Kehidupan setelah kematian emang engga ada yang tahu. Apakah kita akan langsung ke surga atau gimana, kita juag engga tahu. Yang perlu kita lakukan adalah menjadi orang baik di dunia supaya karma di akhiratnya baik.

Loh, kok jadi ngomongin akhirat-akhirat segala?

Semua ini salah film Along with the Gods: The Two Worlds. Kanda Fajar baru aja nonton film ini dan amazed banget sama ceritanya. Dan ternyata bukan Kanda Fajar doang. Di negara asalnya, film ini juga berhasil memukau lebih dari 4,7 juta orang!

Engga percaya, baca aja blog post ini.

Sinopsis

Film ini berpusat pada satu orang karakter bernama Kim Ja Hong. Dia ini seorang pemadam kebakaran dan sayangnya harus mati saat bertugas. Nyawanya lalu dipaksa pergi dari dunia orang hidup ke dunia orang mati oleh 3 orang guardian; Hewonmak, Deok Choon dan Gang Iim. Mereka bertiga ini punya tugas untuk mengantar 49 nyawa untuk bereinkarnasi dalam 100 tahun. Kalau berhasil, mereka bisa hidup lagi menjadi siapapun yang mereka inginkan.

Untuk setipa nyawa, Hewonmak, Deok Choon dan Gang Iim ditugaskan untuk “mengawal” para arwah supaya bisa melewati 7 pengadilan neraka. Untuk kasus Kim Ja Hong, tugas mereka sepertinya akan lebih gampang karena dia tergolong sebagai “paragon” atau “arwah mulia” Jelas lah, la wong dia matinya pas nyelamatin anak kecil yang terjebak di gedung yang terbakar.

Jadi aarwah yang mulia via scmp.com

Bersama 3 guardian-nya, Kim Ja Hong berhasil melewati pengadilan: trial of betrayal, violence, murder, indolence, deceit, justice, injustice dan filial impiety. Tapi urutannya bisa beda-beda, tergantung dosanya si arwah. Untuk kasus Kim Ja Hong, dosa terringannya adalah pembunuhan dan dosa terbesarnya adalah engga nurut sama orang tua (filial impiety). Nah tugasnya Hewonmak, Deok Choon dan Gang Iim disini adalah sebagai pengacaranya si Kim Ja Hong. Mereka akan berargumen mmembantu Kim Ja Hong di pengadilan neraka.

Trial of murder dan indolence bisa dilalui dengan sukses. Tapi Kim Ja Hong seakan ingin mengacaukannya. Dia engga mau berreinkarnasi. Setelah tahu bahwa nyawa yang reinkarnasi punya privilege buat bertemu orang yang masih hidup, barulah Kim Ja Hong mulai nurut. Setelah Kim Ja Hong mulai bisa diajak bekerja sama, giliran dunia arwah yang mulai kacau. Waktu jadi semakin cepat berlalu dan hewan-hewan menjadi liar. Akar masalahnya adalah ada salah satu anggota keluarga Kim Ja Hong yang jadi arwah penasaran. Supaya keadaan tidak jadi lebih buruk, Gang Iim memutuskan untuk pergi ke dunia orang hidup untuk memastikan apa yang terjadi.

Benar saja, Gang Iim mendapati bahwa adik Kim Ja Hong, Kim Su Hong sudah mati selama wajib militer. Kematiannya ini tidak wajar. Salah satu temannya, Won Il-Byung, tidak sengaja menembaknya. Dia kehilangan banyak darah tapi masih hidup. Tapi Lieutenant Park mengira Kim Ja Hong sudah mati dan menguburnya hidup-hidup. Ibu Su Hong tidak tahu soal ini. Yang dia tahu adalah anaknya kabur dari base camp.

Guardian Angel via nytimes.com

Kim Su Hong lalu menjadi arwah penasaran yang menuntut pembalasan dendam. Tapi bukan kepada Won Il-Byung, tapi kepada Lieutenant Park. Terlebih lagi setelah Kim Su Hong melihat bagaiman perlakuan kasar si letnan pada ibunya, Kim Su Hong mengamuk dan menyebabkan kekacauan di dunia orang hidup dan di dunia orang mati. Beruntung Hewonmak dan Gang Iim berhasil menghentikan amukan Kim Su Hong dan membuatnya tenang.

Kembali ke Kim Ja Hong, pengadilan terakhir adalah pengadilan penentuan buatnya. Setelah berhasil melewati 5 pengadilan tanpa hambatan berarti, di pengadilan ke-6, trial of violence, Kim Ja Hong mulai terdesak. Semasa hidup dia ternyata pernah memukul orang habis-habisan. Parahnya, lagi korbannya adalah Kim Su Hong, adiknya sendiri. Sebagai satu-satunya solusi, Gang Iim akhirnya meminta supaya pengadilan ke-6 dan ke-7 digabung.

Pengadilan ke-7 adalah trial of filial impiety. Masalahnya adalah disini terungkap bahwa sebelum Kim Ja Hong berkelahi dengan adiknya, dia terlebih dulu berniat untuk membunuh ibunya!

Suasana pengadilan di neraka via hancinema.net

Kim Ja Hong sudah tidak tahan dengans semua kemalangan hidup. Ibu dan adik yang sakit-sakitan, masalah itu terlalu berat ditanggung Kim Ja Hong yang saat itu baru lulus SMA. Karena merasa bersalah, Kim Ja Hong akhirnya kabur dari rumah selama 15 tahun sebelum akhirnya meninggal. Sesaat sebelum putusan dijatuhkan oleh King Yeomra, terungkap fakta bahwa selama ini, ibunya tahu setiap detil kejadian yang terjadi. Ibunya tahu kalau anak-anaknya berkelahi karena Kim Ja Hong ingin membunuhnya. Ibunya tahu tapi dia pasrah saja karena dia pikir kematiannya akan membuat kehidupan anak-anaknya lebih baik. Dan yang lebih penting, ibunya sudah memaafkan kesalahan Kim Ja Hong dimasa lalu sehingga Kim Ja Hong bisa bereinkarnasi.

Impression

Menurut Kanda Fajar, Along with The Gods adalah film Korea terbaik setelah Train to Busan. Ceritanya engga monoton. Karakter-karakternya, termasuk karakter pendukung, punya peran yang sama pentingnya. Gaya penceritaannya nge-twist banget dibagian akhir. Not to mention, kemampuan film ini untuk bisa menyatukan humor dengan air mata. Keren deh.

Durasinya emang lumayan lama, 2 Jam 19 menit. Tapi sepanjang durasi, tidak ada part yang membosankan. Panjangnya durasi justru malah membuat penonton makin “terperangkap” ke twisted ending-nya.

Terkhusus dibagian endingnya, Kanda Fajar sampai menitikkan air mata saking sedih dan relate-nya cerita Along with The Gods sama kehidupan sehari-hari. Kadang, kesalah terbesar kita itu bukan sama orang lain, tapi justru sama keluarga sendiri, terutama orang tua. Ngeliat ibunya Kim Ja Hong rela “dibunuh” anaknya sendiri jadi teringat gimana sayangnya orang tua sama anaknya. Mereka rela ngelakuin apapun, bahkan mengorbankan nyawa supaya anak-anaknya bisa bahagia.

Akhir kata, lewat Along with The Gods, Kanda Fajar diingatkan bahwa setiap perbuatan kita semasa hidup akan menjadi bahan penghakiman di akhirat nanti. Ingat, karma itu benaran ada, lo.

Categories: Movie

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.