Kanda Fajar rasa tidak ada manga lain yang diangkat ke layar lebar sebanyak Death Note. Death Note, manga amat populer karya Tsugumi Ohba (cerita) dan Takeshi Obata (ilustrasi) adalah salah satu contoh dari betapa manga yang keren itu tidak akan pernah hilang ditelan jaman.

Cerita manga ini sudah diterjemahkan ke banyak medium berbeda, mulai dari anime, drama, serial TV sampai film. Khusus buat film, Death Note sudah ada dari tahun 2006 (Death Note dan Death Note: The Last Name). Selanjutnya ada L: Change the New World di tahun 2008 (fokusnya sekarang cuma ke L seorang) dan Death Note: Light Up the New World 8 tahun setelahnya (fokusnya sekarang ke penerus-penerus L dan Light).

Dari semuanya itu, cuma judul terakhir yang belum sempat Kanda Fajar tonton. Anehnya, Kanda Fajar punya waktu buat nonton Death Note produksi Netflix yang judulnya sangat revolusioner: Death Note (2017).

Sinopsis

Death Note itu sebenarnya soal rivalitas antara Light dan L. Dua-duanya sama-sama cerdas dan idealis. Makanya, kalau diulang-ulang tentu akan bisa bosan. Netflix mengambil jalan berbeda. Selain hampir semua tokohnya diganti sama orang barat, layanan streaming online ini juga mengubah sedikit ceritanya secara radikal.

Awal cerita dimulai saat Light Turner yang duduk sendirian di pinggir lapangan diam-diam memperhatikan Misa Sutton. Tiba-tiba, ada sebuah buku dengan tulisan “Death Note” di sampulnya. Setelahnya, hujan turun dengan derasnya tapi perhatian L tertuju pada seorang siswa yang di bully sama murid lain yang entah namanya siapa. Si Misa ini lalu datang menolong. Mungkin karena harga diri sebagai cowok, Light malah ikutan nantang si pem-bully. Hasilnya, dia digebukin sampai tidak sadarkan diri.

Finding Death Note via variety.com

Masalahnya belum selesai sampai disitu. Guru BP-nya mendapati banyak contekan di tas Light. Si guru ini menganggap masalah contek-menyontek ini lebih penting daripada bullying di sekolah. Terang saja, Mia yang juga ada di tempat kejadian malah tidak bersaksi mengatakan yang sebenarnya. Jadilah Light masuk kelas hukuman selama sebulan.

Di kelas hukuman itulah, Light Turner punya waktu untuk membaca dan mencermati Death Note. Lalu bertemulah dia sama Ryuk. Emang dasar dewa kematian, Ryuk menghasut Light untuk balas dendam. Sambil tetap merasa tidak percaya, Light memutuskan untuk menulis nama “Kenny Doyle”, si pembully. Tidak sampai semenit, Kenny mati mengenaskan. Kepalanya terlepas dari tubuhnya.

Di rumah, ayahnya, James Turner juga ikut-ikutan menceramahi dia. Tidak mau disalahkan, Light mengungkit-ungkit kasus kematian ibunya yang gagal di selesaikan James. James ini seorang kepala polisi, tapi dia seakan membiarkan pembunuh istrinya begitu saja. Light yang gelap mata, memutuskan untuk memakai Death Note. Targetnya kali ini adalah Anthony Skomal, si pembunuh ibu Light. Benar saja, tidak lama kemudian, Anthony mati di saat tengah menyantap hidangan mewah di hotel.

Keesokan harinya, Mia entah modus atau kasihan, mendekati Light yang sedang serius baca-baca rules Death Note. Light lalu menunjukkan bahwa dialah yang membunuh Kenny dengan Death Note di tangannya. Mia tentu tidak langsung percaya. Light lalu mengajak Mia nonton berita kriminal. Dia menulis nama seseorang di Death Note dan boom, orang itu mati.

Bukannya takut, Mia malah makin suka sama Light. Light dan Mia memulai aksi pembantaian orang-orang kejam di muka bumi, mulai dari ditaktor, pembunuh sampai pejabat korup. They start thinking that they can do good for people. They think they can be a God, a God that punish evil on earth. That God’s name, as you all know, is Kira.

Sejak saat itu, banyak penjahat menyerahkan diri. Orang-orang di seluruh dunia sekarang menyembah Kira. Mereka menganggap Kira adalah dewa penolong yang membunuh orang-orang jahat di muka bumi. Dukugan masyarakat pada Kira semakin besar tapi penegak hukum makin keras berusaha menemukan dalang dibalik deretan kasus kematian aneh ini.

Kasus ini menarik perhatian detektif terkenal bernama L. Bersama orang kepercayaannya, Watari, L mulai menyusun rencana untuk membongkar identitas Kira.

L dan Watari lalu merekrut James Turner dari kepolisian. FBI, CIA, Interpol dan lain-lain mengira Kira berasal dari Jepang. Tapi L percaya Kira berasal dari Seattle, Amerika Serikat. Dia menantang Kira di depan umum tapi dengan menutupi sebagian wajahnya. L sudah tau kalau Kira perlu dua data untuk membunuh: nama dan wajah.

“I don’t do check, only check-mat,” L via thelittlehawk.com

Setelah tantangan itu, aktivitas Kira perlahan mulai jarang terjadi, sampai kira-kira seminggu kemudian, 12 orang agen FBI bunuh diri. Kali ini, James Turner yang melayangkan tantangan untuk Kira.

Mia gelap mata dan berniat menulis namanya di Death Note. Light tentu mencegahnya. Hal ini membuat celah yang menguntungkan L. Detektif ini akhirnya tau Kira adalah Light, tapi dia tidak tau bagaimana dia melakukan aksinya. Dan ada Mia yang selalu setia di samping Light.

Light tidak mau kalah. Dia memanfaatkan Watari untuk membantu mendapatkan nama asli L. Selama 2 hari berikutnya, Watari menghilang. L tau ini perbuatan Kira alis Light. Mereka saling kejar mengejar. Dan Mia punya rencana sendiri.

Light doesn’t have intention to kill Watari, but Mia does. Perbuatan Mia ini memuat Light marah. Kematian Watari membuat L juga marah. L dan Light lalu terlibat kejar-kejaran sampai ke taman bermain kota. Disana, Mia sudah menunggu. Mereka naik ke Ferris Wheel. Tak disangka, Light menulis nama Mia dalam buku. Mia mati. Light Selamat. L hampir menulis nama Light di kertas Death Note. Dan The End.

Impression

Mia (tengah) malah jadi lawan Light di Death Note 2017 via imdb.com

Seperti yang Kanda Fajar bilang, Death Note versi Netflix ini beda banget sama Death Note yang lain. Selain, L yang kena black-washing, pertarungan otak antara L dan Light juga tidak terlalu rumit. Padahal, inilah senjata utama dari seri ini. Untung aja temanya masih soal dilema penegakkan hukum dan keadilan.

Yang menarik justru karakter Mia ini. Kalau di versi Jepang, dia ini cinta buta sama Light. Dia pakai Death Note cuma atas suruhan Light aja. Di versi Amerika ini beda. Mia suka sama Light karena Light punya Death Note. Dia jadi punya obsesi berlebihan sama yang namanya keadilan. Malahan, Kanda Fajar bisa bilang kalau Kira itu, 35% Light dan 65% Mia. Mialah yang justru mampu menghalalkan segala cara supaya Kira tetap bisa eksis.

Oh satu lagi, Ryuk disini juga serem banget. Beda sama versi Jepang yang kadang banyak ngelawak. Ryuk yang disuarakan sama Willem Defoe ini malah bisa disandingkan sama Annabelle dan Valak. Kalau dia ada, suasana tiba-tiba horor. Serem!!!

Categories: Movie

Leave a Reply