[Artikel ini adalah impression Kanda Fajar setelah baca artikel berjudul Millenial Are Screwed di Huffington Post]

Bicara soal millenial emang engga pernah ada habisnya. Selalu ada aja hal baru yang bisa dikulik. Apalagi kalau ngomongin hubungannya sama finansial dan ekonomi, wuih bisa panjang penjelasannya. Di blog post kali ini, Kanda Fajar akan mencoba mengungkap fakta soal keadaan finansial kamu-kamu yang tergolong milenial. Check it out!

Banyak yang bilang kalau millenial adalah generasi termalas sepanjang sejarah peradaban manusia. Anak-anak millenial dianggap lebih mementingkan passion daripada uang dan karir. Alhasil, kita (karena Kanda Fajar sendiri pun masih millenial) sering dicap gagal. Tapi benarkah demikian?

Sayangnya, iya. Cuma setengah dari populasi millenial di dunia yang mampu beli rumah sendiri. 1 dari 5 millenial hidup dalam kemiskinan. Dan lagi, kita harus bekerja sampai usia 75 tahun baru bisa pensiun dengan tenang. Menyedihkan? Iyalah jelas.

Sebenarnya angka-angka menyedihkan tadi bukannya salah kita, kok. Bahkan, Kanda Fajar pikir millenial ini adalah korban dari kondisi dunia yang tidak menentu. Misalnya, gaji yang kenaikannya cenderung stagnan. Disisi lain, biaya-biaya kebutuhan pokok, kayak pendidikan, kesehatan dll, harganya makin mahal. Alhasil, millenial adalah generasi miskin dibandingkan dengan baby boomer, which is orang tua kita sendiri.

Ada kata-kata bagus yang mesti Kanda Fajar copy-paste ke blog post ini.

“A lot of workers were just 18 at the wrong time” – William Spriggs.

Si William ini adalah professor ekonomi dari Howard University sekaligus juga sekretaris asisten Departement ketenagakerjaan Obama. Jadi comment dia tidak boleh kamu anggap angin lalu aja.

Angka 18 tadi merujuk pada tahun ini, tahun 2018. Mungkin kamu agak bingung tapi tenang Kanda Fajar akan coba memberikan konteksnya ke kamu.

Jadi gini, penelitian mengungkapkan bahwa perusahaan pemberi kerja lebih mendahulukan angkatan-angkatan bawah. Istilahnya, kalau ada lowongan kerja tahun 2018, kamu lulus tahun 2017 tapi temen kamu lulus tahun 2016. Nah, yang dapet pekerjaan adalah temen kamu.

Dan lagi, penelitian yang lebih mendalam mengungkapkan bahwa setiap 1% tingkat pengangguran di tahun kelulusanmu, gajimu pertamamu akan turun sebesar 6%-8%. Not to mention kalau sekitar 48% sarjana S1 ditempatkan di pekerjaan yang engga seharusnya. I mean, untuk jadi teller bank aja sekarang minimal harus S1!

Yah, millenial are all born in the wrong time.

Masih untung kamu masih bisa dapat gelar S1. Kalau amit-amit kamu engga bisa kuliah, Kanda Fajar bisa pastikan kalau kamulah yang termiskin dari generasi yang sudah miskin. Data menunjukkan kalau sejak 2010, terdapat 11,6 juta lowongan pekerjaan. 11,5 jutanya didapatkan oleh pemegang gelar minimal S1. Data ini memang asalnya dari Amerika tapi tidak menutup kemungkinan kalau di Indonesia pun bisa sama.

Penambahan jumlah lapangan kerja juga kebanyakan terkonsentrasi di bidang-bidang yang tidak memerlukan skill dan daya analitik tinggi. Perusahaan-perusahaan sekarang juga makin kapitalis. Karyawan dianggap sebagai liability (beban). Alhasil, mereka lebih suka tenaga kerja outsourcing daripada karyawan tetap. Dengan sistem ini, karyawan dipaksa banting setir jadi independent kontraktor dan kehilangan 40% dari gaji yang seharusnya mereka dapatkan. Plus, mereka juga tidak punya hak mendapatkan training, career advancement atau benefit-benefit lainnya.

Yah, Once again millenial are all born in the wrong time. We are trapped in series of structured bad luck.

Categories: Analisa Ekonomi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.