Market Is the Punisher: Sebuah Pelajaran Berharga Dari AISA

henry kissinger

Sekitar 2 minggu yang lalu, publik Indonesia terkejut gara-gara beras. Bukan karena harga beras yang makin mahal atau berkurangnya pasokan beras tapi soal penipuan. Konsumen ditipu karena mereka “dipaksa” membayar harga premium untuk beras bersubsidi.

Semua dimulai saat tim gabungan yang dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menggrebek gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU) pada Kamis (20/7) malam. Sebanyak 1.161 ton beras milik anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) ini disegel sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Modus operandinya adalah PT IBU menjual beras jenis IR64 dengan merek “Cap Ayam Jago” dan “Maknyuss” dengan harga Rp 20 ribu per kilogramnya. ‎Padahal itu adalah beras medium yang disubsidi oleh pemerintah dengan harga Rp 9 ribu.

Tidak terbayangkan berapa kali lipat keuntungan yang didapat PT IBU sekaligus PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk sebagai induk usahanya.

Kenapa Kanda Fajar ajak kamu semua membaca berita ini lagi?

Karena ini adalah berita penting. Sangat penting karena ini menyangkut perut rakyat. Ini menyangkut sesuatu yang ada di dalam tubuhmu.

Peristiwa penggrebekan ini sangat mengejutkan karena sebenarnya, PT IBU sudah punya SOP yang jelas yang terangkum seperti ini:

1. PT. IBU membeli gabah dari petani dan beras dari mitra penggilingan lokal, dan tidak membeli atau menggunakan beras subsidi yang ditujukan untuk program Beras Sejahtera (rastra) BULOG dan atau bantuan bencana dan atau bentuk lainnya dalam menghasilkan beras kemasan berlabel

2. PT. IBU memproduksi beras kemasan berlabel untuk konsumen menengah atas sesuai dengan deskripsi mutu Standard Nasional Indonesia (SNI).

3. PT. IBU memproduksi beras kemasan berlabel berdasarkan standar ISO 22000 tentang Food Safety dan GMP.

4. PT. IBU mengikuti ketentuan pelabelan yang berlaku dan menggunakan laboratorium terakreditasi sebagai dasar pencantuman informasi fakta nutrisi

5. PT. IBU mencantumkan kode produksi sebagai informasi umur stok hasil produksi

Terlihat wajar dan justru terkontrol dengan baik, ya?

Ini juga yang menjadi alasan kenapa Anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto bilang penggrebekan ini cuma akal-akalan aja.

Sekarang bandingkan dengan temuan kepolisian:

1. Beras Ayam Jago dan Makyuss memuat label angka kecukupan gizi (AKG), komposisi dari beras itu sendiri

2. Masalah label Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI di beras Makyuss keluaran 2008 yang seharusnya ditentukan dengan indikator mutu 1 hingga mutu 5, bukan “medium” atau “premium”

3. Kedua merek beras itu tidak mencantumkan PT IBU sebagai produsen di kemasannya. Di kemasan malah tercantum nama PT Sakti sebagai produsen.

Akhirnya, pada Selasa malam 2 Agustus 2017, Direktur Utama PT Indo Beras Unggul (IBU) Trisnawan Widodo ditetapkan sebagai tersangka. Dia didakwa karena sudah membawa perusahaan melanggar Pasal 382 KUHP dan Pasal 141 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan serta Pasal 62 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Butuh waktu sekitar seminggu buat penegak hukum menjatuhkan hukuman buat PT IBU tapi cukup beberapa jam saja market merespon tindakan tidak benar PT IBU dan PT Tiga Pilar Sejahtera sebagai induk usahanya.

Bisa dilihat dari grafik kalau beberapa jam setelah penggrebekan, pasar merespon negatif akan hal ini. Saham AISA anjlok hingga 400 poin atau 24,92%. Itupun karena adanya fitur auto rejection di bursa. Jika tidak, mungkin penurunannya akan semakin dalam.

Volume perdagangannya juga melonjak secara tiba-tiba di hari itu. Saham AISA diperdagangkan sebanyak 16.850 kali, dengan volume transaksi sebesar Rp129,96 miliar. Dan hampir semuanya ada di posisi Sell.

The Bottom Line

Mencari profit memang kewajiban semua bisnis yang ada di muka bumi. Tapi melakukannya dengan benar adalah kunci untuk profit yang sustainable. Sekarang kita lihat bagaimana PT Tiga Pilar Sejahtera akan menjalankan bisnisnya di masa mendatang.

Beras adalah penyumbang terbesar pendapatan perusahaan. Lebih spesifik lagi, 16-18 persen pendapatan PT TPS Food berasal dari penjualan beras PT IBU.

Dari sini tentu investor sudah tahu bahwa Net Income perusahaan akan tertekan. Dan ini berarti saham AISA tidak akan ada di dalam portfolio saham Kanda Fajar.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *