Banyak dari kita yang berpikir kalau jadi orang kaya itu mudah. Hidup tinggal ongkang-ongkang kaki. Mau apa aja tinggal beli. Ga perlu mikirin bayar kosan, ga perlu mikir besok makan apa. Hidupnya pokoknya leha-leh lah.

Walaupun Kanda Fajar orangnya engga kaya-kaya banget, Kanda Fajar tau kalau pikiran kamu tadi salah. Well, mungkin separuhnya.

Jadi orang kaya itu banyak musuhnya. Dan kamu mau tau musuh terbesar orang-orang berduit? Pajak.

Bener banget. Buat orang-orang kaya, pajak itu ibarat rampok. Mereka udah susah-susah mikir gimana caranya supaya profit tetap tinggi dan sustainable, eh negara dateng ujug-ujug minta jatah. Kan kampret.

Pajak naik 10% punya efek yang sama besarnya buat orang miskin dan orang kaya. Sama-sama bikin tidur tidak tenang.

Beda dengan orang miskin yang biasanya tidak punya kuasa mengakali pajak, orang-orang kaya punya akses untuk memindahkan sebagian besar kekayaan mereka ke negara surga pajak/tax haven. Namun, tax rate yang jauh lebih rendah bukan alasan satu-satunya mengapa orang-orang berduit melakukan praktik itu. Transparansi juga salah satu alasannya.

Buat orang-orang kaya, transparansi bisa jadi lebih penting daripada tax rate yang rendah. Di negara-negara surga pajak seperti Andorra, the Bahamas, Belize, dan Bermuda, informasi terkait soal harta kekayaan orang-orang kaya dunia, seperti asal-usul dana dan untuk tujuan apa, semuanya tersimpan rapat. Wajar, sih. Siapa juga yang mau rekening bank-nya diintip orang lain coba?

Makanya, waktu beberapa hari ini dunia dikagetkan dengan terbukanya Paradise Paper, banyak orang-orang kaya macam Ratu Elizabeth, Bono dan Wilbur Ross kebakaran jenggot.

Wait a sec, Paradise Paper itu emang apaan, ya? Jawabannya bisa kamu dapatkan setelah ini.

What is Paradise Paper?

Cakupan Paradise Paper via cbc.ca

Paradise Paper sebenarnya merujuk pada 13.4 juta dokumen yang bocor kerahasiaannya. Belasan juta dokumen ini awalnya didapatkan oleh media besar asal Jerman, Süddeutsche Zeitung. Media ini lalu membaginya ke lembaga internasional bernama International Consortium of Investigative Journalists. Selanjutnya, dokumen-dokumen ini diteliti dan dianalisa oleh 381 wartawan dari 67 negara seperti BBC dan The Guardian.

By the way, media ini juga melakukan hal yang sama tahun lalu saat merilis dokumen Panama Papers.

What is Appleby?

Kalau baca-baca berita soal Paradise Paper, Kanda Fajar yakin kalau kamu juga akan melihat nama Appleby beberapa kali disebut. Faktanya, 13.4 juta dokumen itu, sekitar 6.8 jutanya mencatut nama individu dan organisasi yang berafiliasi dengan Appleby.

Appleby sendiri adalah nama sebuah firma hukum yang membantu perusahaan dan individu super kaya untuk mendirikan shell corporation di negara-negara surga pajak.

Cabang Applebay di seluruh dunia via lawfuel.com

Yah, simpelnya gini. Setiap orang yang mau mendirikan perusahaan diluar negara asalnya (sering disebut off-shore company) pasti harus memenuhi regulasi tambahan. Disitulah Appleby bermain. Perusahaan ini memastikan kalau off-shore company tadi sudah memenuhi setiap aturan perundang-undangan yang berlaku di negara-negara surga pajak.

Appleby awalanya didirikan oleh Major Reginald Appleby di tahun 1890-an. Setelah 120 tahun berdiri, Appleby jadi salah satu firma hukum terbesar dan paling populer saat orang-orang menyebut praktek off-shore company. Perusahaan ini sekarang memiliki sekitar 470 karyawan, 60 partner dan berkantor di 10 tempat berbeda di dunia. Client-nya pun engga main-main. Tercatat, Barclays Group, Citibank, Credit Suisse, Goldman Sachs, HSBC Bank, ­JPMorgan Chase, KPMG, ­Lloyds Banking Group, PwC, Royal Bank of Scotland Group, Santander UK dan Standard Chartered adalah nama-nama yang diketahui mendapat konsultasi hukum dari Appleby.

What is Off-Shore company?

Secara harafiah, off-shore company berarti perusahaan yang beroperasi di luar negera asal pemiliknya. Jangan samakan definisi ini dengan perusahaan asing atau foreign company. They have slightly different meaning.

Off-shore company didirikan memang secara sadar untuk mendapat manfaat dari tax rate yang jauh lebih rendah di negara-negara kayak Bermuda dan Cayman Island. Kalau foreign company kayak Unilever kan tujuannya memang untuk buka cabang di negara lain.

Skema legal menghindari pajak via virtualcoinstore.com

Off-shore company juga biasanya sering disebut juga sebagai shell corporation. Shell corporation ini tidak punya aktivitas bisnis apa-apa. Tapi keberadaannya penting banget karena itu tadi, “menghindari pajak” dengan cara-cara yang legal dan legitimate.

Selain itu, shell corporation atau off-shore company juga penting untuk memenuhi beberapa “keinginan mahal” orang-orang kaya. Ambil contoh gini aja. Semisal kamu orang tajir melintir dan pengen beli villa di dekat pantai Mexico. Masalahnya, regulasi tidak memperbolehkan hal itu. Kalau situasinya kayak gini, mendirikan shell corporation adalah pilihan yang tepat buat kamu.

Nama-Nama yang Tercatut dalam Paradise Paper

Oke. kita balik lagi ke persoalan Paradise Papers. Kalau boleh jujur, yang ditakutkan dari adanya off-shore company atau shell corporation adalah tingginya kemungkinan uang-uang di negara surga pajak digunakan untuk atau berasal dari aktivitas-aktivitas ilegal seperti money laundering atau perdagangan gelap.

Sesuatu yang rahasia biasanya memang karena sesuatu itu ilegal. Makanya, orang-orang di dunia mulai kepo tentang siapa nama-nama yang tercatut dala dokumen, berapa jumlahnya, dan untuk apa dia gunakan uang-uangnya.

BBC berhasil merangkumnya dengan cukup baik seperti berikut:

Indonesia sendiri menyumbang beberapa nama dalam diri Sandiaga Uno, Prabowo Subianto dan Tommy Suharto. Dan seperti yang semua kita bisa duga, mereka semua membantah. Sandiaga mengaku tidak tahu, Nusantara Energy Resources milik Prabowo udah lama tutup. Sementara keluarga cendana tetap bungkam.

Munafiknya Orang-Orang Kaya Dunia

Sindirian ke orang kaya yang munafik via huffingtonpost.co.za

Dari informasi diatas, kita bisa tahu kalau orang-orang yang semula kita kira innocence dan berusaha membuat dunia menjadi lebih baik ternyata juga “mengemplang pajak.” Ratu Elizabeth, Pangeran Charles dan Justin Trudeau adalah beberapa nama yang mengejutkan keberadaannya dalam Paradise Paper. Entah mereka tidak tahu atau gimana tapi yang jelas, secara moral tindakan mereka tetap salah dan engga fair.

Yah… tapi orang-orang kayak kita bisa apa, sih. Netizen biasa kayak kita cuma bisa menghujat dan membully tapi tetap aja miskin. Huft..

Categories: Opini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.