Apa yang Kanda Fajar takutkan akhirnya terjadi. BI Rate akhirnya dinaikkan, tapi efeknya terbilang minimal membendung pelemahan Rupiah. Rupiah tetap saja turun hingga tercatat pernah mencapai level 14.100 per Dollar Amerika. Bukan cuma itu, pasar modal pun terkena dampaknya. IHSG terpantau cenderung melemah di sepanjang minggu. Apa yang terjadi sebenarnya?

Penyebab Pelemahan Rupiah

Well, ada banyak faktor yang berpengaruh sebenarnya. Pertama, defisit neraca perdagangan. Kedua, realisasi APBN 2018 yang tidak sesuai harapan. Ketiga, harga minyak dunia yang naik tinggi. Keempat, ekonomi Amerika Serikat yang makin membaik.

Indonesia memang tercatat mengalami defisit neraca perdagangan di quarter pertama 2018 ini. Current Account Deficit Indonesia tercatat sebesar US$5,5 miliar (2,15% dari PDB). Nilai ini lebih besar dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (US$ 2,2 miliar, 0,9% dari PDB). Nilai defisit ini adalah yang terparah sejak kuartal I-2013.

Bersama dengan defisit transaksi berjalan, realisasi APBN 2018 yang meleset juga menjadi sentimen negatif dalam negeri dari pelemahan Rupiah. Asumsi-asumsi makro yang dijadikan basis estimasi APBN terlihat jauh dari keadaan sebenarnya. Misalnya, untuk pertumbuhan ekonomi, pemerintah mematok target pertumbuhan sebesar 5,4%. Nyatanya, ekonomi Indonesia cuma tumbuh sebesar 5,06%. Begitu pula dengan inflasi. Pemerintah menargetkan tingkat inflasi 2018 sebesar 3,5% tapi ternyata realisasinya cuma menyentuh angka 3,4%.

Bukan cuma dari luar negeri, tekanan lebih besar datang dari luar negeri. Salah satunya adalah harga minyak dunia yang naik tidak terkendali akibat konflik Timur Tengah. Per tanggal 5 Mei 2018, harga minyak mentah AS ditutup naik USD 1,29 ke level USD 69,72 per barel. Harganya malah pernah menyetuh level USD 69,97 per barel, level tertinggi untuk pertama kalinya sejak November 2014.

Ekonomi Amerika Serikat yang membaik juga membuat para investor banyak memburu Dollar. Hal ini ditunjukkan dari imbal hasil US Treasury Bill tenor 10 tahun yang turun ke 3,1021% dari level semula di 3,109%. Artinya, harga obligasi jadi naik karena investor percaya ekonomi Amerika dalam 10 tahun ke depan akan meningkat.

Kenapa BI Rate yang Naik Bukan Solusi?

Selama beberapa minggu terakhir, ada tekanan dari para investor, analis dan pelaku pasar supaya BI segera mengambil tindakan untuk menanggulangi pelemahan Rupiah. Seperti yang kita sama-sama tahu, The Fed punya rencana untuk menaikkan The Fed Fund Rate sebanyak 3 kali. Malah, sempat tersiar kabar kalau kenaikan ini akan terjadi sebanyak 4 kali tahun ini, tergantung pertumbuhan ekonomi dan inflasi dalam negerinya.

Makanya, pasar meminta BI untuk segera ikut menaikkan BI Rate supaya bisa menarik dana asing untuk masuk kembali ke Indonesia. Masalahnya, kebijakan ini berpotensi untuk memberatkan pelaku bisnis kecil karena bunga kredit yang pasti akan ikut naik. Padahal, berkaca dari komposisi GDP Indonesia tahun-tahun sebelumnya, UKM dan konsumsi rumah tangga adalah penyumbang terbesar dari GDP.

Tapi apa mau dikata, BI pun nurut dan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin. Dan benar saja, efeknya sangat minimalis terhadap Rupiah. Kurs USD/IDR rupiah tetap saja anjlok ke level 14.133. Bukan cuma itu, dampaknya juga sampai ke pasar saham. IHSG juga anjlok ke 5.783 di penutupan 18 Mei 2018 ini.

Didukung dengan fakta ini, sudah seharusnya meningkatkan BI Rate adalah jalan terakhir yang dilakukan BI. Masih ada instrumen moneter lain yang patut BI coba untuk mengendalikan pelemahan Rupiah. Ini pernah Kanda Fajar bahas di blog post yang ini.

Akhir kata, Kanda Fajar engga bisa bilang bahwa BI dan Kementrian Keuangan sudah benar atau tidak dalam mengambil kebijakan yang diperlukan. Lebih baik kita tunggu saja perkembangan selanjutnya sambil mengeksploitasi setiap kesempatan untuk meraih untung.

Categories: Analisa Ekonomi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.