Semua orang setuju kalau Marvel adalah jaminan superhero bagus di dekade ini. Sebelum Marvel, The Dark Knight-nya Nolan membuat semua orang terpana dengan superhero yang kuat diluar namun rapuh didalam. Sejak Iron Man pertama, tren ini berubah. Orang-orang mulai meninggalkan cerita superhero yang serius dan mulai mencari cerita yang lebih banyak komedinya. Kecuali seri X-Men. X-Men sebenarnya juga properti punya Marvel, kalau dalam bentuk komik. Kalau bentuk film, cuma 21 Century Fox yang boleh bikin.

Loh kok Marvel engga bisa pake karakternya sendiri? Kan dia yang buat.

Jadi gini awalnya. Sebelum sesukses sekarang, Marvel itu sempat ada di titik nadir. Untuk menyelamatkan perusahaan, Marvel menjual hak memproduksi dan mendistribusi material Spiderman ke Sony dan X-Men (juga Fantastic Four) ke 21 Century Fox. Karakter-karakter milik Sony dan X-Men tidak boleh tampil lagi di film.

Tapi perlahan, Marvel mulai bisa menggunakan karakter-karakter itu. Spiderman udah dipinjamkan dan tampil juga di Captain America: Civil War. Bahkan udah dapet film sendiri di Spiderman: Homecoming. Hal ini juga akan terjadi buat seri X-Men dan Fantastic Four karena Disney udah resmi jadi pemilik baru 21 Century Fox.

Hahh!!? Beneran?

Pemilik Lama 21 Century Fox

Pemilik lama 21 Century Fox adalah News Corporation. Dari nama perusahaannya, kamu bis menebak kalau perusahaan ini bergerak di bidang penerbitan. News Corp punya banyak banget media keren: Wall Street Journal, Marketwatch, The Sun, The Herald dan lain-lain yang bikin capek kalau disebutin satu-satu saking banyaknya. Bukan cuma itu, News Corp ini juga punya divisi khusus film dan TV. Kalau kamu tau channel atau studio yang ada embel-embel “Fox”-nya kayak FoxSport, FoxNews dan tentu saja 21 Century Fox, itu udah pasti punya News Corp.

Otak dibalik News Corp ini adalah Rupert Murdoch. Dia ini orang Australia tapi berganti kewarganegaraan jadi Amerika Serikat demi menembus regulasi disana. Oh satu lagi informasi penting, dia ini sekarang adalah Executive Chairman of News Corp. Dibawah tangan dinginnya, dia membawa News Corp menjadi perusahaan holding media terbesar kedua didunia setelah Disney dan Comcast.

Trivia: kalau kamu pernah nonton serial Sherlock yang dimainin sama Benedict Cumberbatch, Charles Augustus Magnussen mungkin adalah portrayal dari Rupert Murdoch. Dia tahu segalanya karena dia yang mengendalikan informasi. Well, moga aja bukan ya.

The Deals Explained

Secara nilai, Disney bersedia membayar $52.4 billion ke News Corp sebagai ganti 21 Century Fox. Itu masih belum termasuk utang perusahaan sebesar $13.7 billion, jadi total cost of capital-nya sekitar $66.1 billion! Dengan uang sebesar itu, Disney berhak mendapatkan studio film 21 Century Fox, Sky, FX Channel, National Geographic dan Hulu.

Megadeal Disney – FOX via bloomberg.com

Transaksinya sendiri dibayar dengan saham. Jadi setiap lembar saham 21 Century Fox akan ditukar dengan 0.2745 lembar saham Disney. Secara total, pemegang saham 21 Century Fox akan memiliki 25% saham Disney. Karena transaksi dibayar saat harga saham Fox menyentuh $28 per saham sehingga valuasinya menjadi $69 billion. Dari itungan kasar Kanda Fajar, pemegang saham Fox dapat untung total sekitar $3 billion.

Walaupun begitu, Disney tidak memiliki studio Fox secara literal, maksudnya gedung studionya. Fox yang masih punya kuasa dan berencana me-lease aja studio itu ke Disney dan studio lain yang membutuhkan.

Why is Disney Interested in Fox Assets?

Pertanyaan paling penting dalam setiap transaksi merger dan akuisisi adalah apa pentingnya transaksi itu. Dalam kasus Disney, transaksi ini penting untuk mempersiapkan streaming service mereka sendiri di tahun 2019. Masuk ke industri streaming media memang terlambat buat Disney. Netflix dan Amazon sudah lebih dulu masuk dan mendapat sesuatu yang disebut first-mover advantage. Konten di kedua layanan ini udah banyak dan harganya tergolong kompetitif. Makanya subscriber-nya banyak.

