Bad Genius: Questioning the Moral of Cheating in Exam

Kanda Fajar yakin dari sejak pertama manusia mengenal ujian, saat itulah budaya nyontek mulai terlahir. Dari kecil juga kita diajarkan bahwa nyontek itu perbuatan yang salah, buruk dan tercela. Dulu bahkan Kanda Fajar merasa sangat berdosa kalau nyontek, walaupun engga ketahuan. Makin dewasa, pikiran Kanda Fajar makin kritis. Kanda Fajar mulai mengkritisi berbagai hal yang tidak perlu, termasuk soal nyontek. Apakah bisa menyontek disamakan dengan korupsi? Apakah orang-orang yang ketahuan nyontek itu harus terbuang ke dasar sistem sosial terbawah? Atau apakah pemberi contekan harus selalu menjadi yang terdakwa? Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan sangat keren oleh film Thailand yang berjudul Bad Genius. Kalau kamu belum pernah nonton film ini, segeralah sediakan waktu selama 2 jam untuk mendapat tontonan berkelas yang akan membuatmu memikirkan kembali soal moralitas dari menyontek.

Sinopsis

Cerita film ini berpusat pada sosok gadis yang luar biasa cerdas bernama Lynn. Dia ini anak baru gitu ceritanya. And unsurprisingly, dia anak beasiswa. Bahkan dia pun dapat uang makan.

Di hari pertama sekolah, dia berteman baik sama Grace. Waktu berlalu cepat hingga tidak terasa udah saatnya ujian. Buat Lynn, soal ujiannya cetek abis. Waktu masih sisa setengah jam, dia udah selesai. Beda banget sama Grace. Walaupun soalnya sama persis sama yang diajarin Lynn kemarin, Grace dengan gampangnya melupakan semuanya. Sebagai teman baik, Lynn tidak tega dan memberikan contekan lewat penghapus.

Proses memberikan contekannya tegang abis. Lynn awalnya masukkin jawabannya di balik penghapus. Penghapusnya ditaruh di sepatunya. Lalu dia mendorong sepatunya dengan hati-hati ke belakang setelah guru pengawas yang berpatroli memunggunginya.

Setelah mengambil penghapus dari dalam sepatu, Grace dengan ceroboh mendorong sepatu itu terlalu keras. Hasilnya, sepatu Lynn sampai ke tengah-tengah kelas. Berhubung dia udah selesai, dan tentu supaya tidak tertangkap tangan, Lynn maju ke depan bersiap mengumpulkan soal dan dan jawaban tepat saat guru pengawas duduk kembali di kursinya.

Seperti yang diduga, Lynn dapat IPK 4.00 dan Grace dapat 3.87. Nyebelinnya Grace adalah dia memberi tau pacarnya, Pat, soal contekan dari Lynn. Pat ini tipikal anak orang kaya banget yang males belajar. Jadilah dia mengajak Lynn bekerja sama. 1,2 juta per mata pelajara per kepala. Yap, Pat juga mengajak 5 orang temannya yang lain. 96 juta untuk satu semester? tidak buruk juga untuk seorang anak SMA, kan? Begitu mungkin pikirnya.

Awalnya dia tidak mau tapi himpitan ekonomi memaksanya untuk berlaku kebalikannya. Lynn akhirnya mau memberi contekan ke Grace, Pat dan teman-temannya. Pertanyaan penting selanjutnya adalah bagaimana dia memberi tahu jawabannya? Terpikirlah dia soal kode piano.

Jadi gini, setiap jawaban akan A, B, C dan D akan diwakili oleh kode lagu yang berbeda. Lynn juga menciptakan skema unik yang membuat Grace dan teman-temannya menjawab dari belakang tepat saat jam 9.15 pagi.

dua anak cerdas Thailand via variety.com

Skema unik ini berhasil mengelabui pengawas ujian dengan brilliant. Setelahnya, Lynn mulai keblinger dan malah membuka “kursus bermain piano” di rumahnya. Kursus ini tentu mampu menarik banyak peminat dan pundi-pundi rekening pun gemuk dengan sendirinya.

Setelah berjalan cukup lama, bisnis contekan Lynn mulai goyah. Sebabnya adalah kedatangan seorang murid baru yang tidak kalah cerdas bernama Bank. Mereka berdua sebenarnya bukan musuh cuma karena keputusan kepala sekolah, mau tidak mau Bank dan Lynn harus bersaing ketat. Yap, sekolah akan merekomendasikan salah satu dari mereka untuk mendapat beasiswa penuh ke Singapura. Walaupun begitu, bisnis Lynn tetap berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

Lalu tiba saatnya ujian semester. Semakin banyak anak yang mengadu nasib mereka pada Lynn, termasuk teman Bank, Tong. Dia memaksa Bank untuk membiarkan dia menyontek tapi Bank menolak dengan tegas. Jadilah, Tong kembali ke Lynn.

