Indahnya Swiss dan Rumitnya Cinta di Film Suatu Hari Nanti (21+)

Cinta adalah perjalanan. Kanda Fajar setuju sama kata-kata ini. We need to keep searching for the best until we found one. Terus kalau udah dapet pasangan tapi masih juga selingkuh? Itu artinya perjalanan belum usai.

Moral of the story-nya adalah jangan pernah mengharapkan pencarian cinta itu mudah dan gampang. Sebaliknya, semakin susah didapat, semakin worth it perjalanan yang kita lakukan. Itu mungkin yang kira-kira garis besar film terbaru garapan Salman Alristo yang berjudul Satu Hari Nanti. Lewat film ini, kamu bakal tau kalau punya pacar bukan serta merta berarti berakhirnya pencarian cinta dua anak manusia. Yah, cinta itu emang rumit dan ga ada rumus bakunya.

Kamu masih ragu buat nonton filmnya, tenang, kamu bisa baca dulu spoiler-nya dibawah.

Sinopsis

Suatu Hari Nanti punya kisah yang berpusar pada kehidupan Alya dan Bima. Alya itu mahasiswa yang belajar membuat coklat di Swiss. Di negara ini, dia tinggal di sebuah apartemen, yang jauh lebih gede dari kamar kosan Kanda Fajar btw, bersama Bima. Bima ini musisi panggilan gitu yang kerjaanya manggung dari cafe ke cafe lain. Selama 3 tahun ini, Alya dan Bima udah tinggal satu rumah. Kalau kalian pikir hubungan mereka adem ayem aja, kalian salah. Nyatanya, Bima dan Alya cukup sering berantem. Bahkan di anniversary ketiga mereka, Alya dan Bima masih sempat-sempatnya berantem. Padahal, sebelumnya udah bersentuhan bibir dengan seksinya.

Penyebab mereka berantem hari itu sebenarnya simple, Bima engga bilang ke Alya kalau dia bakal manggung di Beer House. Di mata Bima, dia tahu kalau dia belum tentu tampil jadi wajar aja kalau engga bilang. Sayangnya buat Alya, Bima itu kayak engga pernah percaya sama dia. Alhasil, hari yang seharusnya berakhir baik malah berubah jadi perang dingin. Untungnya, Bima dan Alya punya teman-teman yang pengertian dalam diri suatu Korina dan Din. Korina mengejar Bima sementara Din menenangkan Alya. Tindakan yang terpuji memang, tapi situasi malah jadi semakin rumit setelahnya. Alya malah tidur dengan Din di apartemen sementara Bima dan Korina mesra-mesraan di bawah jembatan. Keempat orang itu secara sadar sudah saling punya affair dengan sahabat sendiri.

Keesokan harinya (dan hari-hari lainnya), hubungan Alya dan Bima masih belum kembali seperti sedia kala. Mereka masih tetap tinggal bareng, tapi sikap mereka tidak pernah sama lagi. Kalau Kanda Fajar lihat, mereka jalan bareng pun cuma tanpa rasa apapun. Hambar aja gitu.

Din sama Korina pun gitu. Korina udah tau kalau Din emang orangnya susah serius tapi belakangan Korina suka membesar-besarkan masalah. Dan akhirnya mereka putus. There is nothing hold them back to spend more time with Bima and Alya separately.

Benar saja. Pasca putus, Din dan Korina makin punya banyak waktu buat mendekati dua sahabatnya yang lain. Hal ini juga terbantu dengan hubungan Alya dan Bima yang tidak kunjung membaik. Kedua orang ini emang entah kenapa susah banget buat bersatu lagi. Masalah kecil bisa jadi besar dengan mudah. Pernah suatu ketika Alya menawarkan diri buat jadi manajer Bima. Sebagai manajer sekaligus pacar, udah seharusnya kalau Alya ikut membantu Bima buat pitching ke manajer cafe ataupun mengatur jadwal manggung dan vlog-nya. Tapi Bima malah marah-marah. Dia malah menyalahkan Alya selalu bertindak seenaknya sendiri dan engga pernah tanya-tanya. Sebaliknya, Alya buat salah dengan engga bilang-bilang sama Alya kalau dia udah mulai main di suatu cafe. Dia malah manggil Korina, yang jelas-jelas (mantan) pacar sahabatnya. Jadi yang jelas, hubungan Alya-Bima bakal sama kayak Din-Korina.

4 sahabat yang saling punya affair via layar.id

Karena kesamaan nasib ini, Din jadi nyaman sama Alya sementara Bima sama Korina. Di satu waktu, Alya bahkan mau diajak tur sama Dina walaupun dia takut ketinggian. Sementara Bima, dia jadi sering banget menghabiskan waktu di rumah Korina. Dia bahkan sampai bikin lagu khusus berjudul “Ratu Rintikku.” Semua affair yang keempat orang ini lakukan berjalan sampai beberapa hari, mungkin minggu, lamannya.