Netflix dan Amazon sendiri juga menyadari hal ini sejak lama. Makanya mereka udah mulai nyoba bikin serial dan film original. Netflix misalnya, udah mulai memproduksi sendiri film dan serial kayak The Circle, Okja dan 13 Reasons Why.

Netflix dan Amazon udah jelas punya first mover advantage. Jadi untuk bersaing, Disney perlu meningkatkan jumlah konten berkualitas. Hal ini jelas terlihat. Coba bayangkan gimana akhirnya X-Men bisa ketemu Avengers. Deadpool bisa pakai Light Saber atau The Simpsons bisa ketemu Mickey Mouse. Oke. Dua yang terakhir agak ngayal, sih tapi kemungkinan team up-nya memang tidak terbatas. Kalau beneran terjadi, orang-orang pasti bakal lari ke Disney dan layanan streaming-nya, meninggalkan Netflix dan Amazon.

Semua konten milik Disney akan ditarik dari Netflix via androidmarvel.com

Terus, apa untungnya buat Rupert Murdoch selaku Chairman?

Menurut hasil seharian membaca artikel di Bloomberg, Rupert Murdoch menerima deal ini karena dia frustrasi dari investor-investor diluar sana yang memandang asset-assetnya undervalue. Bayangin aja, untuk sebuah perusahaan yang mengendalikan media-media seperti Wall Street Journal, The Sun, The Herald, Dow Jones Industrial Index dll, dia tidak termasuk ke dalam daftar 100 orang terkaya di muka bumi. Baru setelah deals dengan Disney lah, Rupert Murdoch berhasil menyodok ke peringkat 92.

Issues After the Deals

The Simpsons always right via nydailynews.com

Perlu kalian tahu, Merger dan Akuisisi itu transaksi yang beresiko. Sangat beresiko malah. Merger dan Akuisisi bukan cuma soal gede-gedean bidding. Merger dan Akuisisi itu soal mengintegrasikan dua bisnis yang udah jelas beda bisnis modelnya. Udah banyak kasus merger dan akuisisi yang gagal. Salah satu yang terkenal adalah AOL dan Time Warner. Semoga transaksi Disney – Fox engga begitu ya.

Walaupun begitu, banyak juga analis yang sangsi sama deals ini. Salah satunya adalah karena Disney terlihat seperti memperluas jaringan TV Cable. Dari yang Kanda Fajar baca, Disney akan mendapatkan FX dan Sky, ini tentu akan memperkarya portfolio Disney yang udah punya ABC dan ESPN.

You see the problem here?

Ini sangat kontradiksi dengan planning Disney yang akan mencoba masuk ranah streaming service. Kalau tujuannya untuk memperkaya konten sebelum streaming service-nya launching, deal ini kesannya buang-buang duit. Parahnya lagi, Disney tidak (atau belum) punya planning untuk menyediakan konten di layanan TV Cable-nya untuk di-stream. Nah, What’s the point, then?

Terus soal Hulu juga masih simpang siur. Hulu ini sering dianggap sebagai saingan terberat Netflix dan Amazon. Tapi dari segi konten kurang banget menurut Kanda Fajar pribadi. Dengan deal transaksi ini, Disney jadi punya 60% kontrol atas Hulu. Sebagai majority shareholder, apakah yang akan dilakukan Disney? Modifikasi Hulu jadi Disney Streaming? Shutdown the service? Atau tetap dijalankan beririgan sama streaming service baru Disney?

Kalau jawabannya ada di dua terakhir, Kanda Fajar melihat deal ini sebagai waste of money. Sayangnya, aja gitu. Kenapa mesti beli asset Hulu coba.

Issue yang lebih bahaya menurut Kanda Fajar adalah aturan regulator. Sebelum mengakuisisi 21 Century Fox, Disney udah punya Lucasfilm (Star Wars), Marvel (Avengers dll) dan Pixar (Coco, Toy Story dll). Ditambah 21 Century Fox, Disney bisa sendirian menguasai 40% industri perfilman dan pertelevisian Amerika atau bahkan dunia. Itu berarti Disney nantinya akan dianggap melanggar Antitrust law yang jelas melarang monopoli. Konsekuensinya, Disney mungkin akan dipaksa melakukan divestasi atas asset-assetnya secara paksa plus denda yang nilainya engga sedikit.

Categories: Opini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.