Semua hal dalam dunia keuagan itu berkaitan sama risk and return. Tentu saja mereka mengejar risk yang low dan return yang tinggi. Dua hal ini adalah dambaan setiap orang tapi tidak banyak orang yang bisa meraihnya. Well, Kanda Fajar pun masih mencoba walaupun sudah bikin postingan ini. Hehehe.

Sampai sekarang, instrumen saham masih dianggap sebagai instrumen investasi paling menguntungkan. Tapi ingat hal itu juga berarti kalau instrumen ini punya tingkat resiko yang lebih tinggi.

Kebanyakan orang masih suka bingung bagaimana melakukan assessment pada portfolio mereka. Bagaimana mengetahui tingkat resiko, imbal hasil dan lain-lain. Beberapa malah asal comot saham dan click buy tanpa benar-benar melakukan evaluasi. Semua berdasarkan pada banyak-banyakan modal dan keberuntungan. Kalau gitu, kan engga ada bedanya sama judi yang dosa?

Okay. Pada postingan kali ini Kanda Fajar akan berbagi bagaimana kamu bisa mengetahui imbal hasil dan resiko portfolio kamu. Perhatikan kata yang dicetak tebal. Portfolio berarti adalah kumpulan saham. Jadi, disini Kanda Fajar akan berasumsi kamu sudah punya saham pilihan yang sudah atau akan kamu beli.

Untuk strategi stock pickingnya, Kanda Fajar mungkin akan bahas itu dilain waktu.

Risk-Return Assessment Tool

Proses evaluasi portfolio sebenarnya bukan pekerjaan gampang. Untungya, sudah ada framework yang cukup mudah dan akurat untuk membantu kita melakukannya. Namanya Capital Asset Pricing Model atau biasa disingkat CAPM.

CAPM adalah suatu tool yang membantu investor memahami trade-off antara resiko sistematik dan imbal hasil yang diharapkan. Tool ini cocok untuk meng-assess saham karena pada hakikatnya CAPM dibuat oleh Nobel laureate William Sharpe untuk mengevaluasi asset yang beresiko.

Poin penting yang harus dipahami sebelum menggunakan CAPM adalah tool ini cuma berguna untuk meminimalisir systematic risk.

Apa itu systematic risk?

Okay begini penjelasan singkatnya. Ada dua tipe resiko dari semua investasi di pasar: systematic risk dan unsystematic risk.

Systematic risk sendiri memiliki arti bahwa setiap asset memiliki resiko akibat kondisi pasar yang fluktuatif. Penyebab fluktuasi ini bisa macam-macam, biasanya akibat rumor atau aturan baru dari pemerintah. Tingkat suku bunga, perlambatan ekonomi dan berita apapun yang terkait makro-ekonomi termasuk dalam tipe resiko ini.

Sebaliknya, unsystematic risk adalah resiko yang spesifik untuk asset itu aja. Kita ambil contoh saham, unsystematic risk-nya adalah data penjualan yang jelek, turnover pegawai yang tinggi, atau tindak korupsi manajemen.

Dari kedua tipe resiko ini, William Sharpe menemukan fakta bahwa imbal hasil dari investasi minimal harus sama dengan cost of capital-nya. Itulah ide dasar dari CAPM ini.

The Formula

Return yang sama dengan cost of capital itu sama aja useless. Buat apa kita susah-susah investasi kalau hasilnya sama dengan modal. Makanya, William Sharpe memodifikasi temuannya sehingga return dari investasi seharusnya sama dengan cost of capital plus risk premium-nya.

Oiya. istilah cost of capital dan risk premium mungkin asing buat kamu yang bukan anak keuangan. Padahal, ide besarnya sederhana dan mudah. Secara kasar, cost of capital adalah biaya yang kamu keluarkan untuk investasi. Istilah mudahnya modal. Walaupun kurang representatif, tapi keduanya hampir mirip.

Kalau risk premium, itu adalah besarnya kompensasi yang kamu harapkan karena mau meresikokan uangmu buat suatu asset.

