Seluruh warga dunia sekarang pastinya sedang berbahagia sekarang. Pasalnya, 27 April 2018 lalu, Korea Selatan dan Korea Utara sepakat untuk sepakat untuk berdamai. Kedua negara siap mengakhiri ketegangan di semenanjung Korea.

Hal ini dikonfirmasi dari pertemuan antara kedua pemimpin, Kim Jong Un dari Korut dan Moon Jae dari  Korsel. Pertemuan ini amat sangat historis karena Korea Utara dan Korea Selatan akan melakaukan menghentikan proyek nuklirnya. Bukan cuma itu, Korea Utara juga siap mengundang media untuk meliput penutupan fasilitas nuklirnya yang tersohor itu. Hal ini tentu jadi indikasi positif soal komitmen Kim untuk membuat dunia menjadi lebih baik dan damai.

Ini tentu merupakan berita baik bukan? Tapi apa memang berita ini akan mengubah dunia menjadi lebih baik?

Kanda Fajar agak skeptis soal ini.

Hati-Hati Sama Janji Kosong

Ada kalimat menarik yang selalu di-qoute di media-media.

“South and North Korea confirmed the common goal of realizing, through complete denuclearization, a nuclear-free Korean Peninsula.”

Peta fasilitas nuklir Korut via bloomberg.com

Fokusnya sekarang ada di kata “denuclearization.” Korea Utara tercatat udah sering banget menggunakan kata-kata itu. Kim Jong Un sering menganggap “denuclearization” dengan arti bahwa Amerika Serikat tidak akan melebarkan proyek nuklirnya ke Korea Selatan.

Masalah lainnya adalah bisa jadi Korea Utara sudah tidak butuh lagi untuk mengujicoba proyek nuklirnya. Alhasil, tidak masalah kalau Korea Utara setuju untuk “denuclearization.”

Makanya, ada baiknya pemimpin-pemimpin dunia tidak terlalu nge-hype akan perjanjian damai Korut-Korsel ini. Yang perlu di-highlight adalah seberapa transparan Kim dengan untuk membuka infrastruktur proyek nuklirnya yang tersohor itu.

Apakah Perjanjian Damai Ini Berdampak dengan Ekonomi?

Sayangnya engga, paling tidak menurut salah seorang analyst dari UBS. Menurutnya, pelaku pasar terlalu percaya diri dengan perjanjian damai antara Korea Utara dan Korea Selatan. Dia menilai kalau orang-orang mencari indikasi liberalisasi ekonomi di Korea Utara, bukan sekadar perdamaian dunia.

Padahal, kalaupun ekonomi Korea Utara somehow jadi liberal sekalipun, secara fundamental, ekonominya tidak akan bisa tumbuh secepat Korea Selatan.

Harus tercatat dalam sejarah via bloomberg.com

Berikut statistik perbandingannya dengan si tetangga:

  • GDP in 2017 (current US$): North Korea 16.3 billion, South Korea 1.4 trillion
  • GDP per capita in 2017 (current US$): North Korea $648, South Korea $27,397
  • Agriculture employment (% of total): North Korea 58.9%, South Korea 5%
  • Industry employment (% of total): North Korea 19.3%, South Korea 24.7%
  • Services employment (% of total): North Korea 21.8%, South Korea 70.3%
  • Gross enrollment ratio for secondary education: North Korea 93.4%, South Korea 98.9%
  • Gross enrollment ratio for tertiary education: North Korea 27.9%, South Korea 93.4%

Dari data diatas, terlihat kalau Korea Utara sangat bergantung dengan sektor agraris dengan penduduk yang berpendidikan rendah. Hasilnya, negara ini belum tentu siap dengan perdagangan bebas yang kompleks dan lebih banyak tantangannya.

Jadi kayaknya, perjanjian ini tidak akan membawa banyak pengaruh positif pada ekonomi dunia atau ekonomi Asia pada khususnya.

Categories: Analisa Ekonomi

Leave a Reply