Good money habit is the new sexy

Buat kamu yang kebetulan baca blog post Kanda Fajar ini, Kanda Fajar mau tanya apa sih yang membuat kamu tertarik sama seseorang??

Bentuk badan? Wajah? Kemampuan otak? Atau mungkin hartanya?

Apapun itu, Kanda Fajar engga akan nge-judge jawabanmu. Well, I even don’t really care about it because it’s personal. It is 100% up to you. Secara pribadi, Kanda Fajar justru menitikberatkan pada otak dan wajah. #LohKok

Yang Kanda Fajar mau kasi tau di blog post ini adalah kriteria-kriteria diatas itu sangat subjektif dan tidak bisa diukur. Cewek yang dimata kamu cantik banget bisa aja dianggap jelek sama temanmu. Cowok yang kamu anggap pinter banget pun bisa dianggap bodoh sama ayah kamu cuma gara-gara dia ga bisa main catur. If that so, what’s the best metric? Statistically, it is a credit score.

Buat kamu yang engga tau credit score itu apa, ini jawaban dari Wikipedia:

Numerical expression based on a level analysis of a person’s credit files, to represent the creditworthiness of an individual

Di Indonesia sendiri, Bank Indonesia secara resmi menyebut credit score dengan Informasi Debitur Individual (IDI) Historis. Tujuannya cuma satu: mengukur seberapa pantas kamu mendapat kredit dari kreditur.

Sounds simple but, informasinya sangat komperhensif, mencakup seluruh penyediaan dana/pembiayaan dengan kondisi lancar dan bermasalah mulai dari Rp.1 keatas, serta menampilkan informasi mengenai historis pembayaran yang dilakukan dalam kurun waktu 24 bulan terakhir. Lewat perantara IDI Historis ini, lembaga keuangan dapat men-track informasi diri kamu seperti identitas, fasilitas penyediaan dana/pembiayaan yang diterima, agunan, penjamin, dan kolektibilitas.

Further Look at Credit Scoring

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, skor kredit adalah semacam bentuk assessment diri kamu lewat kacamata lembaga keuangan.

Semakin tinggi skor yang kamu miliki, semakin mau bank-bank diluar sana memberi uang mereka padamu. Kalo credit score kamu tinggi, kamu butuh 10 juta, eh banknya malah nawarin 25 juta. Gitu, lah simple-nya.

What makes a credit score via dupaco.com

Yang jadi masalah adalah meningkatkan skor kredit itu susah. Sama kayak kamu main DOTA 2, XP cuma naik perlahan demi perlahan setiap kali nge-war. Padahal konsepnya gampang banget. Pinjem banyak, pinjem sering dan bayar tepat waktu.

2 hal pertama gampang dilakukan, tapi tidak dengan poin ketiga. Padahal, kalau dibobot, poin ketiga ini yang berkontribusi paling besar untuk menentukan keseluruhan skor.

Why Higher Credit Score Makes You Look More Attractive

Kanda Fajar engga bohong sama kalimat diatas. Ada bukti empirik yang sudah dibuktikan sendiri oleh Match Media Group (perusahaan dibalik Tinder).

Menurut analisis mereka, faktor financial responsibility ternyata lebih dianggap penting daripada sense of humor, ambition sama looks.

Statistik membuktikan, 77 persen wanita dan 61 persen laki-laki memandang pasangan yang punya financial responsibility lebih tinggi itu menarik. Well, kamu boleh aja engga percaya dengan fakta mengejutkan ini, tapi kamu perlu ingat kalau penilitian ini berasal dari Tinder, sebuah perusahaan yang tujuan utamanya adalah mempertemukan seseorang dengan cinta sejatinya.

Supaya lebih jelas, kamu boleh lihat diagram dibawah.

data empirik dari Tinder via Bloomberg.com

Ada alasan yang masuk akal yang mendasari fakta ini. Menurut lembaga riset Kinsey Institute, credit yang tinggi menggambarkan kalau seseorang itu bisa mengelola apapun dengan baik. Skor yang tinggi juga secara tidak langsung menggambarkan karakter seseorang. Yap, credit score bisa menunjukkan tanggung jawab, visi dan perilaku seseorang.

Oh iya. Hal ini bahkan dibahas secara akademik lewat jurnal international. Judulnya Credit Scores and Committed Relationship. Kalau kamu mau baca, kamu bisa klik link ini.

Penelitinya menemukan fakta kalau kamu dan pasangan memiliki Credit Score yang mirip, hubungan mereka akan lebih langgeng. Mantab!!

The Bottom Line

Berada dalam sebuah hubungan itu bukan cuma soal perkara cinta semata. Cinta tidak cukup buat ngajak pasangan nonton atau makan seminggu sekali. Cinta itu cuma bisa indah kalau disertai perbuatan dan perbuatan itu butuh materi supaya busa diwujudkan.

Nah, kemampuan menghasilkan materi itu bisa diukur dengan credit score. In short, the higher the score, the more attractive you are in other’s people eyes.

Jadi, udah bukannya jamannya lagi bergaya parlente dan hang out terus terusan di cafe dan restoran mahal. Yang lebih penting sekarang adalah our ability to generate and manage money. Jadi materialistis bukan dosa, kok. It is just a reality we all have to face.

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *