Beberapa hari belakangan, timeline Facebook, Twitter dan Instagram Kanda Fajar kebanjiran berita tentang seorang anak muda yang disebut-sebut sebagai The Next Habibie. Prestasinya mentereng. Lulusan Tokyo University ini sekarang adalah Asisten Professor di Technische Universiteit (TU) Delft di bidang aerospace. Bukan cuma itu, dia juga ikut merancang Satellite Launch Vehicle dan membuat roket bernama TARAV7s (The Apogee Ranger versi 7s). Yang terbaru dia bahkan sedang dalam proyek pengerjaan satelit pesanan Airbus (AirSat-ABX). Dengan jejak prestasi sehebat itu, wajar rasanya kalau pemerintah Belanda merayu Mahasiswa Indonesia bernama Dwi Hartanto ini untuk menjadi warga negaranya.

Indonesia harus berbangga karena punya anak muda secemerlang Dwi.

Indonesia harus bangga karena akhirnya punya tokoh yang bisa jadi panutan dalam bidang kedirgantaraan.

Nyatanya, semua kehebatan tadi cuma berasal dari postingan Instagram. Kegemilangan prestasi “The Next Habibie” ini cuma klaim sepihak yang dilebih-lebihkan. Persis kayak postingan Instagram temen kamu yang doyan plesiran keluar negeri dan kongkow di cafe mahal. Sama-sama dusta dan nista.

Dwi Salah 30%, Media salah 40%, Pembaca salah 30%

Dari perspektif Kanda Fajar, Dwi cuma bertanggung jawab 30% dari kegaduhan yang dia ciptakan. Beberapa klaimnya engga 100% salah. Cuman akurasinya yang kebablasan. Yang seharusnya cuma proyek amatir mahasiswa kok malah diklaim sebagai proyek pemerintah. Kan ngeselin.

Yang lebih bertanggung jawab malah media, terutama media online, seharusnya. Memang benar, kalau “prestasi” Dwi Hartanto pertama kali diketahui publik lewat program Mata Najwa. Tapi media online-lah yang membantu menyebarluaskannya bak jamur di musim hujan. Cepet banget, lah pokoknya.

Belum lagi kebanyakan orang Indonesia itu suka kemakan sama yang namanya “cerita inspiratif.” Makin jadi trending topic lah si Dwi Hartanto ini. Buat kita orang Indonesia, cerita-tentang-anak-miskin-yang-berprestasi-di-luar-negeri itu adalah cerita inspiratif yang tidak perlu lagi di cross-check. Kita seolah bertindak sebagai warga negara yang haus akan prestasi sehingga tidak pernah merasa perlu untuk meragukan klaim-klaim di media massa. Asalkan ceritanya inspiratif, publik tidak peduli itu hoax atau bukan.

Kesalahan Paling Fatal Media Massa Indonesia

Bukan tanpa alasan Kanda Fajar bilang media massa Indonesia itu harusnya bertanggung jawab 40% di kasus Dwi Hartanto. Selama ini, media massa di Indonesia punya dua kekurangan yang seharusnya tidak boleh ada: Malas memverifikasi data dan melakukan riset.

Tipikal media di Indonesia, terutama yang online, adalah menunggu sebuah kasus mencuat lalu membuat beritanya. Jika satu berita berhasil terbit dan menjadi populer, akan muncul berita-berita lain yang mereplikasi berita pertama, dengan tambahan beberapa informasi yang biasanya tidak lebih dari 1-2 paragraph.

Verifikasi dan riset berita itu luar biasa penting via jurnalapps.co.id

Kanda Fajar sering menemukan kasus kayak gini. Coba kamu baca artikel ini dan artikel ini. Setelah dibaca, coba kamu bandingkan. Niscaya kamu akan menemukan lebih dari 50% kesamaan. Kalaupun beneran beda, isinya palingan cuma karena proses paraphrasing aja.

Semua karena para jurnalis ogah-ogahan melakukan verifikasi berita yang jadi sumbernya. Kalau saja ada jurnalis yang tanggap melakukan verifikasi, cerita sukses Dwi tadi tidak mungkin bisa bertahan sampai setahun lamanya.

Kesalahan kedua adalah malasnya jurnalis, terutama lagi-lagi yang media online, melakukan riset sebelum berita di publish. Kanda Fajar tau dan sadar kalau media online dituntut untuk cepat dan akurat. Tidak ada kriteria sebuah berita online itu harus in-depth dan semacamnya. Hasilnya, yang baca malah engga dapat value added karena mirip dengan berita-berita lainnya.

Nah, ini yang salah. Kalau kamu cukup sering baca postingan Kanda Fajar, kamu mungkin tahu kalau Kanda Fajar sering ambil referensi dari Bloomberg (terutama untuk postingan di kolom Analisis Ekonomi). Di Bloomberg, jurnalisnya memang cepat mem-publish berita, tapi tetap cukup dalam untuk dapat insight baru setelah beritanya dibaca.

Biasanya, sebuah berita akan muncul dulu dalam 2-4 paragraph dan tulisan “Still Developing” dengan Capslock di bawahnya. Inilah trik media sebesar Bloomberg dalam menghadirkan kecepatan, akurasi sekaligus nilai tambah bagi pembacanya di seluruh dunia.

Saran: Nonton Spotlight

Saran Kanda Fajar, semua orang yang berprofesi sebagai jurnalis, harus meluangkan waktu mereka untuk nonton Spotlight.

Cerita film ini berpusat pada 6 orang jurnalis yang tergabung dalam tim “Spotlight” di Boston Globe. Tim ini adalah tim khusus yang menulis berita investigasi yang mendalam. Seringkali, tim ini cuma menghasilkan satu berita setiap 6 bulan.

Dan di film ini, (masukkan nama jurnalis) harus melakukan investigasi atas perlakuan tidak senonoh yang dilakukan pendeta gereja Katolik di Boston. Bayangin, betapa susahnya mengangkat topik ini ke publik. Belum lagi ternyata, tindak kejahatan ini cukup sistematis. Makin sulitlah para jurnalis ini mengungkap kebenaran.

Lewat film ini, kita semua akan tau kalau jurnalis itu adalah the truth seeker. Ibarat Riko yang susah payah melawan kutukan Abyss, seorang jurnalis mungkin harus melakukan riset sampai berdarah-darah agar menghasilkan cerita yang akurat dan berfaedah bagi orang banyak.

Akhir kata, setelah baca postingan ini, kamu harus sadar kalau engga semua berita yang kamu baca itu 100% benar. Kamu harus skeptis saat membaca suatu berita. Nyatanya, dalam hal apapun, kamu memang mesti menumbuhkan skeptisisme. Jangan percaya sesuatu sampai kamu cross-check sendiri.

Kanda Fajar juga harapnya kamu skeptis sama postingan yang Kanda Fajae tulis ini. Kalai bisa malah kamu beberkan dan bantah informasi yang salah disajikan. Lumayan, kan bisa ngeramein kolom komentar wkwk.

Categories: Opini

Leave a Reply