Walaupun Bulutangkis lebih memberikan prestasi nyata, kita semua tidak bisa memungkiri kalau sepakbola itu olahraga paling populer di Indonesia.

Liat aja di jalan-jalan gang atau bahkan di tanah kosong belakang rumah, niscaya kamu bakal gampang banget menemukan anak-anak kecil main bola dengan asikmya. Mereka girang banget kalau bisa nyetak goal. Mungkin mereka merasa jadi Messi atau Ronaldo, kali ya?

Walaupun begitu banyak dimainkan, sepakbola seperti jalan ditempat, well, at least dalam 10 tahun terakhir. Praktis, timnas kita, mulai dari level senior sampe junior, tidak pernah bisa mengangkat gelar juara di setiap kompetisi yang diikuti. Mau itu SEA Games atau bahkan kualifikasi piala dunia timnas selalu keok di tengah jalan.

Okelah kalau timnas engga pernah juara kompetisi. Tapi bisa engga sih mainnya lebih enak dipandang mata? Belgia engga pernah juara tapi mainnya tetep bikin lawan deg-degan. Kenapa Timnas Indonesia engga bisa kayak gitu?

Jawabannya mungkin karena PSSI engga pernah belajar dari kesalahan masa lalu. PSSI tahu kalau ada yang salah dengan persepakbolaan negeri ini. Tapi organisasi ini malah mengambil short cut dan bukannya mengatasi masalah dari ujung pangkalnya dulu.

Ambil contoh Jerman. Setelah tersingkir dengan memalukan di gelaran Piala Eropa 2000, negera ini bergerak lincah dengan membereskan masalah-masalah paling mendasar terlebih dulu. Induk sepakbola Jerman, DFB, fokus pada pembinaan pemain muda dan memperbaiki kualitas kompetisi. Semua itu memakan waktu paling tidak 10 tahun sampai akhirnya pada Piala Dunia 2016 di Brazil, Jerman keluar sebagai juara dengan meyakinkan.

Bandingkan dengan PSSI. Seusai tersingkir secara menyakitkan di SEA Games, solusi yang terpikirkan adalah naturalisasi pemain. Mulai dari level senior sampai level U-19, Timnas dihujani banyak pemain asing yang mengaku berdarah Indonesia. Mending gitu kalau skillnya oke, kebanyakan malah flop. Bahkan menembus tim inti di tim lokal aja beberapa dari mereka engga mampu.

Kompetisinya juga gitu. Keputusan terlalu mudah diplintir. Beberapa kali juga PSSI bersikap plin-plan dan tidak konsisten. Masih ingat kasus Bhayangkara FC yang menang mudah lawan Mitra Kukar? Pantes engga hal yang harusnya sepele gitu terjadi di kasta tertinggi sepakbola Indonesia?

Maka dari itu, Kanda Fajar engga begitu hype kalau timnas main. Mau itu laga uji coba atau kompetisi resmi, Kanda Fajar engga pernah lagi nonton Timnas main. Selain udah optimis kalah, permainan timnas juga mengecewakan dan engga sedap dipandang mata. Engga bikin deg-degan gitu.

Luis Milla/Indra Sjafri Harapan Bangsa

berkombinasi dengan Luis Milla demi Timnas yang lebih baik via kompas.com

Untungnya datang dua sosok yang digadang-gadang bisa memberi dampak nyata buat sepakbola kita. Sosok itu adalah duo Luis Milla dan Indra Sjafri. Luis Milla melatih timnas senior dan timnas U-23 sedangkan Indra Sjari melatih timnas di kelompok umur yang lebih muda.

Di tangan dua orang ini, timnas mulai membaik. Luis Milla memberi identitas permainan bagi timnas sementara Indra Sjafri fokus mengembangkan dan memberi kesempatan pada bibit-bibit muda. Gaya main mereka mirip sehingga transisi antar kelompok umur tidak terlalu sulit.

Kombinasi keduanya mampu membendung kebiasaan PSSI untuk menaturisasi pemain dari antah berantah. Kedua orang ini percaya bahwa anak-anak “asli” Indonesia sudah seharusnya diberi panggung untuk membanggakan negara. Kedua orang ini percaya bahwa dengan sistem permainan yang tepat, timnas dapat bersaing dengan tim-tim top yang satu-dua tingkat diatasnya.

Dan hal itu terbukti saat timnas U-23 menjamu timnas Syria U-23 kemarin.

Jalannya Pertandingan

Kamis 16 November kemarin, Timnas U-23 mengadakan pertandingan uji coba melawan Timnas Syria U-23. Pertandingan diadakan di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, pada Kamis (16/11) petang WIB.

Guyuran hujan deras memaksa kick-off ditunda selama 15 menit. Begitu laga dimulai, tim tamu mengambil inisiatif untuk menekan, tapi Indonesia yang mampu menghasilkan peluang perdana ketika Osvaldo Haay menyambut umpan silang Rezaldi Hehanusa. Sayang, tandukan Osvaldo berakhir melambung.

Kebuntuan skor terpecahkan menyentuh setengah jam permainan. Moumen Naji memberikan keunggulan buat Suriah dengan menyambar bola rebound setelah kiper Satria Tama gagal menangkap sempurna sebuah tembakan keras.

Tidak butuh waktu lama bagi Indonesia untuk membalas. Hanya berselang lima menit, Septian David Maulana membawa tuan rumah menyeimbangkan angka, menghantam bola liar di mulut gawang usai umpan Valdo tak dihalau dengan baik pertahanan Suriah.

Namun, kedudukan imbang 1-1 juga tidak awet. Suriah kembali memimpin di menit ke-42. Moumen Naji mencatatkan nama di papan skor untuk kali kedua melalui eksekusi sepakan bebas kaki kiri mematikan.

Seperti sebelumnya, Indonesia merespons instan. Tim besutan Luis Milla menjadikan skor sama kuat beberapa saat jelang turun istirahat setelah Osvaldo Haay menyundul masuk umpan silang Febri Hariyadi dari kiri.

Babak kedua baru berumur delapan menit, Suriah lagi-lagi memetik keunggulan. Sebuah umpan silang dari sektor kanan dikonversi menjadi gol ke gawang Indonesia oleh sundulan Al Rahman Barakat.

Eggy akhirnya debut di timnas U-23 via bolasport.com

Pelatih Luis Milla bereaksi dengan melakukan serentetan pergantian, termasuk di antaranya menarik keluar Evan Dimas untuk memberikan kesempatan debut berlaga bersama timnas U-23 bagi Muhammad Arfan. Egy Maulana Vikri serta Miftahul Hamdi juga turun beraksi menggantikan tempat Septian David dan Osvaldo Haay.

Akhir kata, Timnas Indonesia U-23 harus mengakui keunggulan Syria U-23 dengan skor tipis 3-2.

Good Game, guys

Kanda Fajar udah lama banget engga pernah nonton timnas. Kali terakhir Kanda Fajar nonton pertandingan Timnas sampai akhir adalah di gelaran AFF 2010. Jadi selama 7 tahun terakhir, Kanda Fajar tak pernah melihat perjuangan para pemain berjibaku di lapangan hijau.

Alasan utama kenapa selama 7 tahun iti Kanda Fajar engga pernah mau nonton timnas main adalah karena permainan mereka yang jelek. Udah tau postur kalah tinggi dan gede, eh malah sering banget ngirim umpan pake bola lambung. Udah gitu kalau tertinggal, para pemain jadi hilang fokus dan malah makin gampang hancur strategi dan formasinya. Belum lagi tindak tanduk pemain yang ceroboh dan cenderung kasar. Jadi makij engga enak diliatlah pokoknya.

Kejar-mengejar skor mewarnai pertandingan ini sebelum Garuda Muda akhirnya menyerah lewat skor tipis 3-2. Gol Al Rahman Barakat usai interval menentukan kemenangan Suriah, setelah sebelumnya Moumen Naji melesakkan sepasang gol di babak pertama.

Semua tampak beda di pertandingan kemarin.

Permainan timnas tidak goyang saat dua kali tertinggal lebih dulu. Pun juga 2 gol yang diciptakan berasal dari build up serangan yang sedap dipandang.

garuda tetap di dada via bolasport.com

Timnas berhasil memaksimalkan kecepatan di kedua sayapnya dengan baik. Pemain sayap Febri di kiri dan (masukkan nama di kanan) bermain dengan sangat baik dan mampu memporak-porandakan pertahanan lawan. Kedua bek sayapnya pun mampu naik turun membantu serangan dan bertahan.

Yang kurang adalah kontribusi dari sektor tengah, terutama Evan Dimas. Umpan Evan kemarin sering meleset. Dia juga cukup sering kehilangan bola. Untungnya tandem Evan di tengah (masukkan nama) bermain baik untuk menutupi kekurangan itu. Selain itu, pertahanan juga cukup sering hilang fokus. Ketiga gol yang tercipta bukan karena pemain kita kalah kelas dari pemain lawan melainkan karena pemain belakang engga fokus menjaga daerah. But overall, it is a good game.

I never remember the last time my heart beating so fast watching the game. I never remember the last time I was very optimistic with the end result. Even though we ended up losing, the game is so good to watch. It is even such a breathtaking experience.

Well play, guys via okezone.co.id

Oh satu lagi, selain bikin jantung berdebar-debar, pertandingan kemarin juga bikin rasa nasionalisme Kanda Fajar membuncah. Walaupun cuma nonton dari depan TV, Kanda Fajar bisa merasakan atmosfer pertandingan seolah-olah lagi berada di stadion. Saat pemain Syria main sinetron-sinetronan, Kanda Fajar sontak ikutan mengumpat. Sepakbola menyatukan bangsa, at least sepnjang 90 menit kemarin bangsa kita cuma punya satu musuh: Syria. Saat pemain Syria merengek-rengek kayak anak kecil, penonton di stadion kompak meng-hooo-in pemain.

Gila, timnas kemarin emang keren banget sih. Parah.

Categories: Opini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.