Di era sepakbola modern seperti sekarang, sudah sangat jarang ada klub besar yang bergantung pada pemain-pemain akademinya sendiri. Dengan kekuatan uang, klub bisa membangun tim bermaterikan pemain-pemain berharga mahal. Contoh paling pas adalah PSG atau Manchester City. Di liga masing-masing, keduanya tidak terbendung. Keduanya bisa dengan mudah mengangkangi tim-tim lain dengan modal menjebol bank sampai dalam.

Real Madrid dulu juga gitu tapi era Zidane membuat tim ini sekarang lebih suka mengembangkan pemain muda yang dimentori pemain-pemain kelas A. Barcelona malah sebaliknya. Akademi La Masia mereka seakan mandeg menyetor pemain ke tim utama. Setelah era Messi, Iniesta dan Pique, tidak ada lagi produk asli mereka yang bisa masuk tim inti. Malahan, Barcelona mendatangkan Paulinho, Dembele dan Coutinho dengan harga mahal. Arsenal pun sepertinya akan segera memasuki fase itu dalam waktu dekat.

Arsenal jadi Galacticos?

Arsenal jadi berisi pemain-pemain mahal via sport.news.am

Selama satu dekade terakhir, Arsenal identik dengan tim yang doyan jualan. Arsene Wenger lebih senang memoles pemain-pemain muda menjadi permata yang kemudian bisa dijual mahal. Nasri, Fabregas, Van Persie, Sagna dan nama-nama lain yang engga mungkin disebutkan satu-satu menjadi barang jualan Arsenal. Metode ini membuat Arsenal punya dana cukup untuk merenovasi Stadion Emirates.

Fase itu sepertinya akan segera berakhir paling lama akhir musim ini. Sejak beberapa musim lalu, Arsenal mulai rela menjebol bank untuk mendatangkan pemain kelas A kayak Ozil dan Sanchez. Di musim 2017/2018 ini bahkan Arsenal kedatangan Aubameyang, Lacazette dan Mikhitaryan, 3 pemain yang punya track record bagus dan tentu engga murah.

Dengan begitu, Kanda Fajar cukup yakin kalau Arsenal bisa jadi tim Galacticos di dua musim mendatang.

Nasib Pemain Didikan Sendiri

Arsenal juga bukannya engga bisa mengembangkan pemain dari akademinya sendiri. Di skuat sekarang bahkan ada dua nama yang sering banget main: Wilshere dan Ramsey. Khusus buat Ramsey, performa dan komitmennya tidak perlu diragukan lagi paling tidak sejak dua musim lalu. Kanda Fajar engga heran kalau Ramsey selalu main kalau sedang fit.

Masalahnya ada pada Wilshere. Dia ini produk asli didikan Arsenal. Sejak muda dia digadang-gadang akan menjadi kapten tim di masa depan. Fans, termasuk Kanda Fajar, berharap dia akan mampu memimpin tim Arsenal yang penuh bintang di masa depan.

Arsenal yang (dulu) hobi jual pemain via thehardtackle.com

Sayang, kenyataan berkata lain. Wilshere terlalu sering naik meja perawatan. Alhasil, dia kesulitan mengembangkan permainan terbaiknya. Padahal, Arsenal (dan timnas Inggris) butuh pemain seperti dirinya. Wilshere termasuk gelandang yang nyaman dengan bola. Dia bisa mendrible bola, merangsek masuk ke area pertahanan lawan. Dia mungkin bukan tipe Xhaka dengan umpan jauh terukurnya. Dia juga bukan Ramsey yang bisa muncul tiba-tiba di kotak penalti dan mencetak gol. Wilshere lebih mirip Cazorla, gelandang yang mengalirkan bola dan menghubungkan pertahanan dan penyerangan.

Karena seringnya cedera, Wilshere sampai dipinjamkan ke Bournemouth. Performanya meningkat disana dan akhirnya dipanggil kembali untuk memperkuat Arsenal.

Di Arsenal performanya sebenarnya tidak terlalu buruk. Dia selalu bisa diandalkan pada saatnya. Kata “pada saatnya” menunjukkan kalau Wilshere sebenarnya tidak secara reguler dimainkan Arsene Wenger, padahal dialah pemain no. 10 Arsenal.

Jangan Lepas Wilshere, Arsenal!

Saat tidak ada pertandingan, berita-berita tentang Arsenal paling banyak adalah tentang aktivitas transfernya. Kanda Fajar mungkin akan me-recap rumor-rumor ini jadi satu blog post sendiri nanti. Tunggu saja.

Diantara banyaknya rumor transfer yang melibatkan Arsenal, ada satu berita yang engga kalah penting: Wilshere akan pergi dari Emirates.

Jangan lepas dua pemain ini dong via paininthearsenal.com

Berita ini berhembus sejak Arsenal tidak akan bernegosiasi lebih lanjut dengan Wilshere soal perpanjangan kontrak. Wilshere tinggal punya satu tahun lagi di Emirates. Sudah sewajarnya Arsenal bergerak cepat. Masalahnya, detail kontraknya engga pas. Arsenal pengen gaji Wilshere adalah berdasarkan banyaknya penampilan si pemain. Sebaliknya, Wilshere enggan gajinya dipotong karena faktanya, dia emang tidak selalu jadi pilihan pertama Wenger.

Saat ini, Wilshere bergaji £90,000 per minggu plus bonus. Di Inggris, gaji segitu sebenarnya engga tinggi-tinggi amat tapi angka ini lebih tinggi dari Koscielny atau Monreal, dua pemain yang jauh lebih sering tampil dan sekalinya tampil, performanya jarang mengecewakan.

Selain itu, besar kemungkinan Arsenal tidak bisa berlaga di Liga Champions musim depan. Means that, uang masuk juga akan berkurang. Untuk menyeimbangkan keuangan, gaji-gaji pemain harus direstrukturisasi. Wilshere pun bukan pengeculian. Arsenal pun bilang kalau tidak akan negosiasi kontrak lagi dan Wilshere boleh pergi kalau tetap tidak menerima isi kontraknya.

Kapten Arsenal masa depan via football365.com

Kanda Fajar sedih denger berita ini. Wilshere adalah produk asli Arsenal yang masih 26 tahun. Masih ada beberapa tahun buatnya untuk memperebutkan posisi inti. Dia masih bisa berkembang. Dia masih punya kemampuan jadi kapten Arsenal sepeninggal Koscielny. Kanda Fajar harap management Arsenal dapat mengetahui hal ini. Segera perpanjang kontrak Wilshere, Arsenal!

Note: Wilshere sekarang lagi cedera lagi pas latihan bareng timnas Inggris.

Categories: Arsenal Thought

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.