Tak terasa kita sudah memasuki bulan Puasa. Tak terasa juga sebentar lagi kita juga akan merayakan lebaran. Ngomong-ngomong soal lebaran, ada satu kata yang identik banget dengan lebaran, dan hari raya pada umumnya. Kata itu adalah THR aka Tunjangan Hari Raya. Buat sebagian orang, dapat THR itu ibarat uang jatuh dari langit. Dapat extra cash yang bisa dibuat beli-beli buah tangan untuk orang di kampung halaman. Tapi bagaimana kalau in case, uangnya engga kamu pakai apa-apa?

Lebih baik investasikan saja ke reksadana. Daripada nganggur dan kemakan inflasi ya, kan?

Apa Itu Reksadana?

Secara sederhana, reksa dana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor), lalu dana itu akan diinvestasikan oleh manajer investasi, ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito. In other words, you have people investing your money on your behalf.

Nah, yang kamu beli adalah unit reksadananya. Pendek kata, kalau kamu beli reksadana, kamu sebenarnya membeli produk investasi yang sudah diolah dan dibundel oleh si manajer investasi tadi.

Oiya. Secara prinsip, setelah kamu beli, kamu jadi engga punya kuasa atas ke instrumen mana uangmu akan diinvestasikan. Kamu cuma tahu kalau uangmu menghasilkan return atau justru menderita loss dari laporan yang diberikan secara periodik.

Walaupun begitu, kamu tetap punya kuasa untuk mengetahui bibit, bebet dan bobot dari unit reksadana yang kamu beli dari prospektusnya. Dari situ, kamu bisa tahu, tuh berapa banyak nantinya uangmu dialokasikan ke obligasi, pasar uang atau saham. Kamu juga bisa tahu ke saham mana aja atau ke obligasi mana aja uangmu diinvestasikan. Informasi-informasi itu harus dilampirkan dalam prospektus. Kalau engga, si manajer investasi harus berurusan sama OJK.

Mitos dan fakta reksadana via bnpparibas-ip.co.id

Produk Reksadana Apa Yang Bagus Buat Dibeli?

Pertanyaan satu juta dollar dari setiap pemula adalah reksadana apa yang harus mereka beli. Well, engga ada jawaban pasti, sih karena tiap investor itu berbeda dan di pasaran, ada banyak banget pilihannya.

Tercatat, per akhir tahun 2016, OJK bilang bahwa ada 1.414 jenis produk reksadana yang bisa dibeli masyarakat. Dengan banyaknya pilihan yang tersedia, masyarakat, khususnya yang awam, justru makin bingung menentukan pilihan. Mereka lagi-lagi terjebak dengan pertanyaan “reksadana apa yang harus aku beli?”

Jawabannya adalah apa saja. Pada dasarnya, semua reksadana itu dikelola dengan profesional oleh para profesional. Jadi, sebenarnya apapun yang kamu beli, it’s not a big deal. Yang harus diperhatikan adalah kecocokan. Dalam hal ini, kamu harus kenal dulu sama dirimu sendiri baru cari tahu reksadana mana yang sesuai.

Cara kerja reksadana via most.co.id

Tentukan Risk Tolerance/Risk Profile-mu

Ini adalah langkah pertama yang harus kamu lakukan. Sun Tzu aja nyuruh kamu untuk mengenali dirimu sebelum perang, kan. Hehehe.

Tapi ini beneran. Setiap orang punya risk tolerance yang berbeda-beda. Ada yang risk averse (risk tolerance: low), risk moderate (risk tolerance: average), dan risk taker (risk tolerance: high). Engga ada standar pasti soal risk tolerance ini, tapi yang jelas, kalau kamu anaknya adrenaline junkie gitu, besar kemungkinan kamu tipe risk-taking dan siap menghadapi risk exposure yang tinggi.

Kenali Timeline Pribadimu

Ini juga salah satu poin yang menentukan sebelum kamu membeli reksadana: tentukan dulu tujuan finansialmu. Misalnya, kalau kamu mau beli iPhone X, jangan pilih reksadana saham, tapi pilihlah reksadana campuran atau pendapatan tetap. Beda kalau kamu mau uangnya untuk biaya menikah atau beli rumah. Untuk kasus ini reksadana saham adalah pilihan yang cocok.

Kenali Tipe-Tipe Reksadana

Setelah kamu mengenal dirimu dan tujuan finansialmu, sekarang saatnya kamu mengenal tipe-tipe reksadana yang ada di market. Secara garis besar, cuma ada 4 tipe reksadana; reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran dan reksandana saham.

Dari namanya, kamu sebenernya udah bisa menebak bagaimana komposisi investasi dari unit yang bakal kamu beli. Misalnya, kalau kamu beli reksadana pasar uang, unit reksadana yang kamu beli akan sebagian besar (paling banyak 90%) akan ditempatkan di deposito berjangka dan instrumen pasar uang lainnya. Begitu juga dengan tipe-tipe yang lain.

Oleh sebab itu, ada baiknya kita telaah lebih dalam masing-masing tipenya biar makin ngerti.

Reksa Dana Pasar Uang

Reksa dana pasar uang adalah jenis reksa dana yang menempatkan seluruh dana investasi pada instrumen pasar uang yang bersifat utang dan memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun seperti deposito, obligasi dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Reksa dana pasar uang merupakan jenis reksa dana dengan risiko yang sangat rendah, sehingga cocok untuk para investor konservatif.

Cocok untuk tipe investor: risk averse

Cocok untuk tujuan finansial dengan berjangka waktu: kurang dari 1 tahun

Reksa Dana Pendapatan Tetap

Reksa dana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang menempatkan sekurang-kurangnya 80% dari dana investasi ke dalam efek yang memberikan pendapatan tetap seperti surat utang negara maupun surat utang perusahaan yang memiliki jangka jatuh tempo lebih dari satu tahun. Reksa dana pendapatan tetap memiliki risiko yang lebih tinggi dari reksa dana pasar uang, oleh karena itu reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi pilihan reksa dana bagi para investor moderat.

Cocok untuk tipe investor: risk moderate

Cocok untuk tujuan finansial dengan berjangka waktu: antara 1-3 tahun

Reksa Dana Campuran

Reksa dana campuran adalah reksa dana yang menempatkan dananya untuk diinvestasikan ke dalam berbagai jenis efek secara sekaligus. Efek tersebut merupakan efek ekuitas (saham), surat utang maupun instrumen pasar uang. Para investor jenis moderat juga disarankan untuk memilih reksa dana campuran. Sama seperti reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran juga memiliki tingkat risiko yang sedang.

Cocok untuk tipe investor: risk-moderate

Cocok untuk tujuan finansial dengan berjangka waktu: antara 3-5 tahun

Reksa Dana Saham

Reksa dana saham adalah reksa dana yang menempatkan sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelola untuk diinvestasikan ke dalam efek yang bersifat ekuitas (saham). Reksa dana saham memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingan reksa dana lainnya, oleh karena itu reksa dana jenis ini merupakan jenis reksa dana yang paling sesuai untuk Anda yang termasuk investor jenis agresif. Karena dengan risikonya yang cukup tinggi, Anda juga akan mendapatkan returnyang tertinggi dibandingkan jenis reksa dana lainnya.

Cocok untuk tipe investor: risk taker

Cocok untuk tujuan finansial dengan berjangka waktu: lebih dari 5 tahun

High Risk, High Return via reksadanauntukpemula.wordpress.com

#Tips Penting

Secara teori, ada 3 metric penting yang perlu diperhatikan sebelum memilih produk reksadana. Pertama adalah AUM, dan yang kedua adalah NAV.

AUM = Asset Under Management

Nilai ini menunjukkan banyaknya dana kelolaan masyarakat yang terkumpul pada suatu reksa dana termasuk hasil pengembangannya. Jika disebut NAB reksa dana berarti total dana kelolaan pada suatu reksa dana, namun jika disebut NAB Manajer Investasi berarti total dana kelolaan yang dipercayakan ke suatu perusahaan Manajer Investasi. Biasanya merupakan jumlah keseluruhan dari berbagai produk reksa dana. Jumlah Dana Kelolaan merupakan suatu indikator seberapa percaya masyarakat terhadap Manajer Investasi atau Reksa Dana tertentu. Semakin besar berarti semakin besar pula kepercayaan masyarakat dan sebaliknya. Meski demikian, tidak ada ketentuan berapa baru disebut besar atau kecil.

NAV = Net Asset Value

Dalam Bahasa Indonesia disebut Nilai Aktiva Bersih/NAB. Nilai ini juga sering disebut dengan harga reksa dana. NAV dihitung dengan membagi antara Jumlah Dana Kelolaan/AUM dengan Jumlah Unit Penyertaan. Secara perhitungan, apabila tidak ada kenaikan pada harga saham dan obligasi yang menjadi portofolio investasi, maka harga reksa dana akan tetap karena dihitung dari pembagian Jumlah Dana Kelolaan yang bertambah dan Jumlah Unit Penyertaan yang juga bertambah. Harap diingat bahwa investor reksadana baru tahu harga reksadana pada esok hari, sebelum pukul 12.00 setiap hari, atau esok harinya lagi bila transaksi dilakukan setelah pukul 12.00.

Banyak banget, ya yang harus dicerna? Memang. Tapi rule of thumb-nya adalah kalau kamu lagi membandingkan produk-produk reksadana yang sejenis, pilih yang AUM dan NAV-nya lebih tinggi. Satu lagi, pastikan juga NAV-nya lebih tinggi dari IHSG, ya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.