Pendidikan Soal Uang: Hal Penting Yang Tidak Diajarkan di Sekolah

Kalau kamu pernah baca-baca bukunya Robert T. Kiyosaki dan motivator-motivator lainnya kayak Trump (yup, dia juga bikin buku self-improvement), ada satu hal yang sering mereka tekankan: pendidikan finansial.

Kanda Fajar setuju 100% dengan mereka.

Pendidikan formal “cuma” mengajarkan para murid cara mendapatkan uang dan penghasilan. Sangat jarang ada sebuah institusi pendidikan yang memberi tahu cara mengelola uang yang sudah didapatkan. Ini terjadi di semua negera, tidak hanya di Indonesia.

Coba perhatikan, ada berapa banyak anak kosan yang kelimpungan minta hutang dari teman atau orang tuanya di akhir bulan?

Berapa banyak karyawan yang gajinya tidak cukup membuatnya liburan di akhir tahun?

Berapa banyak anak-anak yang tidak kenal pepatah “menabung pangkal kaya”?

Semua itu pangkalnya cuma satu: financial literacy masyarakat Indonesia masih sangat rendah.

Orang Indonesia tahu bagaimana cara menghasilkan uang. Tapi kita tidak tahu bagaimana memanfaatkannya. Tidak jarang uang yang sudah terkumpul banyak “tiba-tiba” lenyap tak berbekas.

Sifat konsumerisme dan gengsian sangat lekat dengan masyarakat kita. Walaupun tetap ada faedahnya, tapi tetap saja itu merusak kondisi keuangan diri sendiri.

Lalu apa solusinya?

Belajar financial planning adalah jawabannya.

Buat kamu yang belum tahu, financial planning adalah cara-cara mengurus aliran kas masuk dan keluar untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Fungsinya tentu mempersiapkan masa tua yang terbebas dari utang, hidup sejahtera, serta memiliki pengelolaan keuangan yang baik.

FYI, Kanda Fajar anak manajemen keuangan dan pernah belajar ilmu personal finance. Saat di kelas, dosen Kanda Fajar adalah seorang profesional di bidang financial planning and stuffs. Beliau seringkali membangga-banggakan gajinya yang mencapai puluhan juta per bulan. Itu belum termasuk undangan jadi pembicara di korporat dan umum yang rata-rata tembus 50 juta per dua jamnya.

Kalau dari cerita dosen Kanda Fajar itu, tugas utama financial planner adalah memberi saran kepada orang-orang yang kebanyakan duit supaya kekayaannya bisa sustainable sampai bertahun-tahun lamanya. Dialah yang merekomendasikan seorang client untuk mengalokasikan sekian persen ke sebuah instrumen finansial demi mendapat return dan mengamankan kekayaan yang sudah digenggam.

Dan kalau kamu masuk kelasnya, mata kuliahnya cuma seputar tambah, kurang, kali, bagi dan sedikit logika.

Financial planning sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sebelumnya pun bank-bank di Indonesia sudah akrab dengan yang namanya Wealth Management. Seperti yang sudah terlihat dari namanya, layanan ini ditujukan bagi nasabah-nasabah yang super kaya.

Tidak ada perbedaan berarti dari kedua jenis pekerjaan ini. Dua duanya bertujuan untuk membantu client untuk mencapai tujuan finansialnya. Dua-duanya sama-sama digaji gede, dan menurut Kanda Fajar, engga susah-susah amat.

Do you see my point here?

Pendidikan finansial itu amat penting peranannya, tapi sering tidak dipedulikan banyak orang. Untuk pekerjaan yang seperti itu aja, orang-orang kaya diluar sana rela membayar puluhan juta demi sebuah rekomendasi keuangan. Orang-orang terlalu sibuk bekerja sampai-sampai tidak sempat memikirkan kondisi finansialnya 10 sampai 20 tahun kedepan. Padahal kalau mau, mereka bisa melakukannya sendiri.

Itulah kenapa profesi financial planner bisa digaji segede itu sebulan. Sebagai catatan, gaji mereka bisa sebegitu besar karena mereka gelar CFA (Certified Financial Planner). Karenanya, banyak banget anak-anak muda jaman sekarang yang “mengendus” kesempatan itu dan mengambil sertifikasi.

Padahal, tanpa gelar CFA pun kamu seharusnya bisa mengelola keuanganmu sendiri. Yang seperti Kanda Fajar bilang, kamu cuma butuh matematika dasar, logika dan banyak membaca. Itu aja hahahaha.

Kembali ke soal pendidikan finansial. Sampai Kanda Fajar kuliah di 2017 ini, baru sekali Kanda Fajar “terpapar” ilmu tentang bagaimana kita mendayagunakan uang.

Ini lah yang salah dalam sistem kurikulum pendidikan Indonesia. (Sok banget kata-kata ini, haha)

Uang seharusnya sudah harus diperkenalkan sejak usia dini, minimal dari lingkup keluarga dulu. Minimal, perkenalkan dulu budaya menabung dalam keseharian anak-anak.

Uang bukan cuma alat pembayaran. Bukan pula sekadar alat pemuas keinginan. Lebih daripada itu, uang adalah alat untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dalam jangka panjang.

Apakah orang yang tidak kaya bisa tidak perlu wealth management/financial planning?

Menurut Kanda Fajar sangat perlu. Malahan, mereka-mereka inilah yang paling membutuhkan. Orang-orang yang kurang mampu bekerja untuk hari ini. Sedangkan orang kaya bekerja untuk 5 sampai 10 tahun kedepan. Inilah yang perlu kita ubah bersama.

Lebih jauh lagi, wealth management/financial planning perlu diajarkan sedini mungkin. Anak-anak harus diberi tahu bahwa uang tidak hanya untuk bertransaksi tapi juga alat untuk live the life to the fullest.

Semangat itu sudah ada di China. Setidaknya itu yang Kanda lihat lewat video YouTube.

Bayangkan kalau gerakan-gerakan ini bermunculan di Indonesia. Bayangkan kalau anak-anak Indonesia tahu cara mengelola uang yang sudah susah payah kumpulkan.

Kalau itu terjadi, Kanda Fajar yakin kalau jurang pemisah antara si miskin dan si kaya akan semakin tipis. Yang kaya bisa mempertahankan kekayaannya dan yang miskin bisa belajar menjadi kaya.

Enak, kan hidup dinegara yang kayak gini?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *