Apple Katakan Selamat Tinggal Pada Internet Cepat

Tidak ada yang meragukan kemampuan Apple dalam “meracik” smartphone yang keren, fungsional tapi juga berkualitas. Kanda Fajar menggunakan tanda kutip di kata “maracik” karena kata ini adalah kata kunci dari bisnis Apple yang luar biasa besar itu.

“Meracik” karena Apple tidak pernah membuat sendiri komponen-komponen dalam iPhone, iPad dan apapun produk yang Apple ciptakan. Secara sederhana, Apple cuma mengorder komponen yang dia butuhkan dari supplier, lalu menyuruh supplier lain untuk merakit semua komponen itu jadi satu. Setelah sukses jadi iPhone, barulah Apple menjual smartphone-nya pada kita-kita si Apple fanboy/fangirl.

Yup. Di mata Kanda Fajar, Apple sukses bukan karena kualitas produk buatannya tapi karena kemampuannya menghandle jumlah supplier-nya buanyakk banget.

Get to Know who Really Build an iPhone

Apple konon punya sekitar 200 lebih supplier komponen yang tersebar di seluruh dunia. Dengan kata lain, rantai pasokannya luar biasa besar dan kompleks. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa lihat list berikut.

  • Accelerometer: Bosch in Germany. Invensense in the United States.
  • Audio Chipsets and Codec: Cirrus Logic in the United States
  • Baseband processor: Qualcomm in the United States
  • Batteries: Samsung in South Korea. Huizhou Desay Battery in China.
  • Cameras: Sony in Japan. OmniVision in the United States
  • Chipsets and Processors: Samsung in South Korea and TSMC in Taiwan, GlobalFoundries in the United States.
  • Controller Chips: PMC Sierra and Broadcom Corp in the United States (outsourced for manufacturing).
  • Display: Japan Display and Sharp in Japan. LG Display in South Korea.
  • DRAM: TSMC in Taiwan. SK Hynix in South Korea.
  • Flash memory: Toshiba in Japan and Samsung in South Korea.
  • Inductor coils (audio): TDK in Japan.
  • Plastic Constructions (for the iPhone 5c): Hi-P and Green Point in Singapore.
  • Radio Frequency Modules: Win Semiconductors (module manufacturers Avago and RF Micro Devices) in Taiwan. Avago technologies and TriQuint Semiconductor in the United States. Qualcomm in the United States for LTE connectivity.
  • Semiconductors: Texas Instruments, Fairchild and Maxim Integrated in the United States.
  • Touch ID sensor: TSMC and Xintec in Taiwan.

Banyak banget, kan?

Nah, komponen-komponen itu nantinya akan dimanufaktur sama Foxconn dan Pegatron asal China. Jadi kalau kamu masih meragukan kualitas smartphone China, selalu ingat kalau iPhone pun ternyata juga produk China.

Walaupun begitu, proses design produksi, software, pengembangan produk, marketing dll tetap dilakukan secara in-house di markas Apple di Amerika Serikat.

Note: daftar diatas adalah asal beberapa komponen dari iPhone 5s dan the iPhone 6. Untuk iPhone setelahnya, tentu list-nya akan bertambah panjang.

Apple v its Suppliers

perseteruan tiada akhir via pinterest.com

Sebagai perusahaan besar, wajar kalau Apple punya banyak musuh dan kompetitor. Termasuk musuh dalam selimut.

Musuh-musuh Apple ini biasanya tidak akan berhadapan secara langsung. Tentu karena market share-nya yang susah banget direbut. Makanya, mereka menggunakan jalur hukum buat memperlambat kelincahan Apple.

Sampai sekarang sudah ada beberapa supplier utama yang bertarung dengan Apple diatas meja hijau. Tercatat, Samsung adalah yang lawan yang paling sering Apple hadapi di pengadilan. Status sebagai rekan kerja tidak menghalangi Apple dan Samsung untuk saling melaporkan pelanggaran hak cipta.

Musuh dalam selimut Apple mungkin akan bertambah satu lagi dalam diri Qualcomm. Dari daftar diatas, kamu bisa tahu kalau Qualcomm adalah supplier produsen Baseband processor yang berfungsi untuk menangkap sinyal 2G sampai 4G.

Apple v Qualcomm: Perang Karena Barang Murah

Subjudul ini tidak dibuat sembarangan. Faktanya, kedua perusahaan ini memang saling berselisih paham cuma gara-gara Baseband processor yang harga per satuannya $18.