Waktu ujian pun tiba. Baru setengah jam, Tong udah gelisah. Dia makin panik karena tau ada dua set soal yang disediakan. Lynn pun baru menyadari hal ini setengah jam sebelum bubar. Jadilah dia berpacu dengan waktu untuk menjawab soal dan memberikan pelayanan terbaik buat para kliennya. Dan benar saja, para klien Lynn mendapat nilai bagus saat itu.

Satu hal yang tidak dia perkirakan adalah Bank melapor pada kepala sekolah kalau (masukkan nama) menyontek jawaban Lynn. Guru pengawas bersikeras kalau kegiatan menyontek itu mustahil karena ada dua set soal berbeda yang disediakan. Sayang, kepala sekolah menemukan hal yang aneh. Di kertas coretan Lynn, terdapat coret-coretan soal yang tidak seharusnya ada di set soal Lynn. Kali ini dia tidak bisa mengelak. Ayah Lynn dipanggil ke ruang kepala sekolah dan dia tidak menyangka kalau anaknya melakukan hal yang tidak terpuji. Belum berhenti sampai disitu, sebagai hukuman, Lynn tidak diijinkan mengikuti beasiswa ke Singapura.

Lynn jadi marah banget sama Bank. Dia berpikir kalau Bank sengaja melapor untuk menyingkirkan Lynn dari perburuan beasiswa ke Singapura. Disisi lain, Pat dan Grace ditantang orang tua mereka untuk melanjutkan sekolah ke Boston University. Masalahnya adalah mereka perlu lulus ujian STIC yang susah banget itu. Jadilah mereka meminta bantuan Lynn sekali lagi.

cikal bakal the master of cheating via nerdist.com

Lynn dengan tegas menolak, pada awalnya. Lama-lama dia berpikir kalau dia bisa saja melanjutkan kuliah dengan bayaran yang dia terima dari para kliennya. Akhirnya Lynn menyanggupi permintaan Pat dan Grace asalkan mereka bisa mendapat klien cukup banyak.

Lynn lalu menyusun rencana. Dia pertama-tama akan melakukan ujian duluan di Sydney yang punya perbedaan waktu 4 jam dengan Thailand. Setelah selesai, dia akan mengirim jawaban ke Pat dan Grace lewat Line. Mereka berdua lalu akan mencetaknya jadi barcode dan ditempel ke pensil yang akan dibawa masuk ke ruang ujian. Kekurangannya cuma satu, dia tidak mampu menghafal semua jawaban dengan tepat. Lynn butuh seorang lagi yang sama pintarnya. Yup, orang itu adalah Bank.

Beruntung buat mereka, Bank yang sudah gagal mendapat beasiswa tertarik dengan uang hasil menjual jawaban. Dibalik kegagalan Bank, sebenarnya ada akal bulus Pat. Dia membuat Bank gagal ikut ujian. Mendengar pengakuan ini, tentu saja Bank marah besar. Lynn yang tidak tahu menahu soal ini pun marah dan kecewa sama Pat dan Grace. Tapi, akal sehat Bank rupanya masih bekerja. Daripada gagal ujian dan tidak mendapat apa-apa lebih baik dia mengambil uang yang udah jadi bagiannya. Jadilah mereka pergi ke Sydney berdua buat ujian.

kejar-kejaran (hampir) mirip Now You See Me via filmlinc.org

Di ruang ujian, dua sesi diselesaikan dengan mudah oleh mereka. Walaupun khawatir, mereka berdua berhasil mengirim jawaban dari Sydney ke Thailand. Masuk ke sesi ketiga, pengawas mulai curiga. Bank yang lama berada dalam toilet digedor-gedor pintunya. Karena takut, Bank ketahuan memberikan contekan saat ujian. Lynn pun sebenarnya hampir ketahuan tapi tetap bisa menyelesaikan soal sampai akhir. Sayang, dia ketahuan dan harus keluar ruangan lebih cepat supaya tidak sempat tertangkap basah. Di perjalanan ke stasiun kereta, Lynn berusaha mengingat jawaban yang tadi dia tulis. Di sisi lain, pengawas ujian berwajah preman terus-terusan mengejarnya tanpa kenal lelah. Setelah berbagai drama, Lynn akhirnya menyerah, setelah dia berhasil mengirim jawaban yang lengkap ke Pat dan Grace.

Di Thailand, Pat, Grace, (masukkan nama) dan teman-teman lain bersukacita karena berhasil menjawab banyak soal dengan benar. Di Sydney, Lynn harus melihat Bank dideportasi karena perbuatannya saat ujian. Di saat itulah, Lynn sadar bahwa resiko yang dia tanggung tidak sebanding dengan uang yang dia dapat. Beberapa lama setelahnya, Lynn memilih untuk menjadi guru daripada mengambil beasiswa di luar negeri. Dia pun juga memilih untuk mengakui semua perbuatannya.

Impression

MEMUASKAN!

Kanda Fajar bisa bilang gini dengan cukup yakin karena Bad Genius simply deserve that. Film ini bisa jadi salah satu film Thailand terbaik tahun ini karena hampir disetiap sisi dikerjakan dengan baik. Film ini berhasil mempertontokan sisi menarik dari ujian tertulis yang membosankan.

planning time! via nerdist.com

Di sisi tokoh dan penokohan, tidak ada tokoh yang putih bersih disini. Bahkan Bank yang Kanda Fajar kira malaikat aja bisa jatuh juga ke dark side di penghujung durasi. Pat dan Grace, walaupun bukan karakter utama, tampil sangat realistis dan mudah disukai sekaligus dibenci. Juaranya siapa lagi kalau bukan Lynn. Selain otaknya yang juara, ekspresinya dapat banget. Dia tahu dia bisa bikin rencana yang brilliant tapi tetep deg-degan buat ngejalaninnya. Relateable banget lah buat kita-kita.

Aspek lainnya adalah Bad Genius berhasil membuat penonton tegang padahal konflik utamanya cuma nyontek. Semua orang tentu pernah nyontek, makanya kita biasa aja soal itu. Di Bad Genius nyontek dibuat sama kayak transaksi barang ilegal, sangat terencana dan harus adaptif di segala situasi.

Bad Genius brings exam-cheating activity to the whole new level. It seems to be as serious as drugs smuggling in typical Hollywood crime movies. Lynn is truly a Pablo Escobar of exams. Cool!

Is cheating wrong or just fine?

Sehabis nonton Bad Genius, tiba-tiba otak Kanda Fajar berpikir keras. Banyak pertanyaan-pertanyaan aneh berkecamuk di kepala. Semuanya bermuara pada satu pertanyaan ini: apakah salah kalau kita nyontek?

Kamu boleh apapun. Kanda Fajar tidak akan memaksakan apapun. Yang perlu kamu tahu adalah menurut Kanda Fajar pribadi, cheating is not illegal nor wrong.

Kanda Fajar engga bisa melihat alasan kuat kenapa kita engga boleh ngeliat jawaban orang lain waktu ujian, atau memberi jawaban ke orang lain yang membutuhkan. Apalagi kalau dapet komisi kayak Lynn.

the master mind of exam-cheating business via asiaone.com

Gini gini. Di masa depan nanti, kolaborasi akan lebih dikedepankan. Lalu kenapa kita repot-repot memintarkan diri sendiri dibanding menjadi pintar bersama-sama? Lagipula kenapa juga setiap ujian tidak boleh liat text book dan catatan? Toh pun nanti didunia kerja buka-buka catatan tidak dilarang. Jadi buat apa kita repot-repot menghafal kalau logika jadi tumpul?

Lewat blog post ini, Kanda Fajar juga mau mengkritik sistem pendidikan umat manusia. Di dunia ini, pendidikan yang lebih bermutu selalu identik dengan biaya yang mahal. Sistem pendidikan yang seperti ini akan menjamin bahwa pemimpin-pemimpin berpengaruh hanya akan berasal dari golongan-golongan orang kaya.

Well, kamu tentu bisa menyanggah argument ini dengan menjabarkan nama-nama orang cerdas dan berpendidikan tinggi namun berasal dari kalangan kurang mampu. Masalahnya adalah mereka ini anomali. Mereka cuma terjadi 1 dalam 10000 kali keterjadian.

Yang dilakukan Lynn, menurut Kanda Fajar, adalah bentuk keadilan. Lynn dapat duit dan klien-kliennya dapat nilai baik. Tidak ada yang dirugikan dalam situasi ini. Secara teori iya tapi secara praktik tidak semudah itu. Di dunia nyata, uang lebih powerful daripada kecerdasan. Bad Genius menampilkan hal ini dengan sangat baik.

Pat dan Grace, dua anak orang kaya dengan kemampuan otak terbatas. Mereka bisa dengan mudahnya menuntut jawaban ke Lynn dengan alasan “sudah bayar.” Mereka tidak mau tau kalau Lynn tidak bisa menyelesaikan ujian dan Bank didiskualifikasi. Kalau mereka udah transfer, berarti mereka berhak dapat nilai tinggi. As simple as that.

Sampai saat ini, tidak ada orang didunia yang mampu menyediakan kualitas pendidikan kelas A namun dengan harga kelas Z. Selama ada uang, ada kualitas pendidikan yang bisa didapat. Kalau begini terus, wajar kiranya kalau istilah ” yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” terus abadi dalam masyarakat.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *