Daripada DPR, Kanda Fajar pikir media adalah wakil rakyat yang sesungguhnya. Lembaga legislative itu apa sih, tugasnya paling bikin UU yang kita engga pernah tau idenya datang darimana. Entah dari hasil pengamatannya sendiri atau dari omongan masyarakat, kita engga pernah tahu. Selama 22 tahun Kanda Fajar hidup, belum satu kalipun Kanda Fajar lihat ada anggota legislative, baik dari pusat dan daerah, yang secara terang-terangan nanya masyarakat butuhnya apa. Beda sama media. Mereka-mereka ini ibarat perpanjangan mata dan mulut rakyat. Kalau wakil rakyat yang sebenarnya (baca: DPR dll) bikin salah, media harus berada di garda terdepan buat rakyat.

Huft… Daripada ngeluh lebih jauh dan malah jadi merendahkan martabat anggota-anggota legislative yang terhormat, lebih baik Kanda Fajar sudahi saja keluhannya. Lebih baik kita nonton aja hasil karya Steven Spielberg yang bekerja sama dengan Tom Hanks dan Maryl Streep di film The Post. Itung-itung bisa jadi contoh baik gimana seharusnya media-media di Indonesia bekerja.

Sinopsis

The Post berpusat pada CEO Washington Post, Katharine Graham. Dia ini wanita pertama yang memimpin salah satu surat kabar terbesar di Amerika. Walaupun dibilang terbesar, dibawah kepemimpinannya, Washington Post sebenarnya terbelit masalah keuangan yang pelik. Pendapatan yang didapat tidak cukup menutupi biaya yang terus membengkak. Alhasil, jalan keluarnya adalah dengan membawa Washington Post go public. Padahal dia dan chief editornya, Ben Bradlee, tahu masalah Washington yang sebenarnya adalah ketidakmampuan mereka untuk mendapatkan berita sebagus pesaing-pesaingnya, terutama The New York Times. Bahkan, mendapat akses ke pernikahan anak presiden Nixon aja, Washington Post engga bisa. Jadi wajar kalau pendapatan terus turun. Tapi, tekanan dari berbagai pihak terutama dari anggota Board of director bernama Arthur Parsons, Katharine harus tunduk dan mengiyakan harga IPO sesuai kesepakatan.

Pertemuan yang mengawali semuanya via theverge.com

Di sisi lain, sahabat Katharine, Secretary of Defense Robert McNamara melihat bahwa Amerika tidak punya peluang untuk menang di perang Vietnam. Walaupun begitu, pemerintah masih saja mengirim anak-anak Amerika kesana. Pendapat ini juga diiyakan oleh State Dept. military analyst Daniel Ellsberg yang sempat bertugas di Vietnam. Tapi karena terus-terusan ditekan, dia akhirnya memilih diam. Setelah pulang dari Vietnam, Daniel diam-diam memfotokopi dokumen-dokumen rahasi pemerintah khususnya yang terkait dengan perang Vietnam. Bukan cuma itu, dia juga membocorkan salinannya ke reporter-reporter dari The New York Times.

Headline dari The New York Post itu menjadi viral di Amerika. In other words, The Post was beaten up by The Times, again. Ben tentu engga tinggal diam. Dia tahu kalau Robert McNamara adalah temannya Katharine. Jadilah dia memaksa Katharine untuk mendapat pernyataan resmi dari Robert. Katharine menolak. Dia engga mau memanfaatkan temannya sebagai objek berita. Tidak hilang akal, Ben akhirnya memilih untuk melacak sumber reporter The Times.

Beberapa hari kemudian, ada keberatan yang disampaikan pemerintah Amerika ke The New York Times. Alhasil, surat kabar ini dibawa ke pengadilan dan The Times tidak boleh lagi menerbitkan berita bohong (padahal bener) soal perang Vietnam ke publik. Di mata Ben, ini adalah kesempatan mereka untuk mengalahkan saingan terberat mereka. Untungnya, salah satu asisten The Post, Ben Bagdikian, berhasil melacak sumber berita New York Times. Dia juga bisa menjalin kontak dengan Daniel Ellsberg. Daniel mau kebohongan pemerintah dibongkar tuntas ke publik. Ben menjanjikan bahwa The Post akan membuka aib pemerintah yang selama ini ditutup rapat. Ben akhirnya membawa dua kardus besar berisi fotokopi dokumen negara ke rumah Chief Editor Ben Bradlee. Di rumah itu, Ben mengerahkan reporter-reporter terbaiknya demi merangkai kebenaran soal kebusukan pemerintah Amerika.

Yang tersisa adalah meyakinkan Katharine soal hal ini. Sebagai CEO, dialah yang berhak memutuskan berita ini layak terbit atau tidak. Kalau tidak jadi terbit, Katharine seakan merasa gagal meneruskan misi ayah dan suaminya di Washington Post. Kalau jadi terbit, besar kemungkinan rencana IPO-nya gagal dan perusahaannya akan kena sanksi seperti New York Times. Sampai tengah malam semua stake holder Washington Post berkumpul di rumah Katharine. Mereka menggodok berbagai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Katharine akhirnya memilih untuk menerbitkan berita itu, apapun resikonya.

reporter-reporter yang siap beraksi via mintpressnews.com

Benar saja, berita Washington Post langsung jadi viral dan Washington Post mendapat teguran keras dari pemerintah. Beberapa hari kemudian, langkah berani Katharine dan Ben itu diikuti oleh surat kabar-surat kabar lain di Amerika seperti Boston Globe dll. Sekarang kasusnya bukan antara pemerintah vs New York Times atau pemerintah vs Washington Post. Kasus ini adalah tentan pemerintah vs seluruh media di Amerika. Tuntutan pemerinta pun gugur di Mahkamah Agung. Kemenangan ini menjadi kemenangan bagi free press revolution di Amerika. Media akhirnya bisa lepas dari kekuasaan pemerintah yang membelenggu kebebasan pers dan Washington kembali ke kodratnya sebagai salah satu surat kabar terbesar di Amerika.

Impression

Where the press is free and every man able to read, all is safe – Thomas Jefferson

Sudah lama rasanya Kanda Fajar engga nonton film keren kayak gini. Terakhir kali, Kanda Fajar nonton Spotlight dan emang impression dari kedua film ini mirip. Spotlight dan The Post mampu membuat kegiatan reportase jadi kegiatan yang menegangkan. Bunyi ruang percetakan bahak sama bikin deg-degannya kayak denger suara tembakan di film-film aksi spionase.

Disini juga terlihat bagaimana Amerika dulu (dan sekarang mungkin) masih menganut paham patriarki. Perempuan dianggap tidak kapabel dalam mengambil keputusan. Lihat aja bagaimana Arthur melihat Katharine. Kelihatan banget kalau dia ini suka underestimate sama kemampuan Katharine.

Yang paling penting adalah film ini menggambarkan bagaimana seharusnya media massa menjalankan tugasnya. Media itu seharusnya menginvestigasi, memverifikasi berita, menerbitkan kebenaran. Bukannya bikin headline bombastis yang engga ada isinya. Media-media di Indonesia kan sekarang kayak gitu tuh. Terutama yang online. Bikin judul yang click bait eh sumbernya cuma dari Instagram. Kualitas beritanya pun kualitas 500 kata yang banyak diulang-ulang. Kelihatan banget deh kalau bikinnya kurang dari satu jam per artikel.

Akhir kata, The Post ini film yang lain dari yang lain. Recommended.

Categories: Movie

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.