Coco, Satu Lagi Film Pixar yang Menyentuh Lubuk Hati Terdalam

Kalau Pixar bikin film, satu hal yang harus kamu lakukan adalah beli tiket bioskop secepatnya. Engga masalah juga sih kalau kamu mau nunggu versi HD-nya di internet. Itu suka-suka kamu, kok. Tapi sayangnya aja. Menurut Kanda Fajar, film-film garapan Pixar harusnya ditonton dengan spesifikasi terbaik supaya feel-nya dapet. Biar mantep gitulah.

Oh, iya. Pixar juga jago mencampuradukkan tawa dan air mata. Siapa yang bisa lupa adegan perpisahan terakhir di Toy Story 3? Kalau kamu mau sedikit bernostalgia sama feel-nya (bukan adegannya), Kanda Fajar amat menyarankan kamu buat nonton Coco.

Sinopsis

Coco dimulai dengan narasi keluarga yang obviously bernama Mama Coco. Dia ini ceritanya udah buyut gitu. Tua bangetlah pokoknya. Walaupun begitu, cicitnya yang pecicilan bernama Miguel seneng banget kalo main bareng Mama Coco. Oh satu lagi info maha penting dari keluarga Mama Coco ini, mereka semua benci banget sama musik. Padahal, Miguel suka banget main gitar. Dia bahkan bisa dibilang jago karena talenta bukan latihan.

Penyebab keluarga Mama Coco benci sama musik adalah karena bapaknya Mama Coco, memilih meninggalkan keluarga dan menyanyi bagi dunia. Sejak saat itu, semua keturunannya tidak pernah menganggap dia keluarga. Fotonya tidak pernah dipajang di Ofrenda saat perayaan Hari Orang Mati khas Mexico.

megang gitar aja Mama Elena marah kayak gitu via slashfilm.com

Saking bencinya nih ya, Miguel megang gitar pas habis nyemir sepatu aja nenek Elena marah besar. Padahal, kan Miguel pengen jadi kayak Ernesto De La Cruz, the greatest musician the world ever seen. Dia diseret pulang ke rumah. Keluarganya meminta Miguel untuk menjadi pembuat sepatu aja sesuai tradisi keluarga.

Tidak mau menyerah, Miguel diam diam mau ikutan audisi berbekal gitar dari leluhurnya yang tak dianggap itu. Gitar itu dia sembunyikan di loteng. Praktis cuma dia dan Dante, si anjing liar, yang tau keberadaan gitar itu. Ngomong-ngomong soal Dante, sebagai anjing liar, wajar kalau dia pecicilan. Lari-lari kesana kemari tanpa tedeng aling-aling. Karena dia aktif banget, dia merusak foto Mama Coco dan keluarga. Dari kejadian itu, Miguel akhirnya tahu kalau bapaknya Mama Coco adalah seorang musisi, yang kalau dilihat dari gitarnya tidak lain tidak bukan adalah Ernesto De La Cruz.

Miguel makin girang mengetahui fakta ini. Semangatnya makin menggebu-gebu buat ikutan audisi. Sayang, semangatnya harus pupus saat Nenek Elena menghancurkan satu-satunya alat musik yang dia punya. Miguel kecewa berat sama keluarganya. Dia lari dari rumah menuju alun-alun kota. Dia tetep bersikukuh buat ikutan audisi. Masalahnya, dia butuh gitar.

Karena nyari-nyari engga ketemu, Miguel nekat meminjam aka mencuri gitar legendaris milik Ernesto De La Cruz. Saking senengnya, dia memetik sedikit gitar itu dan sesuatu yang magis terjadi: Miguel jadi arwah!

Of course, it makes him freak out. Untungnya, keluarga-keluarga Mama Coco terdahulu menemukannya. Di Hari Orang Mati, arwah-arwah memang bisa pulang mengunjungi keluarganya yang masih hidup dengan syarat fotonya dipajang di Ofrenda. Karena fotonya pecah, Mama Imelda Rivera jadi tidak bisa kembali ke dunia. Keluarga-keluarga yang lain kayak Papá Julio, Mama Tía Rosita, Mama Tía Victoria dan Paman Tio serta Oscar akhirnya menjemput Mama Imelda Rivera ke alam orang mati, bersama Miguel tentu saja.

Dengan bantuan dari petugas imigrasi alam arwah (ini terjemahan bebas Kanda Fajar), Mama Imelda jadi tau kalo memulangkan Miguel itu gampang. Dia tinggal memberi restu lewat daun special warna orange dan boom Miguel pun bisa pulang. Masalahnya adalah Mama Imelda bikin aturan kalo Miguel engga boleh main musik. Miguel jelas engga suka. Dua detik kemudian, Miguel kembali ke alam arwah setelah memetik gitar Ernesto lagi. Kali ini Miguel punya rencana. Dia mau meminta restu dari kakek buyutnya aja, the greatest Ernesto De La Cruz. Masalahnya adalah dia tidak tau dimana dia berada.

main-main ke dunia ruang mati via awn.com

Untungnya dia mencuri dengar perkataan Hector, arwah yang tidak bisa pulang karena tidak ada keluarga yang memajang fotonya di Ofrenda. Karena merasa bisa saling bantu, Hector dan Miguel mulai mencari Ernesto supaya Miguel bisa pulang sebelum fajar. Kalo engga Miguel bisa jadi arwah selamanya dan Hector harus mati untuk kedua kali (sebutannya Final Death gitu).

Atas saran Hector, Miguel harus menang lomba musik supaya bisa diundang ke pesta Ernesto. Mereka sekarang butuh gitar. Hector mendapat gitar dari sahabat sesama arwah yang kondisinya udah sakaratul maut. Dengan gitar gitar itu, mau tidak mau Miguel harus menang kompetisi. Yang jadi masalah adalah Miguel belum pernah tampil. Jadilah Hector menyarankan beberapa hal supaya dia bisa tenang. Tidak disangka, saran Hector itu manjur. Miguel engga nervous dan malah bermain lebih bagus dari harapan. Sayang, penampilannya malam itu harus berakhir karena Mama Imelda tidak capek capek mencarinya.

Hector jadi kesal karena Miguel bohong soal keluarganya. Miguel juga kesal sama Hector karena dia cuma memikirkan diri sendiri. Sejak itu, Miguel berjuang sendirian mencari Ernesto De La Cruz. Dengan bantuan musisi lainnya, Miguel jadi punya akses masuk ke pesta Ernesto. Karena rame banget, Ernesto engga tau kalau Miguel memanggil-manggil namanya. Jadilah dia menyanyikan lagu Ernesto lengkap dengan reka adegan seperti dalam film. Berkat itu semua, Ernesto jadi tau kalau Miguel adalah cicit yang punya bakat musik seperti dirinya.

Mereka menghabiskan malam di Hari Orang Mati bersama. Sayang, Hector datang menghancurkan keindahan malam itu. Dari penggalan kata yang diucapkan Hector sama persis dengan kata-kata Ernesto De La Cruz di salah satu filmnya. Lewat adegan film itu pula ternongkar fakta kalau lagu-lagu yang dinyanyikan Ernesto adalah hasil jerih payah Hector. Karena tidak kuat tinggal jauh dari keluarga, Hector berniat mundur dari hingar bingar dunia hiburan. Keputusan itu membuat Ernesto kecewa. Dia butuh lagu-lagu ciptaan Hector supaya bisa terkenal. Dia akhirnya gelap mata dan meracun sahabatnya sendiri. Kenyataan itu juga membuka mata Miguel kalau ternyata idolanya itu sangat gila popularitas. Dia bahkan rela menukar teman dan keluarga sendiri demi kesuksesan dan popularitas. Akibatnya, Hector dan Miguel dibuang ke suatu lubang yang dalam oleh anak buah Ernesto.