Setelah mengetahui dua hal tadi, inilah formula lengkap dari CAPM:

capm
Rumus CAPM via financeformulas.net

Terlihat sederhana, ya?

Assessment Time!!

Setelah kita tahu formulanya, sekarang waktunya kita mulai mengevaluasi kinerja portfolio kita. Disini, Kanda Fajar ingatkan sekali lagi kalau kamu sebaiknya sudah punya daftar saham yang jadi incaran.

[Disclaimer: Saham yang Kanda Fajar pakai disini bukan merupakan rekomendasi jual atau beli. Hanya murni media pembelajaran]

Oh, satu hal lagi. Ada baiknya kamu pakai excel atau program spreadsheet lainnya biar gampang dan cepat.

Langkah 0

Pastikan Kamu sudah punya kumpulan-kumpulan saham yang jadi target. Kalau Kanda Fajar pake contoh kayak gini.

Langkah pertama:

Buka Financial Times (atau Bloomberg atau Reuters) dan masukkan kode saham kamu. Lalu cari Beta dari saham yang kamu pilih.

Beta ini sebenarnya adalah suatu nilai yang menunjukkan tingkat dari fluktuasi saham kamu dibanding pasar saham secara keseluruhan. Kalau beta-nya 1, itu artinya saham tadi bergerak selaras dengan pasar. Kalau 0, ya tidak berhubungan sama sekali.

 Langkah kedua:

Setelah kamu melakukan semuanya untuk semua saham pilihan kamu, sekarang saatnya kamu mencari pembandingnya, atau dalam kasus ini adalah risk-free asset.

Di Amerika sana, yang jadi risk-free asset adalah Treasury Bills yang bertenor 10 tahun. Kalau di Indonesia yang paling dekat adalah Obligasi Ritel Indonesia (asumsinya adalah kita ini investor retail, bukan institusi yang duitnya banyak).

Dari berbagai riset (baca: googling), kita ambil return ORI013 yang sebesar 6.6%.

Selain itu kita juga perlu mencari benchmark pasar, dalam hal ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah mencari-cari, akhirnya Kanda Fajar ketemu angka 18.46%. Ambil angka itu sebagai benchmark return.

Langkah ketiga:

Masukkan hasil yang sudah didapatkan di langkah pertama dan langka kedua ke excel. Untuk di kolom expected return, kamu harus masukkan rumus CAPM diatas. Dan inilah yang akan kamu dapatkan.

Untuk sementara, jangan hiraukan dulu kolom expected return dan status. Dua kolom itu “cuma” buat bantu Kanda Fajar mengetahui apakah saham pilihan Kanda Fajar itu overvalue atau undervalue. Theory said, never pick undervalued stocks. Tapi terserah kamu juga, sih.

Langkah Keempat

Selesai langkah ketiga, kamu baru sampai mengetahui expected return yang pantas per saham. Kita belum bisa tahu, berapa tingkat risk dan return dari portfolio kita. Makanya, di langkah keempat ini, kamu perlu bikin kolom baru dengan nama “Allocation”.

Seperti yang Kanda Fajar sempat ngomong di postingan sebelumnya, risk dan return portfolio itu bukan cuma tergantung dari apa sahamnya tapi juga berapa jumlahnya.

Tidak ada rumus pasti disini, karena it is more an art than science.

Setelahnya, kamu tinggal mengalikan expected return dengan proporsinya dan voila! Inilah assessment portfoliomu.

The Bottom Line

Setelah kamu mengikuti 4 langkah diatas, kamu sudah mulai bisa membandingkan kinerja portfoliomu dimasa depan dengan keadaan sekarang. Kalau hasil perbandingannya menunjukkan arah yang berlawanan, itu artinya ada yang salah dengan saham pilihanmu. Dan mungkin memang sudah saatnya kamu mulai menjual saham dalam portfolio untuk menyelamatkan modalmu.

Categories: Investasi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.