Sekitar tahun 2006, China cuma dikenal sebagai negara yang jumlahnya padat plus tanahnya luas. Kanda Fajar masih ingat waktu SD kalau 4 negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia adalah China, India, Amerika Serikat dan Indonesia. Kalau soal luas negara, China berada di urutan 4, dibawah Rusia, Kanada dan lagi-lagi Amerika Serikat. That’s it. Di pikiran anak SD tahun 2000-an, China is just another developing country. Mirip-mirip Indonesia lah kira-kira.

Sekarang, China sudah berubah. Negara ini tidak lagi terkenal sebagai negara kumuh berpenduduk padat. Sebaliknya, China yang kita semua tahu sekarang adalah negera superpower yang pengaruhnya bisa mengimbangi hegemoni Amerika Serikat.

Dalam 20 tahun terakhir, banyak perusahaan-perusahaan raksasa berasal dari negara ini. Alibaba, Tencent, Wanda Group, Bank ICBC dan Geely adalah beberapa nama besar yang berasal dari negeri tirai bambu ini. Kok bisa??

Sebelum kita masuk kesana, akan lebih baik kalau kita tau dulu kenapa ekonomi China bisa semaju sekarang.

The Beginning of the Economic Boost

China itu negara yang unik. Secara ekonomi, negera ini tampak menganut paham liberal, tapi secara politik, China adalah negara komunisme.

Semua ini tentu engga tiba-tiba hadir begitu aja. Ada cerita yang masuk akal soal hal ini. Mari Kanda Fajar bahas sedikit.

Deng Xiaoping, bapak ekonomi China via scmp.com

Alkisah, China dan Uni Soviet adalah dua negara berpaham komunis terbesar. Mohon dipahami disini bahwa komunis bukanlah paham yang tidak percaya Tuhan. Yang benar adalah komunisme itu paham yang menolak kepemilikan pribadi.

Nah, di China partai yang menguasai pemerintahan adalah Communist Party yang dipimpin Mao Zedong. Dia ini punya gagasan untuk mengubah China dari negara berbasis pertanian ke industri seperti saudaranya, Uni Soviet, hanya dalam 5 tahun. Rencana besar itu tercakup pada gagasan “Great Leap Forward” yang berujung pada kegagalan. Saat itu banyak penduduk yang mati kelaparan sementara beberapa orang dalam partainya hidup bermewah-mewah. Berusaha memperbaiki kesalahannya, Mao Zedong lalu membentuk sebuah kesatuan tugas yang namanya “Red Guards.” Satuan tugas ini punya tugas utama membasmi para burjois yang ada di tanah China.

Lambat laun, Red Guards makin tidak terkontrol. Tindakan mereka makin brutal sampai-sampai Mao Zedong sendiri tidak bisa mengendalikan satuan yang dibuat ini. Alasannya, Red Guards lebih sering dipakai politisi untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Kondisi China pada masa itu benar-benar kacau. Pemerintahan makin gaduh dan ekonomi memburuk. Rakyat mulai meragukan kelayakan Chinese Communist Party untuk memimpin. Ditambah lagi, pemerintah juga bersikap tidak hormat pada Hu Yaobang di hari kematiannya.

protester vs PLA via mashable.com

Hu Yaobang sendiri adalah General Secretary dari Communist Party. Semasa hidup, dia mencoba untuk membela hak-hak korban Cultural Revolution yang dipersekusi dengan tidak adil. Makanya, karena pemerintah menolak untuk memberikan penghormatan, rakyat langsung bereaksi melawan pemerintah.

Setidaknya ada 100 ribu orang, kebanyakan adalah mahasiswa, turun ke jalan dan berdemonstrasi. Ternyata, orang-orang itu bukan cuma melakukan aksi mereka buat Hu Yaobang. Lebih jauh lagi, mereka menuntut pemerintah menyetujui petisi yang berisi pernyataan bahwa China harus lebih demokratis di masa depan. Pemerintah menolak dengan keras petisi itu dan situasi kembali memanas.

Politisi dari Communist Party takut protes itu akan melemahkan kekuasaan mereka. Walaupun begitu, beberapa masih menganggap para demonstran itu bukan sebagai ancaman. Langkah yang salah karena setelahnya, mahasiswa dari kota-kota lain di China justru makin berdatangan ke Tianamen Square.

Melihat demonstrasi yang sepertinya tidak kunjung mereda, Communist Party malah mengambil langkah ekstrem dengan mengerahkan People’s Liberation Army (PLA). Tujuannya adalah membubarkan para demonstran dengan paksaan.

the tank man yang gagah berani via dailysignal.com

Pada 3 Juni 1989, divisi 27 dan 28 dari PLA mencoba membubarkan masa dengan gas air mata. Hal itu menyulut kemarahan para demonstran. Mereka menggila dan malah melempari barikade PLA dengan batu dan membakar tank-tank milih pemerintah. Pemerintah lalu membalas dengan mengirim lebih banyak pasukan yang kali ini bersenjata lengkap. Pada 4 Juni 1989, pasukan PLA melancarkan serangan balasan. Mereka dengan brutalnya memukuli para demonstran. PLA juga sampai mengerahkan beberapa tank untuk membubarkan demonstrasi.

Sejak saat itu, pemerintah melarang pemberitaan apapun yang berkaitan tentang Tiananmen Square dan Insiden 4 Juni.

