Di jaman sekarang, tidak ada satu orang di dunia yang engga pernah denger kata “google.” Apalagi kalau kamu mahasiswa yang lagi skripsian kayak Kanda Fajar ini, Google adalah kata yang dekat dengan kamu. Lewat Google, kamu bisa cari jurnal segampang cari gambar. Entah gimana rasanya membayangkan dunia tanpa Google. Saking pentingnya Google, Oxford Dictionary bahkan memasukkan kata “google” jadi verb yang berarti “search for information about (someone or something) on the Internet using the search engine Google.” Gila.

Berbekal itu semua, hampir semua orang akan berpikir kalau semua product yang diciptakan Google itu selalu cutting-edge, one-of-a-kind, dan customer-centric. Nyatatanya engga gitu. Seperti perusahaan pada umumnya. Ada kalanya, Google “mencontek” produk perusahaan lain. Google jadi makin competitor-centric, menjadikan perusahaan lain sebagai sumber inovasi. Engga percaya, baca aja blog post ini sampai habis.

Google + = Facebook?

Layanan gagal dari Google via sumall.com

Kanda Fajar yakin, banyak dari kamu yang engga pernah tau apa itu Google+. Layanan ini diluncurkan Google pada tahun 2011. Tujuannya jelas: ingin masuk ke ranah media sosial yang saat itu dikuasai Facebook. Sayang, Google melakukannya dengan cara yang salah. Di Google+, ada fitur yang dikenal dengan circle. Simpelnya, circle mirip dengan group Facebook, namun dengan cara penggunaan yang lebih rumit. Selain itu, Google+ juga lambat mengakomodasi pengguna mobile. Fitur-fiturnya terlalu berat kalau dilakukan lewat handphone. Jadilah pada tahun 2015, Google+ dipecah jadi dua layanan lain: Photos dan Streams.

Google Home = Amazon Echo?

Mengejar Amazon Echo via theverge.com

Kedua product ini masuk dalam kategori smart speaker. Dengan kedua perangkat ini, rumah kamu dapat disulap menjadi smart home dan dikontrol dengan mudah lewat suara. Dengan tenologi AI, yang terbenam didalamnya, Google Home dan Amazon Echo mampu mengontrol kondisi rumah, mencari informasi, mengatur jadwal, memutar musik, bahkan menyarankan sesuatu bagi kita lewat perintah suara. Terkhusus buat Amazon Echo, blueprint-nya sendiri sudah digodok dari tahun 2010 oleh Amazon sebelum akhirnya diluncurkan pada 2014. Sedangkan Google Home, perangkatnya sendiri baru diluncurkan dua tahun setelahnya pada 2016.

Google Allo = Whatsapp?

Mengejar Whatsapp via theverge.com

Google Allo sepertinya memang dibuat untuk menyaingi Whatsapp. Diluncurkan pada 2016, Google Allo menggunakan nomor handphone sebagai ID, bukan username kayak Line dan semacamnya. Perbedaan paling mencolok dari kedua aplikasi messaging ini adalah Allo punya fitur smart reply, tapi whatsapp engga. Tapi dari segi privacy, Whatsapp jagonya. Aplikasi ini sudah mengadopsi sistem end-to-end encryption yang berguna supaya pesan yang ditransmisikan tidak bisa dibaca. Sementara Allo, kalau end-to-end encryption diaktifkan, fitur smart reply jadi tidak berguna karena jawabannya jadi itu-itu aja.

Google Assistant = Siri?

Ketinggalan dari Siri-nya Apple via 9to5google.com

Peluncuran iPhone 4S adalah sesuatu yang fenomenal di tahun 2011 kemarin. Gimana engga, saat itu dunia pertama kali melihat bahwa ada smartphone yang begitu cerdas menjawab pertanyaan penggunanya lewat suara. Setelahnya, Siri jadi semacam “app” wajib disetiap produk Apple. Mulai dari iPhone, iPad, Mac, AppleTV, HomePod, etc., semuanya sudah built-in sama Siri. Google engga mau kalah dan akhirnya merilis Google Asistant di 2016. Fungsinya mirip Siri, tapi dengan kemampuan yang lebih baik untuk mengenali “natural conversation” (kayak pakai elo gue gitu dah), mengidentifikasi lagu dan mentransfer uang. Bisa dimaklumi lah ya kenapa rilisnya terlambat banget.

Google Cloud Platform = Amazon Web Service?

Mirip AWS, ya via bercacomputel.com

Dunia sekarang memasuki era cloud computation. Itu artinya kita tidak perlu repot lagi mikirin masalah infrastructure kalau lagi mau bikin project. Tinggal sewa dari provider, pakai, bayar. Semudah itu. Nah, salah satu provider cloud computation yang paling terkenal adalah AWS (Amazon Web Service). Di luncurkan pada 2012, sekarang AWS udah punya 90 layanan, termasuk computing, storage, networking, database, analytics, application services, deployment, management, mobile, developer tools, dan perangkat Internet of Things. Hampir setengah populasi layanan di internet di-host lewat AWS. Netflix, situs streaming yang terkenal dengan serial-serialnya yang kece, men-stream semua videonya ke seluruh dunia lewat AWS. Pada 2014, Google akhirnya merilis Google Cloud Platform (GCP) untuk menyaingi kedigdayaan AWS. Kelebihan GCP adalah infrastrukturnya sudah teruji untuk YouTube dan Google Search yang sering kita pakai itu. Plus, pricingnya juga lebih murah dari AWS. Tapi tetap aja, di bisnis cloud computing, AWS masih juaranya.

BTW, website ini juga di-host di GCP loh. Hehe

Bisnis butuh inovasi untuk terus berada di top position. Tapi, harga sebuah inovasi itu mahal. Belum lagi kalau gagal. Salah satu mantan engineer Google pernah cerita kalau Google sudah semakin jauh dari slogannya; “Focus on the user and all else will follow.” Karena apa, karena karyawan-karyawan Google digaji dari “kesibukan berinovasi” bukan dari “kedekatan dengan konsumen.” Paham bedanya?

Jadi gini, Google suka berinovasi, tapi kan inovasi engga setiap hari muncul. Butuh kreativitas dan perenungan diri dulu, kan. Cara termudah adalah mengkopi inovasi orang lain dan beri tambahan fitur atau buat yang lebih baik. Makanya, kalau kamu perhatikan, ada banyak layanan Google yang saling overlapping. Google Assistant dan Google Now contoh mudahnya. Keduanya mirip tapi diperlakukan dengan sangat berbeda. Tinggal menunggu waktu sampai salah satunya dihentikan.

Yah, ternyata kebanyakan inovasi itu engga bagus juga ya.

Categories: Tech

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.