Di satu waktu, Bapaknya Alya berniat menyusul Alya ke Swiss. Penyebabnya adalah selama 3 tahun (atau 5 tahun) ini, Alya belum juga melakukan pendekatan kerja sama dengan salah satu pabrik coklat di Swiss. Bapaknya Alya ini adalah tipikal ayah yang keras. Dia mendidik anaknya dengan keras supaya dia bisa mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Mungkin karena watak bapaknya itu, Alya tidak kuasa menolak permintaan ayahnya untuk meneruskan bisnis coklat keluarga di Jakarta. Tapi di hari itu, beberapa jam setelah kontrak kerja sama berhasil ditandatangani kedua belah pihak, Alya akhirnya dengan mantap mengutarakan apa yang dia inginkan. Dia tidak ingin membuat coklat dan menetap di satu tempat. Dia ingin berpetualang, menemukan resep-resep masakan yang belum pernah dicoba kebanyakan orang. Tanpa disangka-sangka, momen itulah yang sudah ditunggu-tunggu ayahnya. Ayahnya sebenarnya tahu kalau Alya tidak punya passion membuat coklat seperti ibunya, dan dihari itu, betapa bahagianya dia saat tahu Alya akhirnya punya keberanian mengungkapkan cita-citanya.

Di hari yang sama, Alya bukan cuma punya keberanian untuk mengejar cita-cita, tapi juga untuk kehidupan cintanya dengan Bima. Alya tidak lagi berhubungan dengan Din. Dia juga tidak terlalu ngoyo sama Bima. Bima pun demikian. Dia juga memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk merasakan kebebasan yang selalu dia inginkan. Bukan berarti keduanya akan hilang kontak selamanya, namun sebaliknya, menurut Bima dan Alya, ini adalah saat yang tepat untuk menemukan diri sendiri. Mereka percaya kalau cinta adalah sebuah perjalanan, perjalanan yang seharusnya bisa membuat cinta mereka bertemu kembali dalam versi yang lebih baru dan lebih baik dari sebelumnya.

Cakep ya pemandangan di Swiss via indonesianpageants.com

Oh, iya. Tentang Korina dan Din. Mereka berdua juga sudah merajut kembali kisah mereka yang baru. Din malah dengan buru-buru mengajak Korina nikah. Korina menolak dengan halus. Dia ingin mengulang kisah-kisah indah yang sudah mereka lewati dengan lebih pelan, lebih serius dan lebih membekas.

Impression

Sebelumnya, Kanda Fajar mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya buat GoViral dan Komunitas ISB yang sudah membuat Kanda Fajar bisa nonton premier film ini. Terima kasih juga buat Damavara, blogger yang juga teman SMP, SMA dan kuliah Kanda Fajar yang udah mau susah-susah nelponin Kanda Fajar buat ngajakin nonton. Walaupun begitu, Kanda Fajar akan tetap berusaha buat jujur dalam memceritakan film ini ke kamu-kamu semua.

rumit nih cerita cinta mereka via linikini.id

Mari kita mulai dengan good side-nya dulu. Yang keren dari film Suatu Hari Nanti adalah kualitas shot-shot-nya yang bener-bener memanjakan mata. Keindahan Swiss dieksploitasi habis-habisan disini. Tapi film ini bagus bukan cuma karena faktor Swiss-nya. Ceritanya juga oke, kok.

Menurut Kanda Fajar, Suatu Hari Nanti bisa menghadirkan situasi cinta yang rumit. Kamu sama pacar kamu lagi marahan lalu teman kamu datang menawarkan bahu untuk bersandar. Walaupun engga etis, wajar kalau sesaat berpaling ke sahabat kamu itu. Embel-embel 21+ juga dimanfaatkan dengan baik oleh para pemainnya. Sepanjang film, kamu bakal banyak ngeliat kissing scene dengan selipan adegan ranjang yang engga excessive. Cenderung pas takaran dan malah mendukung keribetan kisah cinta yang mau ditonjolkan.

Kurangnya adalah Suatu Hari Nanti terlihat ingin membagi rata porsi ceritanya ke Alya, Bima, Din dan Korina. Sayangnya, menurut Kanda Fajar, usahanya gagal. Di Suatu Hari Nanti, karakter Din dan Korina adalah sampingan. Keduanya ada untuk mendukung kisah Alya dan Bima. Malahan, di mata Kanda Fajar, Alya mendapat porsi cerita yang lebih banyak dari Bima. Mulai dari kisahnya yang gagal membuat coklat yang enak buat calon partner ayahnya, awal mula keinginannya berkeliling dunia, ketidakberaniannya menawarkan kue buatannya ke kritikus makanan (yang orang Jepang itu, loh), mood belajar yang naik turun tidak jelas sampai kedatangan ayahnya ke Swiss.

Satu lagi, mungkin karena mau menyeimbangkan keempat karakternya, beberapa masalah yang dialami tokoh utama (baca: Alya) seperti menggantung dan tidak pernah ada solusinya. Yang Kanda Fajar adalah saat Din mengantar kue coklat ke kritikus makanan di sebuah restoran. Kritikus itu bilang kalau yang buat (baca: Alya) sangat mencintai teh. Din pun bingung karena yang dia bawa adalah kue coklat. Setelahnya, tidak ada satu dialog pun yang menghubungkan teh dengan Alya. huft.

But overall, it is a good film to watch this weekends.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *