Saat mendengar nama Pandji Pragiwaksono, apa yang ada di pikiran kamu-kamu wahai kids jaman now yang ngehitz abizz?

Standup comedian? TV host? Penulis buku Nasional is me? Atau juri SUCI/SUCA?

Kalau kamu tanya Kanda Fajar, jawabannya adalah panutan.

Lah kok bisa?

Kamu bisa tahu jawabannya sebentar lagi

Pertemuan Pertama

Blog post ini bahkan khusus Kanda Fajar buat untuk mengekspresikan kekaguman Kanda Fajar pada seorang mantan host acara Kena Deh!

Kalau boleh jujur, Kanda Fajar mungkin udah jadi fans (oops… Bukan fans tapi penikmat karya) Pandji sejak tahun 2012.

Cerita awalnya gini. Waktu itu, pas Kanda Fajar masih SMA, ada sebuah organisasi nirlaba yang mengadakan acara di sekolah. Nah, Pandji perform lah disitu.

Waktu itu, istilah Stand-up comedy masih asing ditelinga. Makanya dulu, Kanda Fajar dan teman-teman mikirnya dia cuma sharing pengalaman aja. Setelah berbagi pengalaman lucunya, Pandji membagikan DVD show-nya pada siswa yang berani bertanya. Atau berani jawab, ya. Entahlah lupa.

Nah, salah satu teman Kanda Fajar ada yang beruntung dapat DVD-nya Pandji. Ternyata isinya adalah materi standup Merdeka Dalam Bercanda. Isinya lucu parah. Dan sedikit agak bikin yang nonton bergumam, “bener juga, ya.”

Setelah itu, Kanda Fajar juga engga langsung ngefans banget juga, sih. Karena keterbatasan koneksi internet (maklum, dulu SMA-nya di Ciawi, Bogor), Kanda Fajar cuma sempet ikut-ikutan nonton video standup yang susah-susah didownload secara illegal sama teman.

Sampai disini, pun Pandji Pragiwaksono bukanlah pilihan pertama dalam list standup comedian favorit Kanda Fajar. Karena masih SMA, dan alay, yang nomor satu tentu Raditya Dika. Yang kedua adalah Ryan Adriandhy.

Lambat laun, saat pikiran sudah mulai dewasa dan kritis, Kanda Fajar mulai melahap beberapa karya Pandji, terutama video stand-up dan buku. Untuk stand-up, hampir semuanya sudah Kanda Fajar tonton (via YouTube). Untuk buku, Kanda Fajar udah baca Nasional is me, Indiepreneur dan yang terbaru Persisten.

Khusus untuk persisten, akan ada bahasan khusus yang bentar lagi pasti kamu baca.

Sinopsis Singkat

buku terbaru Pandji Pragiwaksono via jurubuku.com

Secara sederhana, buku Persisten adalah semacam behind the scene dari stand-up special ke (masukkan nomor) berjudul Juru Bicara. Lewat buku ini, kamu akan bisa mendapati bahwa dibalik lucunya jokes-jokes Juru Bicara, ada keringat dan air mata yang bercucuran.

Oh ada satu informasi penting soal buku ini. Persisten tidak ditulis dari sudut pandang orang pertama, tapi orang ketiga. Dibuku ke-7, Pandji “cuma” jadi co-writer, bareng Muhammad Husnil.

Buat kamu yang sering baca buku-buku Pandji, sudut pandang orang ketiga mungkin agak kurang nyaman. Pas baca, seakan ada jarak antara Pandji dan pembaca. Beda banget sama pas lagi pake sudut pandang orang pertama. But overall, the book is worth-to-read due to the great content.

Dari mulai bab pertama sampai pertengahan, kamu akan disuguhi berbagai macam kesialan yang dialami Pandji dan team. Sepanjang itu, kamu tidak akan menemukan kata “mengeluh” dan padanannya tercetak di atas buku. Memasuki bab-bab terakhir, kamu dosis motivasinya meninggi. Kamu akan terpapar nilai-nilai luhur berdosis tinggi khas Pandji. Dari semua motivasi itu, akhirnya mengerucut pada satu kata sakti yang jadi judul bukunya, Persisten.

Best Part of the Book

Dari semua cerita dibalik layar Juru Bicara, yang paling menarik perhatian Kanda Fajar adalah di topik sponsorship.

Untuk bisa menerobos masuk pasar dunia, bakat dan kerja keras aja “cuma” akan mewujudkan 50-75% ambisi. Sisanya ya tetap butuh duit. Berhubung, Pandji dan management bukanlah orang-orang yang ada di daftar Orang Terkaya di Indonesia versi Forbes, jadilah mereka butuh sponsor.

Setelah mengirim proposal kesana kemari, Pandji dan team akhirnya bisa menggandeng Garuda Indonesia di Mesakke Bangsaku dan Vidio.com di Juru Bicara. Kedua perusahaan ini nantinya menjadi sponsor utama yang membiayai perjalanan Pandji keliling dunia.

Dua-duanya gagal ditengah jalan.

Kontrak diputus begitu saja. Duit yang diatas kertas jadi hak mereka raib tak berbekas. Proposal yang berkekuatan hukum seakan melemah bagai Superman yang kena batu Krypton.

Singkatnya, kembali pulang ke tanah air dan berkumpul lagi bareng kelurga adalah pilihan yang paling masuk akal saat itu. But, it’s an easy way out.

Di tengah situasi sulit ini, Pandji menolak menyerah. Dia bertekad menyelesaikan apa yang sudah dia mulai. Alhasil, Pandji dan team harus bepergian ke berbagai kota diluar negeri dengan duit utangan.

Profitnya nol besar tapi mereka pantang pulang di tengah jalan. Semua masalah keuangan dilabas tanpa ampun dengan modal nekat, semangat dan kerja keras. Mereka semua menolak tunduk pada sponsor tapi pada mimpi besar yang sedari awal terlihat tidak mungkin dilakukan. Salut.

Impression

Kanda Fajar baca buku Persisten sehari sebelum ujian mid-term. Kalau Kanda Fajar mahasiswa yang teladan, hari itu Kanda Fajar harusnya belajar giat buat dapat nilai bagus.

Sayangnya, Kanda Fajar cuma murid rata-rata. Engga bodoh banget, engga pinter banget. Engga pemalas banget, engga rajin banget. Rata-rata. Engga istimewa.

Ditambah dengan kondisi hati yang engg mood sama sekali, Kanda Fajar memutuskan untuk main PES 2017. Karena ujiannya jam 11.00, Kanda Fajar berencana untuk bangun pagi-pagi buat belajar.

Rencananya sih gitu. Tapi kenyataannya beda.

Mood belajar tidak muncul-muncul jua. Saat itu, Kanda Fajar cuma rasanya ingin bengong dan tiduran aja. Padahal udah jam 8.00.

Penyebabnya adalah kabar bahwa salah satu teman Kanda Fajar akan pergi ke Kuala Lumpur Malaysia untuk presentasi paper yang dia buat. Walaupun, Kanda Fajar seneng denger keberhasilannya, ada rasa iri dan dengki yang tiba-tiba muncul dalam dada.

“Kenapa engga gue aja?”

“Kenapa gue engga bikin paper juga?”

“Kapan gue bisa kayak dia?”

Itu tadi beberapa pertanyaan yang menggelayuti pikiran Kanda Fajar 4 jam sebelum ujian.

Singkat kata, Kanda Fajar jadi galau tanpa alasan yang jelas. Kanda Fajar cuma bolak balik memutar posisi tidur. Engga pengen tidur sebenarnya. Cuma mau galau-ing aja plus merenung tanpa faedah. Saat berbalik ke arah kanan kasur, Kanda Fajar sadar kalau buku Persisten ada di sebelah bantal. Karena lagi butuh banget pelampiasan (yup. Saya memang agak lebay), Kanda Fajar mulai melanjutkan baca buku Persisten yang udah berhari-hari dianggurin.

Untuk ukuran buku standar Pandji, Persisten tergolong tipis. Disaat pikiran kacau serta iri dan dengki hati, baca buku tipis kayak gini mungkin bisa membantu memberi aura positif.

Halaman demi halaman Kanda Fajar sikat dengan lahapnya. Entah karena dikejar waktu atau memang bukunya bagus, dalam 2 jam bukunya berhasil ditamatkan.

Saat halaman terakhir selesai dibaca, Kanda Fajar seakan dapat tamparan keras di pipi. Kanda Fajar seolah digaplok tanpa salah apa-apa.

Kalau diilustrasikan mungkin jadinya gini:

Plok. Kanda Fajar kena tampar di pipi

KF: Lo kenapa, sih? Ada masalah sama gue?

PP: Yang punya masalah itu elo. Bukan gue bego.

Plokkk.

KF: Kenapa gue elo gampar lagi?

PP: Eneg aja gue liat elo. Baring-baring engga jelas. Galau tanpa arah. Temen lo udah mau ke KL, elo masih di kasur.

KF: Gue cuma engga bikin aja. Kalo gue bikin, paper gue yang bakalan masuk.

Plokk..

PP: Kalo elo ga bikin ga usah sok-sok-an. Kalaupun bikin, gue engga yakin paper elo bakal sebagus temen lo.

KF: Enak aja. Bikin gituan mah gampang kali buat gue. Seminggu jadilah kira-kira.

Plok. Plok. Gue digampar dua kali.

PP: Seminggu? Temen elo bikinnya 3 bulan bos. 2 minggu terakhir, temen lo bahkan nyaris engga tidur. Engg kayak elo yang kerjaannya cuma guling-gulingan diatas kasur.

Deng. Kanda Fajar tersadar. Temen Kanda Fajar itu bisa ke Kuala Lumpur karena dia persisten. Kanda Fajar tahu sendiri usahanya. 2 bulan perencanaan. 3 bulan proses bikinnya.

Saat itu Kanda Fajar sadar, persistensi adalah kunci prestasi. Persistensi adalah yang menarik kita keluar dari zona nyaman ke titik dimana keringat mau tidak mau harus keluar.

Mulai saat itu, saat dimana Kanda Fajar menutup lembar terakhir buku ke (masukkan angka) karya Pandji Pragiwaksono, Kanda Fajar berjanji untuk menjadi manusia baru. Manusia baru yang menolak menyerah sampai ambisinya terwujud.

At the end, setelah Kanda Fajar dapat semangat baru dari buku Persisten, Kanda Fajar mulai belajar. Untunglah, dengan waktu yang terbatas, Kanda Fajar dapat nilai 402/500. Congratulations for me!

Note: Saat blog post ini dipublish, Indonesia sedang merayakan Hari Sumpah Pemuda 2017. Untuk para pemuda-pemudi sekalian yang kebetulan baca blog post ini, Kanda Fajar cuma mau bilang kalau diam dan malas tidak akan membawa kamu kemana-mana. Mulai sekarang, mantapkan hati, fokuskan pikiran jadilah persisten, seperti Pandji. Diz emang Panutanqu yang haqiqi.

Categories: Bacaan Resensi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.