor swasta tercatat sebesar USD159,9 miliar (49,0% dari total ULN). Dari kedua nilai tadi, rasio utang Indonesia terhadap GDP sampai akhir triwulan I 2017 tercatat relatif stabil di kisaran 34% sebagaimana pada akhir triwulan IV 2016. Tapi, nilai tersebut cenderung menurun jika dibandingkan dengan triwulan I 2016 yang sebesar 37%.

Artinya, perekenomian kita sebenarnya tidak terlalu bergantung dengan utang. Komponen terbesar masih dipegang konsumsi rumah tangga dan ekspor komoditas.

Jadi intinya, daripada ribut soal utang yang membengkak, lebih baik arahkan fokus dan tenaga ke program-program pembangunan yang bisa berdampak bagi kemaslahatan umat.

Betul tidak?

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *