Kurang dari seminggu ini, The Fed (BI-nya Amerika Serikat) mengumumkan bahwa suku bunga Amerika akan naik seperempat basis poin. Itu artinya, rate-nya akan naik jadi 1,75%.

Berita ini dikonfirmasi setelah selesainya FOMC (Federal Open Market Comittee) meeting yang berlangsung tanggal 21 Maret 2018 kemarin. Berikut videonya kalau kamu pengen nonton.

Kenaikan suku bunga acuan AS emang selalu jadi berita yang ditunggu-tunggu semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Apa sebabnya? tentu karena kita sekarang sedang membicarakan Amerika, negara dengan sistem finansial paling maju di dunia. Selain itu, AS juga adalah penghasil orang-orang super kaya di dunia. Uang mereka cukup memberikan dampak signifikan buat suatu negara.

Jadi, Kanda Fajar akan langsung ngomongin soal dampaknya aja, ya.

Dampak yang paling terasa adalah perekonomian Indonesia bisa jadi lesu. Ini dikarenakan uang-uang asing tertarik kembali ke Amerika. As you know, asing adalah pemain besar di negara kita. Sumber daya (uang) mereka mampu menggerakkan pasar.

Alhasil, saat uang asing keluar dari Indonesia, pasar saham jeblok. Seminggu kemarin bahkan IHSG merah. Di penutupan Jumat kemarin, IHSG turun 0,69% dibandingkan hari sebelumnya. Index turun jadi 6.210 di 23 Maret 2018, padahal di bulan Februari 2018 kemarin sempat menyentuh 6.689 di 19 Februari 2018. Sedangkan indeks LQ45 jatuh lebih dalam ke level 1.017, turun 0.89% dari hari sebelumnya. Ini baru seminggu, belum sebulan atau lebih lama.

Saham-saham Blue Chip banyak berguguran. Saham HM Sampoerna turun 2,86% ke 4.080. Gudang Garam turun 2,54% ke 71.000. Indofood CBP turun 0.57% ke 8.700. Saham Bank Rakyat Indonesia turun 1,19% ke 3.600. Saham Telkom Indonesia turun 1,08% ke 3.660. Istilahnya, saham-saham yang selama ini menopang IHSG, satu per satu berjatuhan, terutama yang berhubungan dengan ekspor kayak rokok dan Mie.

Bukan cuma itu, nilai tukar Rupiah juga akan tertekan lebih dalam setelah pengumuman ini. Logikanya, karena The Fed Rate naik, investor kaya akan beli US Dollar buat investasi di AS. Demand Dollar nambah lebih cepat dari supply-nya. Jadilah, Dollar menguat dan memaksa mata uang lain, termasuk Rupiah berpotensi melemah. Tercatat kurs USD/IDR ada di kisaran 13.849(Bid)/13.711(Offer).

Pelemahan Rupiah tentu bukan berita bagus. Ini mengindikasikan inflasi yang berkepanjangan akan terjadi. Hal ini disebabkan karena kebanyakan barang kebutuhan kita masih harus diimpor dari negara lain. Jadi harganya akan sensitif banget sama nilai tukar.

Mengetahui hal ini, BI sebagai bank sentral Indonesia menetapkan untuk tidak menaikkan atau menurunkan suku bunga 7-Day Repo rate. Nilainya dijaga tetap pada level 4.25%. Ini adalah sentimen positif menurut Kanda Fajar, karena itu artinya pemerintah lebih memusatkan perhatian ke ekonomi dalam negeri daripada sibuk mengurusi perang Trump-Xi Jinping.

Indonesia ada di tengah-tengah perang dagang AS-China via trtworld.com

Dengan level yang tetap, BI berharap ekonomi dalam negeri (pinjaman modal, dll) akan tetap berjalan as planned before. Ini berguna untuk terus menggenjot pembangunan infrastruktur dan konsumsi rakyat. Harapannya, “teror” inflasi akibat pelemahan Rupiah bisa ditekan impact-nya ke masyarakat kecil dan menengah.

Sayangnya, Kanda Fajar rasa kebijakan BI itu belum cukup kuat membendung sentimen negatif yang datangnya dari luar. Perlu kebijakan-kebijakan yang lebih grass-root supaya masyarakat tidak terlalu tereskpos dari efek kenaikan The Fed Rate.

Kalau kamu tanya Kanda Fajar, Kanda Fajar malah lagi considering untuk bikin tabungan atau deposito dollar. Ini berdasarkan fakta bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya 4 kali di 2018 ini. Itu artinya masih ada 3 pengumuman lagi yang bisa menekan Rupiah. So, kalau kamu punya dananya, lebih baik kamu nabung dollar, gih sana. Daripada telat, ya kan.

Categories: Analisa Ekonomi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.