Minggu, 1 April 2018, Arsenal menjamu Stoke City di Emirates Stadium dengan target poin penuh. Masih berusaha mengincar posisi 4 besar, Arsenal wajib menang di laga ini untuk memendekkan jarak para rival, terutama Chelsea di peringkat kelima. Sayang, selama 75 menit pertama, Pertandingan berlangsung membosankan.

Selama 75 menit awal, bola praktis lebih banyak berada di tengah. Arsenal lebih banyak menunggu pemain Stoke tertarik maju mengejar bola daripada memprogresikan serangan ke depan.

Menang lagi via twitter.com/Arsenal

Salah satu sebab mandeknya serangan Arsenal, menurut Kanda Fajar adalah karena kesalahan starting line up. Kanda Fajar engga habis pikir kenapa Wenger engga malah mencadangkan Xhaka dan Mikhitaryan. Xhaka bisa saja berguna dalam proses membangun serangan lewat umpan-umpan jauh akuratnya. Sementara itu, keberadaan Mikhitaryan bisa meringankan beban Ozil sebagai otak serangan.

Yang terjadi malah Wenger lebih memilih memainkan seorang Welbeck sebagai penyerang sayap kiri. Padahal, posisi itu bisa ditempati Iwobi yang lebih mobile. Welbeck terlalu sering kehilangan bola. Dia juga terlihat banyak gagal mengantisipasi umpan cepat dari pemain Arsenal yang lain.

Untung saja Arsenal punya Aubameyang. Dia memecah kebuntuan di menit 75 lewat titik putih setelah Ozil dijatuhkan Martins Indi. Keran gol Arsenal pun mulai mengalir deras.

Di menit 86, lewat proses sepak pojok, Ozil dengan cerdas mengirim umpan ke Aubameyang yang bebas tanpa kawalan berarti. Pemain ini pun dengan mudah menceploskan bola ke dalam gawang Stoke. Dari proses gol ini, terlihat bahwa pemain-pemain Stoke mulai hilang fokus.

Dua Striker kelas A via twitter.com/Arsenal

Hasilnya, di menit 89 Ndiaye melakukan kesalahan yang sama dengan Martins Indi. Dia melanggar Alexander Lacazette di kotak terlarang. Wasit pun tanpa segan kembali menunjuk titik putih untuk kedua kalinya. Lacazette pun menyelesaikan peluang itu dengan baik.

Hasil ini melanjutkan tren kemenangan Arsenal dalam beberapa laga terakhir. Di lain pihak, Chelsea terbantai 3-1 dari Tottenham Hotspurs. Dengan jumlah Pertandingan yang tersisa, target merebut peringkat 4 sepertinya sudah pupus, tapi tidak kalau membicarakan peringkat 5.

Bromance Aubameyang-Lacazette

Punya dua penyerang kualitas A, Wenger malah tetep keukeuh bermain dengan satu striker. Sejak Januari lalu, Aubameyang selalu menjadi pilihan pertama setelah Lacazette yang dibeli 6 bulan lebih awal.

Memang, dibanding Aubameyang, Lacazette kalah dalam produktivitas gol. Di penghujung tahun 2017, sabgat jarang namanya terpampang di papan skor. Ditambah lagi dia baru-baru ini baru sembuh dari cedera, praktis dia butuh kesempatan dan motivasi lebih dari sesama anggota tim.

Motivasi dan kesempatan lebih itu datang di Pertandingan kontra Stoke city kemarin. Aubameyang dengan “baik hati” memberi kesempatan buat Lacazette buat jadi algojo penalti yang kedua. Aubameyang punya kesempatan untuk mencetak hat-trick, tapi dia lebih peduli dengan keadaan Lacazette. Orang terakhir pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mencetak gol perdananya di musim 2017/2018.

Salut via twitter.com/Arsenal

Dengan koneksi seperti itu, Kanda Fajar tidak habis pikir kenapa Wenger tidak memakai formasi dua striker dan menanggalkan ideologinya yang udah usang itu, ya. Kali aja malah bisa menang meyakinkan dengan konsisten.

Categories: Arsenal Thought

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.