Dari tanggal 14 Juni sampai 15 Juli nanti dunia pasti akan sibuk dengan Piala Dunia. Sebagai olahraga paling populer sejagat, wajar kiranya kalau orang-orang seakan melupakan bahwa tensi perang dagang makin panas, harga minyak mentah yang turun dan Rupiah yang makin melemah. Semua berita-berita maha penting itu kalah pamor sama gemerlap tim-tim yang berlaga di babak 16 besar.

Sebelumnya, kita sampaikan dulu belasungkawa buat Jerman. Salah satu tim unggulan ini harus menanggung malu lantaran harus pulang lebih awal, sesuatu yang pertama kali mereka rasakan semenjak Piala Dunia 1983!

Dan yang lebih mencengangkan lagi, lawan yang berhasil menjungkalkan mereka adalah Korea Selatan, Tim sepakbola dari Asia.

Korea Selatan yang Tampil Spartan ala Bintang K-POP

Buat remaja-remaja tanggung di Indonesia, apalagi yang masih masuk golongan dedek-dedek gemes, Korea Selatan cuma dikenal karena budaya K-POP. Entah Girlband atau Boyband, dua-duanya berhasil membius banyak milenial di Indonesia bahkan dunia.

Terlebih buat Boyband, anak-anak bola di Indonesia amat suka mengata-ngatai cowok-cowok korea dengan sabutan gemulai, melambai dan semacamnya. Semua karena profesi mereka yang emang harus joget-joget. Padahal, dibalik jogetan mereka yang kita bilang “gemulai” tersimpan kedisiplinan, fokus dan kerja keras yang belum tentu anak-anak bola itu mau lakukan. Ketiga hal ini juga terlihat dari permainan yang diperagakan Korea Selatan saat melawan Jerman di pertandingan terakhir.

Korea Selatan memang lebih banyak bertahan, tapi mereka bertahan dengan disiplin. Pemain-pemain mereka juga dengan fokus menjaga daerah pertahanan. Berkali-kali Jerman menyerang dan dari berbagai sisi, gawang Korea tetap perawan. Dan kerja keras mereka akhirnya terbayar setelah Manuel Neuer dan tim Jerman secara keseluruhan melakukan blunder fatal yang berujung kekalahan.

Kim Young-Gwon dan Son Heung-Min membuat Jerman menderita. Dari catatan resmi FIFA, ini juga pertama kalinya juara Piala Dunia kalah dari wakil negara Asia. It’s okay if you don’t feel the same thing, but I have to admit, Indonesia kalah segala-galanya dari negara yang cowok-cowoknya dicemooh anak-anak bola yang kemampuannya pas-pasan.

Jepang Lolos Fase Gugur Piala Dunia 2018, Menyamai Rekor Mereka di Edisi 2002

Yang lebih mengejutkan lagi adalah Timnas Jepang. Timnas negara ini sedang meniti asa untuk mereplikasi kisah Captain Tsubasa di Rusia. Jepang berhasil lolos dari grupnya bersama Columbia walaupun di pertandingan terakhir kalah dari Polandia.

Berhasil menang lawan Falcao dkk, menahan imbang Sadiao Mane dkk dan kalah tipis dari Lewandowski dkk cukup membuat Jepang lolos ke babak 16 besar. Walaupun sedikit diuntungkan dengan peraturan Fair Play point dari FIFA, tapi tetap saja permainan Jepang patut kita acungi jempol. Pasalnya, Jepang berhasil menjadi tim asal Asia pertama yang berhasil menang dari tim asal Amerika Selatan.

Asia beruntung punya Korea Selatan dan Jepang. Dua tim ini berhasil mengangkat derajat Benua kuning di kancah persepakbolaan dunia. Lalu, apakah Indonesia bisa mencatatkan prestasi serupa?

Sepakbola Indonesia dan Masalah Tiada Ujung

Kanda Fajar agak ragu cenderung pesimis kalau Indonesia bisa selevel Jepang dan Korea Selatan. Jangankan tembus Piala Dunia, juara piala AFF aja kayaknya masih jauh panggang dari api.

It may be little bit harsh, but Indonesia needs a reform in its football, from toe-to-toe. Masalah sepakbola Indonesia itu sudah mendarah daging. Mulai dari kompetisi yang jadwalnya bisa gonta-ganti seenak jidat, pembinaan pemain muda yang masih jauh dari harapan, fasilitas yang masih belum berstandar internasional sampai kebergantungan parah sama yang namanya “naturalisasi.”

Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa naturalisasi pemain bukanlah sesuatu yang sifatnya prioritas. Pasalnya, kedua tim ini mampu berbicara banyak di pentas Piala Dunia tanpa perlu proses naturalisasi. Indoensia juga masih kalah dari Thailand dalam hal pengelolaan kompetisi sepakbola. Apalagi soal fasilitas, Indonesia kalah jauh dari loyalnya orang-orang di Islandia soal sepakbola.

Pangkal masalahnya ada di top management. Di organisasi manapun, reformasi selayaknya dilakukan dari management yang berada di posisi tertinggi. Contohnya, General Electric berhasil bangkit dari keterpurukan berkat Jack Welch yang emang bener-bener mau kerja. Sedangkan PSSI, top management-nya aja amburadul. Masa pemimpinnya mau rangkap jabatan jadi kepala daerah, sih.

Wajar lah kalah 1-4 sama tim yang bisa nahan imbang Messi dkk via kompas.com

Dan jangan lupakan juga pernyataan konyol yang bilang bahwa Evan dan Ilham, dua pemain penting timnas tidak nasionalis cuma gara-gara main di Malaysia! Wow. Wow. Wow.

Bayangin, PSSI yang masih punya banyak banget pekerjaan rumah, masa harus dipimpin sama orang yang super sibuk mengurusi ekonomi daerah? How can he manage that? Is he willing to sacrifice his sleep or whatsoever?

Intinya, Kanda Fajar sangsi sama masa depan sepakbola Indonesia. Prestasi masih akan susah diraih tanpa ada reformasi radikal di dalam tubuh organisasi.

Categories: Opini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.