Rasa-rasanya, tidak ada satu orang pun di dunia yang tidak mengenal Samsung. Perusahaan asal Korea Selatan ini terkenal sebagai satu-satunya pesaing serius dari iPhone besutan Apple. Keduanya saling bersaing menjadi yang terdepan dalam menghadirkan teknologi tercanggih umat manusia dalam genggaman tangan.

Tapi sebenarnya, Samsung dan Apple itu engga bisa dibandingkan secara apple-to-apple. Pasalnya, Samsung yang kamu kenal itu nama sebenarnya adalah Samsung Electronic Co. Itu cuma salah satu dari sekian banyak subsidiary dibawah bendera Samsung Group. Kalau ditotal, jumlah anak usahanya sekitar 60-an perusahaan. Dan semua perusahaan itu bergerak di industry yang berbeda-beda semua. Wow!

Kalau menurut Kanda Fajar pribadi, Samsung Group itu malah mirip MNC group. Bukan cuma karena portfolio anak usahanya yang sangat diversed, tapi juga karena ikatan yang kuat antara bisnis perusahaan dengan politik dalam neger. Persamaan lainnya, saat Harry Tanoe terjerat kasus hukum atas SMS ancaman, salah satu pemimpin Samsung group, Jay Y. Lee, juga terjerat kasus hukum. Tidak tanggung-tanggung, Jay Y. Lee ini tersangkut kasus bribery yang membawa-bawa nama presiden Korea Selatan. Waduh.

The Case

Bulan Agustus kemarin, Central District Court di Seoul akhirnya menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara buat Jay Y. Lee, Vice Chairman dari Samsung Electronics Co. Dia didakwa atas kasus bribery atau suap sebesar $17 juta dollar ke presiden perempuan pertama Korea Selatan, Park Geun-hye. Hukuman ini lebih rendah dari tuntutan 12 tahun penjara yang dilayangkan jaksa penuntut umum.

Saat Kanda Fajar baca berita ini di Reuters, ada satu hal yang Kanda Fajar pikirkan: apa manfaat dari tindakan suap ini?

Berbekal internet di kosan dan browser Firefox terbaru, Kanda Fajar memulai “research” ini. Hasilnya, Kanda Fajar menemukan fakta kalau Jay Y. Lee sampai nekat menyuap presiden demi mendapat pengaruh lebih kuat di Samsung Electronics, penyumbang 2/3 pendapatan dari Group Samsung secara keseluruhan.

Revenue Samsung Electronics dari tahun ke tahun via bloomberg.com

The Samsung History

Kalau kamu engga merasa aneh sama alasan Jay Y. Lee tadi, Kanda Fajar yakin kalau kamu lebih pintar dari Kanda Fajar. Kanda Fajar butuh waktu 1-2 hari plus diskusi sama dosen untuk bisa dapat fully understanding dari kasus Samsung ini.

Awalnya, Kanda Fajar pikir kalau setiap anak usaha pasti dimiliki oleh perusahaan induknya. Well, it is not wrong but the parent does not necessarily own the majority stake in the subsidiary.

Mari kita menilik sedikit ke sejarah Samsung.

Samsung didirikan pertama kali tahun 938 oleh Lee Byung-chull. Dengan modal awal sebesar 30,000 won ($27 USD), Samsung dulu adalah semacam grocery store. Perusahaan ini melakukan ekspor impor sembako seperti mie dan sayur-sayuran. Jauh banget dari kesan high-tech kayak sekarang.

Sayangnya, tahun 1947 perang Korea pecah dan busnis hancur berantakan. Lee Byung-chull memulai Samsung lagi dari awal sebagai produsen gula. Setelahnya, perusahaan berekspansi ke sektor properti dan pengolahan kayu. Samsung tidak berhenti sampai disitu. Bisnisnya menggurita ke segala lini dengan fokus membangun sektor industri Korea Selatan yang kacau setelah perang.

Barulah pada 1960 Samsung mulai masuk ke sektor eletronik dan teknologi. 20 tahun setelahnya, Samsung mengakuisisi Hanguk Jenja Tongsin, perusahaan yang bergerak di bidang papan sirkuit telepon. Pembelian ini lah yang nantinya akan menjadi cikal bakal Samsung Electronics yang sekarang kita kenal.

Sekarang, lini bisnis Samsung tersebar di berbagai sektor, mulai dari electronics, engineering, construction, retail, food, chemicals, logistics, entertainment, paper, telecommunication sampe theme park.

Chaebol

Dengan sekitar 60 jenis subsidiary, Samsung adalah konglomerasi terbesar di Korea Selatan. Dalam bahasa Korea, Konglomerasi bisa disebut juga Chaebol. Sebutan konglomerasi ini tidak terlalu representatif, soalnya Chaebol ini sejenis sebutan konglomerasi yang masih dikendalikan keluarga pendiri. Di Korea Selatan sendiri, Chaebol terbesar selain Samsung ya Lotte. Lotte Shopping Avenue di Kuningan juga salah satu assetnya, hehe.

Menurut laporan Bloomberg, para eksekutif Chaebol ini cukup sering tersangkut kasus hukum. Daftarnya lumayan panjang, mulai dari Hyundai, SK, Hanwha sampe yang terbaru ya Jay Y. Lee ini. Lengkapnya bisa kamu baca lewat link ini.

Dan bisa kamu kalau rata-rata Chaebol leaders ini bermasalah karena bribery.

Samsung Electronics Complex Structure

Di paragraf sebelumnya kamu udah tahu kalau Jay Y. Lee ini melakukan penyuapan. Kamu juga tau kalau tujuan dari aksi suap-menyuap ini adalah supaya Jay Y. Lee bisa punya kontrol lebih besar atas Samsung Electronics yang dipimpinnya. Mari sekarang kita masuk lebih detail, kontrol lebih yang dimaksud bisa diwujudkan dengan cara menyatukan dua atau lebih anak usaha Samsung yang lain. Dan Jay Y. Lee butuh bantuan pemerintah untuk itu.

See the main problem here?

In case you don’t realize it, Samsung Electronics complex structure is forcing Jay Y. Lee to bribe the government.

Ruwet kan status kepemilikannya via bloomberg.com

Perusahaan-perusahaan konglomerasi di barat biasanya memberikan sejumlah saham dengan hak voting khusus kepada keluarga pendiri. Praktik ini agak beda di Asia dimana keluarga pendiri biasanya masih menjadi pemegang saham mayoritas, bukan dengan saham dengan hak voting lebih.

Ini yang jadi masalah buat keluarga Lee. Menurut Bloomberg, keluarga Lee punya sebagian kecil kepemilikan di setiap anak usaha Samsung. Tapi, mereka bisa punya kontrol terbesar berkat yang namanya cross-holding. Contoh jelasnya kayak gini, Lee Kun-Hee, ayah Jay Y. Lee cuma punya 3.8% dari seluruh saham Samsung Electronics. Tapi dia juga punya 20% saham dari Samsung Life Insurance Co, yang juga punya hak milik sebesar 8% dari Samsung Electronics. Dengan praktik Cross-Holding itu, Lee Kun-Hee secara efektif punya sekitar 20% kepemilikan atas Samsung Electronics.

Masalah tambah pelik karena kondisi kesehatan Lee Kun-Hee kian buruk hari lepas hari. Kalau misalnya dia meninggal, Jay Y. Lee harus membayar pajak sebesar $6 billion USD sebelum bisa mewarisi saham ayahnya. Uang sebanyak ini bisa memaksa sang suksesor untuk melikuidasi saham keluarga, yang hasilnya sama saja memberikan kontrol perusahaan ke orang lain.

With those consideration in mind, Jay Y. Lee is trying so hard to merge Samsung C&T Corp with heil Industries Inc. Keduanya sebenarnya tidak terlalu berkaitan, satunya perusahaan trading dan konstruksi, yang satunya perusahaan pengembang dan pengelola theme park. But, Lee says the merger is make the units more competitive.

National Pension Service

Masalah selanjutnya yang harus dihadapi Jay Y. Lee adalah dia butuh restu dari major shareholder lain untuk menyelesaikan merger yang dia rencanakan. Major shareholder yang dimaksud adalah National Pension Service.

Secara ukuran, lembaga pensiun ini adalah yang terbesar ketiga di dunia setelah Jepang dan Norwegia. National Pension Service juga sebagai alat kontrol pemerinta atas chaebol-chaebol yang berkuasa di Korea Selatan. Terang saja, lembaga ini memiliki 9 % saham Samsung Electronics, 8% saham Hyundai Motor, 10.3% LG Display, dan kepemilikan di beberapa perusahaan besar lain.

Dengan kepemilikan sebesar itu, masuk akal memang kalau Jay Y. Lee meminta bantuan Park Geun-hye. Jay Y. Lee berusaha melobi National Pension Service untuk mengalahkan aktivis investor yang berniat menggagalkan rencananya.

Walaupun terjerat kasus hukum, orang-orang tetep aja beli produk Samsung via bloomberg.com
Categories: Analisa Ekonomi

Leave a Reply