Karma adalah fenomena tersendiri di industri pertelevisian Indonesia. Acara ini menjadi pioneer munculnya acara-acara TV yang mem-feature hal-hal mistik di waktu prime time. Bagaimana bisa acara-acara yang dibawakan Roy Kiyoshi ini bisa sedemikian populer? Kanda Fajar coba mengetahui alasannya dengan cara ikut nonton Karma, bersama mama tercinta.

Karma Episode Tertanggal 26 Juni 2018

Sebelumnya, Kanda Fajar mau kasi tahu dulu kalau Kanda Fajar engga akan mendeskripsikan episode Karma yang Kanda Fajar tonton dengan detail-detail amat. Kanda Fajar terlalu ngantuk dan bosan untuk terus nonton dari acara yang baru mulai jam 11 malam ini.

Di episode tanggal 26 Juni 2018, ada seorang partisipan yang kalau engga salah namanya Jajang. Dia punya masalah dalam keluarganya. Indikasinya, dia dan istrinya pisah karena hasutan dari keluarga istrinya. Masalah jadi makin pelik karena si Jajang ini juga dituduh mencuri sertifikat rumah (atau tanah, kali ya) keluarga.

Setelah masalahnya diceritakan, Roy Kiyoshi mulai menerawang kehidupan si partisipan. Roy juga dengan yakin kalau pelaku yang ngumpetin sertifikat itu adalah pihak keluarga dari istri. Nyatanya, pihak keluarga istrinya engga suka sama dia dan mau Jajang ini pisah dari istrinya.

Sontak, Jajang tambah semangat buat membuka kedok keluarga istrinya. Dia malah mau Roy memberikan inisial si pelaku sebenarnya. Roy dan Robby Purba, si co-host, menolak. Alasannya adalah Roy tidak mau memposisikan dirinya sebagai cenayang, dukun atau mbah Google yang tahu segalanya. Roy juga engga mau menyalahgunakan ke-indigo-annya sebagai praktek dukun. Tapi yang pasti, Roy yakin sertifikatnya cuma diumpetin, bukan hilang.

The Karma Duo via tempo.co

Setelahnya, Jajang juga cerita kalau dari SD sampe SMP, dia dianugrahi kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk astral, sesuatu yang dia bisa lihat tapi orang biasa engga.

Menurut pengakuan Jajang, kemampua itu dia dapat dari hasil ziarah dari Tasikmalaya. Dia dititipi benda-benda pusaka dari seorang Syeikh. Setelahnya, Roy Kiyoshi memilih untuk mengembalikan lagi hal itu ke Jajang. Kalau dia percaya itu berguna, ya ikuti saja. Roy terkesan tidak mau untuk memberi jawaban secara eksak. Dia memilih untuk memberi saran untuk sabar, move on dan jangan termakan fitnah dari keluarga pihak istrinya.

Dan untuk malam tadi, cuma partisipan itu aja yang Kanda Fajar tonton.

Alasan Karma Bisa Populer di Indonesia

Jawaban dari pertanyaan penting itu, menurut kacamata Kanda Fajar, adalah karena orang Indonesia kepo. Orang-orang Indonesia cenderung punya tendensi untuk tahu masalah orang lain, lalu membandingkannya dengan kehidupannya sendiri.

Soalnya, kalau kamu perhatikan, nasihat-nasihat dari Roy Kiyoshi ini kelewat sederhana. Saran-sarannya cenderung engga to-the-point dan kayaknya Kanda Fajar bisa ngasi saran serupa, deh. *peace Karma Lover*

Di setiap episode Karma, ada sekitar 3-4 partisipan (atau mungkin lebih) yang rela membagikan keluh kesah hidupnya ke Roy, dan penonton lain dirumah. Kita mau tahu cerita kesusahan orang lain. Kita bahagia kalau cerita yang diceritakan ke Roy Kiyoshi lebih buruk dari hidup kita.

Mau ngelak? Engga mau ngaku kalau kita emang pada dasarnya suka kepo, gosip dll? Cek instagram Lambe_turah dan lambe-lambe yang lain. Bandingkan follower-nya sama follower account-account yang isinya “mendidik” kayak account-account berita. Beda jauh, kan?

Ini membuktikan kalau Karma berhasil mengeksploitasi sisi kepo orang Indonesia. Karma berhasil mengemas cerita kehidupan partisipan-partisipannya sehingga kita merasa berempati dengan si partisipan. Kita merasa ikut sedih kalau si partisipan diselingkuhi pasangan, punya anak yang kurang ajar luar biasa sampai himpitan ekonomi yang teramat berat. Masalah ini adalah masalah yang pasti sebagian besar keluarga di Indonesia hadapi, dan kita kita perlu insight-insight penting dari ke-indigo-an Roy Kiyoshi.

Popularitas Karma, Kejelian ANTV?

ANTV tentu mengeruk keuntungan yang tentu tidak sedikit buat ANTV. ANTV yang beberapa waktu kebelakang lekat dengan serial-serial India macam Jodha Akbar dll, mulai berubah positioning-nya menuju TV yang “mainan”-nya hantu-hantuan, mistis dan klenik. Ini dibuktikan dengan banyaknya, ANTV memproduksi acara-acara yang mengekor kesuksesan Karma.

Roy Kiyoshi Anak Indigo dan Karma The Series adalah acara yang jelas-jelas satu universe sama Karma, dan sukes juga.

Laporan terbaru dari Katadata menunjukkan hal serupa. Menurut Katadata.co.id, rata-rata pangsa pemirsa ANTV sepanjang Januari-Mei 2018 mencapai 15,6%, naik dari rata-rata sepanjang 2017 yang hanya sebesar 15,1%. In other words, ANTV ada di peringkat pertama dibanding 14 stasiun TV lainnya.

Dan tentu saja, pendapatan ANTV dari iklan juga tambah gemuk. Sebelum kesukseksan Karma, ANTV berhasil membantu VIVA, sebagai induk usaha, mencatatkan pendapatan Rp1,330 triliun di semester pertama 2017. Nilai ini tumbuh 9 persen dibanding periode sama tahun 2016 lalu. Semua pertumbuhan itu jelas karena ANTV berhasil mendapat audience share yang tinggi lewat serial-serial India itu. Dengan begitu, Kanda Fajar sepertinya bisa mencium bau-bau keuntungan berlipat dari kesuksesan reality show yang sekarang namanya Karma Baik ini.

Categories: Opini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.