Walaupun mirip, Jepang dan Korea itu sebenarnya musuhan. Mirip-mirip Indonesia vs Malaysia lah. Tetanggaan tapi sering gesek-gesekan juga. Bedanya, permusuhan Jepang v Korea itu disebabkan sama kejamnya penjajahan Jepang jaman dulu. Indonesia juga mengalami hal ini kok. Waktu jaman penjajahan, propaganda Jepang itu deceptive banget. Banyak tipu-tipunya. Datang bagai saudara yang siap menolong, eh lama-lama jadi jadi saudara tiri, kejam tapi pura-pura baik. Wajar kalau rakyat Korea berontak.

Kalau kamu tertarik sama sejarah Jepang v Korea sama kayak Kanda Fajar, ada film bagus yang harus kamu tonton. Judulnya Battleship Island. Walaupun bukan jadi kisah perjuangan utama, tapi cast-nya pasti bikin cewek-cewek penggemar KPOP pada seneng nontonnya. Gimana engga, ada Soo Jong-ki, sis.

Sinopsis

Cerita Battleship Island tidak berpusat pada satu tokoh utama. Instead, fokus cerita disebar ke tiga orang laki-laki dewasa, seorang wanita dan seorang anak perempuan berumur sekitar 5 tahun.

Alkisah, dimasa pendudukan Jepang, sekelompok pemusik yang dipimpin Lee Kang-ok berniat mendapat penghidupan yang lebih layak di luar Korea. Karena pada masa itu adalah pendudukan Jepang. Dia berpikir bisa mendapat banyak uang dengan menghibur orang Jepang dengan kelompok musiknya. Jadilah dia, anaknya Lee So-hee dan band-nya berangkat ke Jepang.

suasana sebelum masuk ke sarang penjajah via thr.com

Tak disangka, kapal yang mereka tumpangi malah berlabuh di Pulau Hashima. Pulau ini terkenal sebagai penghasil batu bara yang kaya. Itu artinya setiap orang yang ada disana haruslah bekerja sebagai penambang.

Lee Kang-ok tidak bisa menerima keputusan ini begitu saja. Dia masih bersikeras untuk menjadi penghibur, bukan perkerja kasar. Kelompok musiknya bahkan sampai menggelar pertunjukkan dadakan di lapangan. Tapi apa daya, hal itu tidak menghasilkan apa-apa. Mereka tetaplah menjadi penambang sementara Lee So-hee diambil sebagai wanita penghibur.

Di pulau Hashima, perempuan dan laki-laki hidup terpisah. Sementara laki-laki hidup di bawah permukaan tanah, para perempuan dipaksa harus menemani orang-orang Jepang mabuk-mabukkan. Salah satu dari wanita ini adalah Oh Mal-nyeon. Tanpa sengaja, dia inilah yang menemani Lee So-hee saat ditinggal ayahnya bekerja.

Usia tidak menghalangi laki-laki hidung belang Jepang untuk merayu Lee So-hee. Merasa ketakutan, Lee So-hee menawarkan diri untuk menghibur mereka lewat lagu dan tarian. Tak disangka hal itu justru diapresiasi orang Jepang. Lee So-hee jadi bisa bertemu lagi dengan Lee Kang-ok. Mereka diharuskan tampil mengesankan. Kalau tidak, nyawa adalah taruhannya.

Walaupun sudah menjadi penampil, Lee Kang-ok masih tetap harus menambang. Pekerjaan ini dipimpin oleh seorang mandor yang suka main tangan. Kesalahan sekecil apapun akan dihukum seberat-beratnya. Choi Chil-sung tidak suka dengan perlakuan si mandor. Berulang kali dia mencoba memberontak tapi si mandor selalu saja berdiri di balik tentara Jepang yang tegasnya minta ampun.

Disuatu ketika, Choi Chil-sung sudah tidak tahan lagi. Dia menantang si mandor berkelahi dan menang. Sejak saat itu, Choi Chil-sung bekerja sebagai mandor. Walaupun begitu, dia tetap suka dengan orang Jepang. Baginya, Jepang adalah penindas dan para budak harusnya melawan.

Choi Chil-sung tidak tau bahwa salah satu diantara penambang yang jadi anak buahnya adalah Park Moo-young, intelijen Korea yang pernah mengenyam pendidikan di Amerika. Dia ditugaskan menjadi penyusup di pulau Hashima untuk membebaskan salah satu pejuang kemerdekaan Korea yang ditangkap Jepang.

idolanya cewek-cewek nih via brilio.net

Menambang batu bara di pulau Hashima bukanlah pekerjaan mudah. Walaupun kandungannya berlimpah, medan yang harus ditempuh sangat sulit. Belum lagi fakta bahwa pulau itu berada di tengah laut sehingga kalau salah pulau ini bisa tenggelam kapan saja.

Konflik terjadi saat terjadi ledakan besar di tiga lubang penggalian batu bara. Ledakan itu menutup akses keluar masuk tambang. Menurut hasil penelitian, membuka kembali tambang malah akan berdampak buruk bagi orang-orang di permukaan. Mengetahui hal ini, petinggi-petinggi Jepang di pulau Hashima berniat untuk kembali ke Jepang diam-diam.

Hal ini membuat pulau Hashima berada dalam fase Vacuum of Power. Hal ini1ah memberi kesempatan buat Park Moo-young untuk menggerakkan rakyat untuk berjuang kembali ke Korea.

Sayang seribu sayang, tidak semua orang Korea menginginkan kebebasan. Bahkan salah mantan pejuang kemerdekaan Korea malah menjadi haus kekuasaan. Dia diam-diam berkomunikasi dengan tentara musuh. Akhirnya, Sekutu mengirim pasukan udara dan memporak-porandakan Pulau Hashima.

Pulau yang sudah hancur plus hasil tambang yang sudah tidak bisa didapat memaksa pemerintah Jepang untuk mengambil langkah ekstrem: menenggelamkan Pulau Hashima beserta penduduknya.

Para petinggi Jepang lalu memberikan tongkat estafet pemerintah ke orang-orang Korea yang pro-Jepang. Tapi Park Moo-young punya misi lain. Dia ingin orang-orang Korea di Hashima mendapat kebebasan. Sejak itu, mulailah Park Moo-young, Choi Chil-sung, Lee Kang-ok dan yang lain membuat rencana kabur dari Pulau Hashima.

Awalnya, semua berjalan lancar. Sialnya, beberapa kendala teknis membuat rencana mereka ketahuan. Dalam situasi ini, perang tidak dapat dihindari.

Pulau Hashima dipenuhi ledakan dan bunyi senapan yang menggelegar. Mirisnya, perang yang terjadi adalah perang sesama orang Korea.

Ditengah perang yang berkecamuk, Choi Chil-sung dan Oh Mal-nyeon mati tertembak orang Korea yang pro-Jepang. Park Moo-young berjuang dengan senjata sementara Lee Kang-ok memimpin wanita dan anak-anak menyebrang ke kapal yang sudah menunggu.

Impression

the cast of Battleship Island via pop.inquirer.com

Every person on earth deserve an independence for their nation.

Itu pesan penting yang Kanda Fajar dapatkan setelah nonton Battleship Island. Kemerdekaan itu memang sudah seharusnya diperjuangkan, bukan diminta. People should fight for their freedom.

Diliat dari aspek seninya, film ini dibuat dengan sangat niat. Adegan penyiksaan ditampilkan dengan sadis walau engga terlalu gory. Sayang, di beberapa scene, banyak dialog tidak perlu yang hanya menambah durasi yang kalau dihilangkan juga gapapa.

Soo Jong-ki disini juga tampil tough dan keren. Dia bak intel sungguhan yang menjelma jadi jenderal perang di setengah jam terakhir.

Sebagai film yang bermuatan sejarah, Battleship Island mampu menggugah semangat penonton. Kanda Fajar jadi teringat bagaimana kejamnya penjajah Jepang di jaman dulu.

Walaupun kisah sejarahnya bukan sejarah utama, Battleship Island mampu membuat kisah yang menarik soal bagaimana Korea vs Jepang di jaman dulu. Kanda Fajar harap ada sineas Indonesia yang kebetulan nonton film ini dan punya visi serupa sama para kreator di balik Battleship Island: mengenalkan bangsa ini dengan sejarahnya sendiri.

Categories: Movie

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.