Ngomongin Millenial emang engga ada habisnya. Selalu ada aja hal menarik yang bisa dibahas. Mulai dari sikap konsumtifnya, kelakuannya di media sosial sampai sikap sok taunya. Saking populernya istilah ini, orang-orang tua yang engga tau-tau apa-apa soal Millenial, jadi sering latah menyebut millenial dengan sebutan “anak zaman now.” Setiap kali Kanda Fajar denger golongan baby boomer ngomong “anak zaman now,” Kanda Fajar jadi eneg. Mereka tu kayak mau merangkul kita (karena Kanda Fajar kan masih milennial juga hehe) tapi dengan bekal pengetahuan yang minim. Alhasil, mereka cuma bisa bilang anak zaman now sukanya begini, begitu, begono tapi sama sekali engga mau menyentuh landasan dasarnya.

Film Jomblo versi 2017 dan The Underdogs dengan jelas merepresentasikan kesalahan ini. Dengan maksud ingin mencoba relate dengan isu-isu millenial, kedua film ini justru gagal melakukannya, at least menurut Kanda Fajar.

Kenapa? Sebelum kesana mari cek dulu sinopsisnya.

The Underdogs: Dunia YouTube Ketat Bos

The Underdogs berpusat pada 4 orang sahabat bernama Bobi, Ellie, Dio dan Nanoy. Mereka ini engga punya temen, di luar lingkaran pertemanan mereka ini tentu saja. Entah apa yang salah, padahal tampang juga engga buruk-buruk amat (kecuali Nanoy). Masalah ini berlanjut sampai mereka masuk kuliah.

Di dunia kampus, mereka juga terkucilkan. Tidak punya teman. Setiap pulang kampus mereka selalu ngumpul sama itu-itu lagi. Di tengah kegalauan itu, Dio dan Nanoy punya ide untuk bikin YouTube. Ide ini berawal dari video Rap S.O.L yang mereka berdua tonton. Ditambah lagi, ketiga personel S.O.L, Sandro X, Oscar dan Lola ternyata juga seperti mereka sebelum terkenal. Mereka bertiga juga punya lingkaran pertamanan yang terbatas. Dan lagi, mereka juga mengaku pemalu. Persis seperti situasi Bobi, Ellie, Dio dan Nanoy.

Sejak itu, mereka mulai ngide soal konten. Awalnya mereka bikin video prank dan social experiment. Keduanya gagal. Akhirnya mereka memutuskan bikin video musik rap, dibawah nama The Underdogs. Beruntung bagi mereka, Ellie ternyata bisa nyanyi dan menulis lagu. Video musik pertama akhirnya mereka upload di YouTube. This video gone viral, with mixed reaction.

pengen jadi youtuber via bioskoptoday.com

Beberapa netijen bilang video mereka sampah. Beberapa bilang norak dan yang lain bilang lucu. S.O.L menolak untuk menganggap The Underdogs ancaman. Lama-lama, berbekal video musik-video musik lain, The Underdogs mulai bisa menyamai S.O.L. Hubungan kedua grup rapper ini meruncing saat keduanya saling ejek di konferensi YouTube nasional (entah apa namanya). Keduanya bersaing mendapatkan views terbanyak.

Persaingan itu memperburuk keadaan di dalam The Underdogs sendiri. Anggota-anggotanya mulai terpecah. Proyek video mereka mangkrak. Untung satu voice note dari Ellie berhasil membuat mereka bersatu kembali. The Underdogs seakan bangkit kembali dan siap menantang S.O.L. Di hari penentuan, kejadian naas menimpa S.O.L, Oscar jadi korban kecelakaan dan harus butuh donor darah. Atas dasar solidaritas sesama YouTuber, The Underdogs, menghimbau follower-followernya untuk membantu Oscar. Sejak itu, persaingan S.O.L dan The Underdogs mereda. Mereka malah lebih sering collab demi konten YouTube yang lebih baik.

Jomblo 2017: Gagalnya Formula Sukses Terdahulu

Beberapa tahun yang lalu, Jomblo adalah salah satu film yang ceritanya paling enak ditonton. Mudah dicerna dan dekat dengan keseharian. Formula ini mau diulangi lagi saat jomblo 2017 di-reboot. Sama seperti versi originalnya, Jomblo 2017 masih akan berkutat pada kisah 4 sahabat dengan karakter yang sama seperti pendahulunya. Ada  Agus yang pemilih, Bimo yang ga dapet-dapet, Olip yang takut cewek, dan Doni yang playboy. Intinya, mereka jomblo dengan berbagai alasan berbeda. Di tahun keempat kuliah, Agus bertekad harus punya pacar supaya bisa ada gandengan saat wisuda.

Kesempatan Agus untuk menyudahi kejombloannya terbuka saat dia ngeceng di kampus tetangga. Teman SMP-nya, Rita, menarik perhatian Agus. Setelah berbagai trik-trik konyol, perasaan Agus direspons Rita. Alhasil, status Agus berubah. Bagi tiga sahabatnya, status baru Agus adalah pembuka jalan. Bimo dan Olip berharap mereka tertular nasib mujur Agus.

Jomblo versi 2017 via http://cewekbanget.grid.id

Namun, masa pacaran Agus bersama Rita tak semulus dugaan dia. Satu per satu masalah datang. Dia dilanda kejenuhan. Di tengah kebosanannya, datanglah Lani. Agus jatuh cinta lagi. Agus tak tahu kalau Bimo juga menaruh hati pada Lani. Keruwetan pun bertambah ketika Asri, targetnya Olip, malah naksir pada Doni. Doni bahkan sempat ingin meniduri Asri di rumah kosong. Hal ini tentu membuat Olip marah besar. Persahabatan mereka pecah. Agus berusaha agar kondisi bisa seperti semula. Dia gagal. Persahabatan mereka tidak pernah sama lagi setelahnya.

Impression

Pertama-tama mari hargai dulu usaha kedua film ini untuk relate ke para millenial. Tapi sayang, usaha mereka engga bagus-bagus amat. Kanda Fajar mulai dari The Underdogs dulu.

The Underdogs sebernarnya mengangkat tema yang cukup relevan di masa sekarang. Tapi dengan fondasi yang kurang kokoh. Pembentukan The Underdogs diawali dari keinginan untuk fit in di masyarakat. Tapi tidak dijelaskan dengan jelas alasan KENAPA mereka tidak bisa fit in. Ini kegagalan pertama.

Kegagalan kedua, The Underdogs pecah juga dari sebab yang konyol. Emosinya kurang dibangun. Chemistry dari 4 sahabat itu kurang dapet. Pecah gara-gara beda pendapat itu emang real ada beneran, tapi sekaku itu juga marahannya.

Kegagalan kedua, perseteruan S.O.L dan The Underdogs kurang seru. Kenapa mesti ada kecelakaan sih di bagian akhirnya? Sangat klise. Mirip sinetron.

Sekarang Kanda Fajar ke Jomblo 2017. Film ini lebih parah lagi. Kenapa harus ada perumpamaan perang coba? Film ini seakan pengen ngelawak tapi dengan  cara yang dipaksakan.

Satu lagi. Jomblo kayaknya pengen fokus kepada 4 pemerannya, tapi gagal. Porsi Agus lebih banyak dan itu bisa dimaklumi. Yang aneh adalah ketiga orang temannya ini seakan engga penting keberadaannya buat keseluruhan cerita. Kalau misalnya, Olip ilang dan cuma disebut namanya, mungkin Jomblo 2017 masih bisa mencapai babak akhir.

Yang terakhir. Jomblo 2017 itu terlalu klise. Stereotype jomblo dan gaya pacaran anak muda yang ditampilkan mungkin relevan di tahun dibawah 2010. Di masa sekarang, karakteristik-karakteristik itu udah engga kayak gitu kali.

Categories: Movie

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.