Kalau kamu sering mantengin berita-berita finansial atau ekonomi dalam negeri, ada berita yang cukup heboh soal perbankan di Indonesia. Konon, ada salah satu bank yang me-make up laporan keuangannya menjadi lebih indah dari seharusnya. Yup, yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Bank Bukopin, yang kalau di BEI memiliki kode BBKP.

Dikutip dari Detik Finance, Bank Bukopin akan melakukan revisi laporan keuangan di tahun 2015, 2016, dan 2017. Dan bukan cuma si emiten yang akan diperiksa oleh otoritas terkait, which is BI dan OJK, tapi si auditornya juga. Untuk kasus Bank Bukopin ini, auditnya dilakukan oleh Ernst and Young Indonesia yang berafiliasi dengan Kantor Akuntan Publik (KAP) Purwantono, Sungkoro dan Surja.

Masalah Ada di Data Kartu Kredit

Pemberitaan selanjutnya datang dari CNBC Indonesia. Oleh media bisnis ini, masalah Bank Bukopin ini terletak pada modifikasi data kartu kredit. Hal ini sudah terjadi cukup lama sehingga berefek pada posisi kredit dan fee-based income yang naik secara anomali.

Data kartu kredit yang dimodifikasi tercatat ada sekitar 100 ribu kartu. Karena anomali data kartu kredit ini, Bank Bukopin “harus rela” merevisi laba bersihnya di 2016 menjadi Rp 183,56 miliar dari sebelumnya Rp 1,08 triliun.

Masalahnya belum sampai disitu. Karena pelaporan laba yang salah, Bank Bukopin juga harus merevisi ekuitasnya menjadi Rp 6,91 triliun dari Rp 9,53 triliun. Karena nilai ekuitasnya turun, rasio kecukupan modal (CAR)nya menjadi 11,62%. Padahal sebelum revisi, nilanya adalah 15,03%, masih tergolong aman menurut kriteria Bank Indonesia.

Right Issue adalah Jalan

Karena modal Bank Bukopin sudah berada di zona merah, mau tidak mau manajemen harus mengambil tindakan. Tindakan yang dimaksud adalah menerbitkan saham baru/right issue 30% dari jumlah sekarang. Tindakan lainnya adalah mendivestasi 40% kepemilikan di Bank Syariah Bukopin (BSB). Dari dua tindakan tersebut, manajemen menargetkan dana yang terkumpul mencapai Rp2 triliun dari right issue, dan Rp 400 miliar dari divestasi BSB.

Beberapa pihak pun sudah siap menjadi pembelinya saham baru Bank Bukopin. Diantaranya adalah Kookmin Bank asal Korea Selatan, CVC Capital Partners dan TPG Capital. Dari dalam negeri sendiri, dikabarkan Bank BNI adalah pihak yang tertarik untuk menjadi “penyelamat” Bank Bukopin. Sementara itu, untuk kasus Bank Syariah Bukopin (BSB), baru terdengar nama Al Baraka asal Bahrain dan Affin Bank dari Malaysia yang tertarik menjadi pembeli.

Efek Isu Permak Pendapatan Terhadap Harga Saham

Memperindah pendapatan dalam laporan keuangan adalah isu yang sangat sensitif buat perusahaan manapun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dijalankan dengan manajemen yang tidak kompeten tapi manipulatif. Walaupun begitu, keberanian Bank Bukopin untuk merevisi laporannya dan mengumumkannya ke publik teta patut diacungi jempol.

Lalu bagaimana pelaku pasar menyikapi hal ini?

Kanda Fajar akan melakukan analisis yang disebut Cumulative Abnormal Return. Teknik ini untuk mengetahui perubahan harga saham sebagai akibat dari suatu event tertentu. Makanya, cuma efektif untuk jangka waktu pendek. Untuk itu, Kanda Fajar akan pakai time period 3 hari (sebelum dan sesudah kabar permak pendapatan) sambil dibandingkan dengan IHSG.

Dari grafik diatas terlihat banget, kan kalau harga saham Bank Bukopin secara terus mengalami penurunan dalam 5 tahun terakhir. Tapi bagaimana efeknya dengan isu permak pendapatan itu? Disinilah teknik CAR (Cumulative Abnormal Return) akan mengambil peran.

Dari grafik diatas, sentimen negatif dari isu tersebut mengerek turun harga saham Bank Bukopin lebih dalam dari IHSG. Nilai CAR-nya bahkan mencapai -11%.

Key Takeaway-nya adalah industri perbankan (dan keuangan secara umum) adalah industri yang berdasar atas kepercayaan nasabah dan investornya. Jadi, bisnis harus dijalankan dengan menjunjung tinggi etika tapi tetap profitable.

Categories: Opini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.