Shifting After the Massacre

Insiden di Tiananmen ini jadi semacam bukti bahwa paham komunis sudah tidka relevan lagi di jaman sekarang. Fakta ini tentu membuat orang-orang di Chinese Communist Party takut kehilangan kekusaannya. Di situasi genting ini, partai menemukan sosok pemimpin baru dalam diri Deng Xiaoping.

Deng Xiaoping berpikir kalau mengaplikasikan komunisme dalam pemerintahan dan perekonomian adalah yang mustahil. Thus, he came up with the idea to separate politics and economy. Today, politics in China is extreme communism but the economy is more like capitalism.

pertumbuhan pesat GDP China via tradingeconomic.com

Sejak Tiananmen Massacre, kebebasan berpendapat di China ditekan. Segala bentuk pemberitaan soal kejinya pemerintah di 4 Juni 1989 dihapus. Makanya, anak-anak mudanya banyak yang engga tau soal sejarah kelam bangsanya sendiri. Makanya di China pemerintah memberlakukan sensor ketat. Bahkan Google, Facebook, Twitter, Whatsapp dll tidak bisa masuk ke pasar China. Semuanya demi untuk menghalangi rakyat untuk engga menggali kebenaran dari bangsanya sendiri.

Sebagai gantinya, masyarakat China didorong untuk menjadi masyarakat yang kapitalis, persis seperti Amerika Serikat. Fokus masyarakat sekarang adalah mencari keuntungan dan bukan kebebasan berbicara. Keran ekspor dibuka seluas-luasnya tapi impor diawasi lebih ketat. Semuanya demi mempertahankan kekuasaan Chinese Communist Party atas seluruh wilayah China daratan.

Karenanya, engga heran kalau China menjelma jadi negara yang berekonomi kuat di dunia.

Tahun 1990, satu tahun setelah peristiwa di Tiananmen, Shanghai Stock Market resmi dibuka. Tahun 1996, pemerintah membolehkan Yuan untuk masuk pasar foreign exchange. Keduanya jadi bentuk dukungan pemerintah atas liberasi ekonomi. Alhasil, perekenomian China tumbuh pesat, bahkan sampai sekarang.

kekayaan masyarakat China meningkat via bbc.com

Di tahun 2012 aja GDP bisa tembus $1.6 Triliun dollar. GDP per kapita mencapai $900.

Bukan cuma itu, China juga dikenal sebagai negara eksportir. Dan coba tebak siapa pembeli terbesarnya? Yup, Amerika Serikat. Transaksi perdagangan China-AS ini begitu besar sampai-sampai AS harus bayar lewat Treasury Bill alias surat utang negara Amerika.

In other words, China holds the entire US economy.

Side Effect of Economic Boom

Selama kira-kira 20 tahun ke belakang, China adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Pertumbuhan yang pesat ini bukannya tanpa resiko. Terutama karena penggerak utama dari pertumbuhan ini adalah perusahaan-perusahaan besar yang dibiayai oleh utang.

Bayangin aja, di tahun 2016 level utang negara China mencapai 254% dari GDP. Nilai segitu sebenarnya engga terlalu mengkhawatirkan karena sebenarnya AS juga memiliki jumlah utang yang hampir sama. Yang jadi masalah adalah dalam tenggang waktu 2007-2014, terjadi peningkatang utang sebesar 4 kali lipat!

komposisi zombie corporation via bloomberg.com

Utang itu sebenarnya digunakan mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional setelah krisis 2008. Sayangnya, utang itu dialokasikan dengan buruk. Hampir setengahnya terserap ke BUMN (State-owned enterprise) kayak (masukkan nama bumn) yang engga efisien dan perushaan swasta yang tergolong “zombie corporation.” Julukan ini merujuk pada perusahaan-perusahaan yang sebenarnya merugi tapi justru tampil seolah profitable dengan utang. Diperkirakan Bloomberg, ada sekitar 830 perusahaan yang masuk kategori “zombie.”

Makanya, IMF menyarankan China untuk membersihkan perekonomian dari “zombie corporation.” Sayang, saran IMF ditolak mentah-mentah. Kalau saran itu diterapkan, pertumbuhan ekonomi China (dan dunia) bisa melambat. Akhirnya pemerintah mengambil langkah lain dalam wujud debt-to-equity swap.

Secara harafiah, debt-to-equity swap berarti menukar utang perusahaan yang menumpuk dengan saham. Sehingga, lender berubah fungsi jadi owner. Idealnya, mekanisme ini adalah langkah bagus untuk meringankan beban bunga. Tapi 55% dari swap ini justru dinikmati oleh zombie corporation yang bergerak di bidang pertambangan batu bara dan baja.

debt-to-equity yang bertambah saban tahun via bloomberg.com

Secara umum, mekanisme swap-nya itu kayak gini. Bank akan men-take over utang-utang perusahaan dari kreditornya. Selanjutnya, bank akan membentuk unit-unit saham (senilai utang) yang bisa dijual kembali ke investor. Di peraturan selanjutnya, Bank diharuskan memiliki tidak kurang dari 50% unit saham baru ini.

Ini berarti bahwa resikonya berganti ke investor individual. In other words, masalah utamanya masih belum terselesaikan dan malah disebar merata ke masyarakat. Akhirnya, masyarakat dunia cuma bisa berharap-harap cemas. Sebabnya jelas, kalau sampai masalah kredit ini tidak bisa terselesaikan, dunia mungkin akan mengalami krisis ekonomi 2018.

Categories: Analisa Ekonomi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.