Qualcomm adalah tipikal perusahaan yang intangible asset-nya besar. Bloomberg mencatat ada sekitar 130,000 paten di portfolionya. Salah satunya tentu adalah Baseband processor tadi.

sederhananya sih gini via marketrealist.com

Qualcomm lalu ambil untung bukan dari harga per satuan produknya, tapi dari royalty fee. Setiap ada smartphone memakai paten atau produk dari Qualcomm, perusahaan akan mendapat 5% dari harga jual smartphone. Produsen-produsen smartphone lain bahkan menyebut fee ini sebagai “Qualcomm’s tax.”

Harga iPhone jelas sesuai dengan kriteria itu. Makanya, Apple wajib bayar sekitar $30 per iPhone. Apple menganggap harga segitu kemahalan dan meminta harganya didiskon jadi $10 aja per smartphone. Qualcomm tetap menolak.

Tidak habis akal, Apple mencoba untuk “mengganggu” Qualcomm lewat pasar saham. Apple melayangkan tuntutan hukum yang bakal mendenda Qualcomm sebanyak $1 billion plus potongan diskon besar untuk royalty fee-nya. Investor Qualcomm jelas panik dan hasilnya, perusahaan kehilangan 25% dari kapitalisasi pasarnya.

Qualcomm tetap bergeming dan bilang gini.

Apple’s game plan is to squeeze people until they finally say, ‘OK, the pressure’s too hard. I’ll just take a deal.

Perusahaan ini malah kemudian menyerang balik dengan tuduhan bahwa Apple membantu Intel  dan menyalahgunakan lisensi yang sudah mereka beli.

Why Qualcomm is So Confident

Tidak banyak perusahaan yang mau dan mampu melawan balik kedigdayaan Apple. Samsung adalah pengecualian kerena mereka adalah produsen sekaligus supplier komponen. Jadi wajar aja kalau Samsung punya sumber daya yang cukup untuk head-to-head sama Apple.

Jangan salah, Qualcomm punya posisi tawar yang tinggi, lo. Jelas saja, soalnya Qualcomm adalah pemimpin pasar dengan deretan paten teknologi yang masih belum mampu disaingi perusahaan lain di industry wireless.

Qualcomm udah 5G aja via ubergizmo.com

Asal kamu tahu, sinyal seluler yang diterima smartphone kamu ini cara kerjanya ribet parah. Perusahaan telekomunikasi macam XL, Telkomsel, Indosat dll, pada dasarnya mendapat jatah spektrum dari pemerintah. Spektrum ini sendiri mengacu sama gelombang elektromagnetik. Di pelajaran sekolah dulu, gelombang elektromagnetik dibagi jadi microwave, X-ray, ultra violet dll. Nah, spektrum yang berguna buat telekomunikasi itu adalah spektrum radio.

Spektrum radio ini nanti dibagi lagi jadi Channel. Channel inilah yang nantinya diakses sama smartphone yang kamu genggam sekarang. Sayangnya, satu smartphone cuma boleh mengakses 1 channel saja.

Dulu, perusahaan seluler kayak XL dan Telkomsel mengakali keterbatasan ini dengan mengirim sinyal yang ukurannya kecil tapi jeda waktunya dekat. Sederhananya, XL atau Telkomsel akan “menembakkan” semacam sinyal ke semua channel dengan jeda waktu kurang dari 1 milisecond. Sistem ini bekerja dengan cukup baik tapi sangat ditidak efisien.

Qualcomm punya cara yang lebih baik. Sinyal yang dikirimkan bisa “ditembakkan” ke beberapa sinyal sekaligus, tapi sinyalnya diberi kode supaya tidak tertukar. Sistem ini mempercepat transmisi data sampai 5 kali lipat dari sistem yang sudah disebut pertama. Teknologi inilah yang disebut CDMA dan menjadi cikal bakal 3G (dan tentu generasi setelahnya) yang kita pakai sekarang ini.

Makanya, smartphone sekarang hampir mustahil dipasarkan tanpa adanya teknologi CDMA Qualcomm didalamnya. Kalaupun ada, pastilah smartphone itu punya koneksi seluler dan internet yang lemot. Dan di jaman sekarang siapa sih yang engga butuh koneksi kenceng??

Apple Has Solution: Build it In-House

Solusi ini sebenarnya klise banget. Kalau supplier kamu mulai ngelunjak, bikin aja barangnya sendiri.

Siapa yang bakal menang di pengadilan via techjuice.pk

Ini persis yang ada di kepala para petinggi Apple. Walaupun belum ada informasi resmi, konon kabarnya, Apple sudah mulai “hunting” engineer-engineer top untuk bikin broadband processor sendiri. Apple juga menggandeng Intel untuk coba-coba mengejar Qualcomm.

Dengan situasi kayak gini, engga salah juga kalau kita menduga iPhone buatan tahun 2018 tidak akan lagi merasakan internet cepat.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *