Selama kira-kira seminggu belakangan ini, jagad sosial media di Indonesia kembali geger gara-gara ulah Papa. Setidaknya ada satu orang pesakitan yang harus merasakan dinginnya hidup dibalik jeruji besi-besi cuma karena lawakan. Yah, melawak di negara ini memang dibatasi ruang geraknya, apalagi kalau berurusan sama orang penting kayak Papa kita satu ini.

Dyan Kemala Arrizzqi. Dialah orang yang jadi peringatan kepada kita semua bahwa Papa sungguhlah orang terhormat yang sama sekali tidak boleh dijadikan lawakan. Menurut Kompas, Dyan Kemala Arrizzqi ditangkap di rumahnya di Tangerang sekitar pukul 22.00 WIB. Dia kini berstatus tersangka dan dijerat pasal 27 ayat 3 Undang-undang No. 11 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Saat penangkapan, polisi juga sekalian menyita barang bukti yang diduga sebagai alat bantu kejahatan seperti satu buah tablet Samsung warna hitam abu-abu, satu buah Sim Card Simpati No. 0822 72418602, dan satu buah memori card merek vigen dengan kapasitas 32 GB.

Kesalahan orang ini cuma satu: meme hasil karyanya menyebar ke akun sesama rekannya setelah dia memasangnya sebagai status di Instagram dan medsos lainnya.

Goddammit! How can the cops called it as a crime???!

Kontroversi Pasal Karet

Dyan Kemala Arrizzqi bukanlah korban pertama dari pasal 27 ayat 3 UU ITE ini. Setidaknya masih ada 32 orang lain yang akan bernasib sama dengan Dyan Kemala Arrizzqi.

Yah, apa mau dikata lagi. Betapa tidak beruntungnya Dyan Kemala Arrizzqi dan 32 orang lain itu hidup di negara ini. Sudah tahu negara ini sangat menjunjung tinggi sopan santun dan budi pekerti eh masih nekat bikin mengkritik orang. Yang dikritik si Papa, lagi. Huft

Obama pun jadi objek Meme via cbs.com

Padahal nih, ya. Harusnya mereka tahu bahwa mereka sekarang ada di negara yang maju yang sangat memelihara rakyatnya. Bahkan negara juga harus mengatur bagaimana masyarakatnya bersikap dan bertutur kata.

Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya, sih. Kan kalau tidak diatur begitu, sikap dan ucapan kita bisa menyakiti seseorang. Terus jadinya berantem, deh. Kan repot kalau gitu.

Makanya, Kanda Fajar sebenarnya setuju kalau UU yang mengatur tentang pencemaran nama baik, perilaku kurang menyenangkan dan yang mirip dengan itu ditegakkan setegak-tegakknya. Semuanya demi terciptanya harmonisasi dan menekan potensi terjadinya konflik karena sakit hati.

Fix. Di Indonesia, kamu bisa dengan gampangnya ditangkap kalau-kalau ada orang yang sakit hati sama kamu.

Persis kayak si Papa yang sakit hati karena dirinya jadi bahan becandaan di media sosial. Padahal kan, kalau pikiran si Papa positif, dia harusnya senang, sekaligus bangga, karena dirinya bisa membuat banyak orang tersenyum simpul. Sayang, si Papa orangnya mikir yang negatif-negatif mulu. Jadinya, ya doi sakit hati dan memanfaatkan hukum di Indonesia untuk melawan balik.

Sial. Bisa aja nih si Papa.

Super Papa

Kalau Metropolis punya Superman, negara kita ini punya Super Papa. Kalau Superman adalah seorang alien yang punya kemauan untuk melindungi Bumi, Super Papa hanyalah manusia biasa dengan kemampuan berkelit yang tiada tanding.

orang-orang pada peduli banget nih sama Papa via tempo.co

Setidaknya, kita semua sudah tahu bahwa si Papa terkait dengan dua mega masalah negeri ini; saham Freeport dan e-KTP. Dari dua kasus itu saja, kerugian negara bisa triliunan, belum lagi kalau ternyata masih ada kasus-kasus lain yang bisa saja tercium baunya sewaktu-waktu.

Berada diantara dua pusaran masalah yang begitu rumit, si Papa dengan lincahnya mengelak dan berkelit dari apapun dan siapapun yang berani mengganggunya.

Mulai dari sakit gula darah, vertigo sampai praperadilan. Semua itu adalah cara Papa yang kita tahu (sampai saat ini) untuk menjalankan aksinya. Besar kemungkinan kalau Papa masih punya beragam cara lain untuk mempertahankan rekor tidak tercyduk-nya.

Keren. Juga, nih si Papa. Mungkin dia patut dijuluki sebagai escaped artist terhebat sepanjang sejarah sulap Indonesia. Mas Darmian mesti buru-buru berguru sama Papa kalo untuk melarikan diri gini. Kan lumayan buat modal ikut America’s Got Talent tahun berikutnya. Hehehe.

Say NO to Meme (dan Kebebasan Berekspresi)

Mari kita telaah lebih dalam apa sebenarnya definisi dari Meme.

Menurut Wikipedia kayak gini:

A meme (/ˈmiːm/ MEEM) is an idea, behavior, or style that spreads from person to person within a culture — often with the aim of conveying a particular phenomenon, theme, or meaning represented by the meme. A meme acts as a unit for carrying cultural ideas, symbols, or practices, that can be transmitted from one mind to another through writing, speech, gestures, rituals, or other imitable phenomena with a mimicked theme. Supporters of the concept regard memes as cultural analogues to genes in that they self-replicate, mutate, and respond to selective pressures.

Dari kaata-kata diatas kita bisa tarik kesimpulan kalau MEME sebenarnya adalah medium untuk menyampaikan dan merespon apa saja yang terjadi di masyarakat.

Dalam tingkatan yang lebih tinggi, MEME bisa sama posisinya dengan demonstrasi (minus panas-panasan di jalan dan nasi bungkus yang dibagikan sama panitia).

Malahan, efeknya bisa lebih luas karena dengan mudah menyebar lewat internet. Di jaman seperti ini, situs lifewire bahkan menyamakan MEME dengan virus flu dan batuk karena penyebarannya yang bisa sampai tidak terkendali.

New York Times aja sampai nulis kayak gini,

Imagine you’re a millionaire or billionaire with strong political views and a desire to spread those views to the masses. Do you start a think tank in Washington? Funnel millions to a shadowy “super PAC”? Bankroll the campaign of an up-and-coming politician?

For a growing number of deep-pocketed political donors, the answer is much more contemporary: Invest in internet virality.

See? Potensi sebuah MEME yang viral ternyata bukan cuma untuk menhibur, tapi juga untuk mengekspresikan kekesalan atau dukungan dan searangan kepada politikus.

Di Indonesia, rakyat kesal ulah Papa menjadi semakin menjadi-jadi. Mau diperiksa, eh malah alasan ini-itu. Kalau engga salah ya mbok dituruti aja panggilan polisi.

Oke. Si Papa memang alasannya sakit. Anggap ini benar. Tapi kenapa waktu Papa menang di praperadilan, Papa langsung sembuh. Beberapa hari setelahnya malah sudah mulai bisa muncul di media. Is it such a coincidence?

Karena keanehan ini. Wajar kalau beberapa dari kita sebel. Daripada demo panas-panasan dan tidak menghasilkan apa-apa, beberapa berpikir kreatif dengan membuat meme. Dengan begitu, mereka bisa mengeluarkan kekesalan mereka plus menghibur orang-orang lain.

Demo kalau gagal bisa memantik kerusuhan. Meme kalau gagal apa sih yang bakal terjadi? paling-paling jokes-nya garing dan di-delete. Mulia banget, kan sebenarya Dyan Kemala Arrizzqi (dan 32 orang lainnya) ini. Dia mau menghindari konflik dan malah menghibur.

Di Indonesia, dan bahkan di belahan dunia manaapun, belum pernah ada kejadian orang-orang ribut gara-gara MEME. Papa bisa jadi orang pertama sekaligus terakhir yang melapor ke polisi karena dirinya jadi objek MEME. Ya mau gimana lagi, si Papa sensitif sih orangnya.

Categories: Opini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.