Tak disangka, saat berada dalam lubang raksasa itu, terungkap fakta kalau Hector lah buyut dari Miguel. Kakek buyut yang dianggap meninggalkan keluarga ternyata tewas dibunuh sahabatnya sendiri saat berniat untuk pulang. Mengetahui fakta mengejutkan itu, Miguel ingin cepat-cepat pulang dan membuat Mama Coco mengingat kembali ayahnya. Untung Mama Imelda muncul tepat waktu. Dengan peliharaannya yang berbentuk kucing besar berwarna warni dan bersayap, mereka terbang menuju tempat konser Ernesto untuk merebut kembali foto Hector.

bersama kakek buyutnya yang asli via ign.com

Dengan kekuatan ikatan keluarga, Ernesto terdesak. Dia kehilangan kewarasannya dan mau menjatuhkan Miguel dari ketinggian. Tidak hilang akal, Papa Julio mengarahkan kamera ke arah Ernesto. Penonton jadi bisa melihat dengan jelas perbuatan kejam dari idola mereka. Belum lagi ditambah fakta bahwa Ernesto tega membunuh sahabatnya sendiri demi kekayaan dan ketenaran. Semua itu membuatnya dibenci penonton. Bahkan tim orkestranya aja menolak untuk mengiringi dia bernyanyi.

Kembali ke Miguel dan keluarganya. Mama Imelda akhirnya memberi blessing ke Miguel supaya dia bisa pulang. Misinya sekarang adalah membuat Mama Coco tidak melupakan Papa Hector. Makanya setelah dia berhasil kembali ke dunia manusia, tempat pertama yang dia kunjungi adalah kamar Mama Coco. Dengan berbekal gitar Ernesto di tangan, Miguel memainkan lagu “Remember Me” yang mengharukan abis. Tidak disangka, Mama Coco masih ingat lagu itu. Papa Hector memang membuat lagu itu khusus buat Mama Coco bukan buat penampilan di atas panggung. Mama Coco dan anggota keluarga yang lain pun sing along bareng dan Papa Hector engga jadi mati untuk kedua kalinya.

Impression

Pixar emang jago banget kalau bikin film animasi. Tidak terkecuali dengan film Coco ini. Mulai dari alur cerita, karakter sampai musiknya semua juara. Kanda Fajar bahkan engga bisa menemukan cela di film ini.

Kalaupun ada, mungkin dari segi cerita yang twist-nya cenderung mikir. Sebagai film keluarga ada baiknya kalau ceritanya dibikin lebih sederhana. Anak-anak mana bisa mencerna ide cerita family above success model gitu.

Walaupun begitu, buat penonton yang lebih dewasa kayak Kanda Fajar ini, cerita Coco malah nampar banget. Sebagai anak muda, wajar kalau kita ingin mengejar kesuksesan. Tapi apakah harus dengan membuang ikatan keluarga? Kalau kamu jawab iya, kamu sama kayak Ernesto. Dia ini walaupun terkenal dan banyak dikelilingi fans, but deep down in his heart, dia pasti kesepian banget. Cara satu-satunya supaya dia bisa diingat ya dengan jadi penyayi sukses tadi. Makanya dia sampai rela membunuh Ernesto, karena tanpa lagu-lagunya, Dia bisa meninggal dalam kesendirian. Miris.

lagunya enak-enak semua via schmoesknow.com

Satu aspek keren lagi dari lagu ini adalah apalagi kalau bukan musiknya. Telinga Kanda Fajar kurang sreg dengar lagu selain bahasa Indonesia, Inggris, Jepang dan sebagian Korea. Praktis cuma Despacito yang bisa masuk ke telinga Kanda Fajar tanpa pemberontakan yang berarti. Itu pun belum sampai dimasukin di level dimana Kanda Fajar akan memasukkan lagu itu ke playlist Spotify.

Pengecualian buat Coco. Lagu-lagunya luar biasa enak didengar. Poco Loco, The World Es Mi Familia, dan Proud Corazon bisa dengan leluasa Kanda Fajar nikmati musiknya. Credit khusus patut diberikan buat Remember Me. Ini lagu mengharukan banget. Apalagi pas di adegan terakhir dimana Miguel berusaha membuat Mama Coco ingat lagi sama Papa Hector. Sumpah, kalau kamu engga nangis kamu cemen, man. Camkan itu!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *