Cristiano Ronaldo sekali lagi membuktikan bahwa dirinya adalah pesepakbola terbaik sejagat. Setelah berhasil membawa Real Madrid ke final Liga Champions dan menggondol si kuping besar, Ronaldo kali ini tampil luar biasa bagi negaranya, Portugal.

Di pertandingan awal World Cup 2018, Portugal bisa dibilang sial karena langsung bertemu Spanyol. Walaupun pelatih kepalanya baru saja dipecat, materi pemain-pemain Spanyol tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Disisi lain, Portugal datang ke Rusia dengan bermaterikan pemain-pemain tua di sektor pertahanan seperti Pepe (35 tahun) dan Jose Fonte (34 tahun). Hal ini tentu adalah celah yang bisa dieksploitasi pemain-pemain Spanyol yang terkenal lincah seperti Isco dan David Silva.

Banyak yang memprediksi bahwa Spanyol lah yang akan berhasil memenangkan pertandingan. Fakta membuktikan bahwa anggapan itu salah besar. Pertandingan berlangsung amat seru karena kedua tim saling kejar mengejar gol. Di menit 4, Ronaldo sukses mengeksekusi penalti ke gawang kiper nomor 1 di Liga Premier Inggris, David De Gea. Gol ini dibalas gol Diego Costa yang memporakporandakan pertahanan Portugal. Ronaldo kembali membuat Portugal Memimpin dengan tendangan keras dari kaki terlemahnya. Gol ini dibalas Costa lagi dan disusul dengan tendangan setengah voli dari Nacho. Gol ini membuat Spanyol memimpin 3-2 dan peluang Portugal kian tipis.

Di tengah keputusasaan pendukungnya, Ronaldo tampil spektakuler dengan tendangan bebas melengkungnya. Bola meluncur deras masuk ke dalam gawang sementara David De Gea cuma bisa melongo melihat gawangnya dibobol tiga kali oleh orang yang sama. Dunia bersorak, dan mereka mengelu-elukan seorang Cristiano Ronaldo, seorang pemain berusia 33 tahun yang tidak pernah bosan menunjukkan bahwa dialah pesepakbola terbaik di dunia.

Sementara itu di pertandingan lain, Dunia kecewa melihat penampilan musuh terdekat seorang Cristiano Ronaldo, Lionel Messi. Melawan tim debutan Iceland, Argentina hanya mampu membawa pulang satu poin berkat hasil imbang 1-1 di pertandingan semalam. Pertahanan rapat Iceland membuat Lionel Messi, Angel Di Maria dan Sergio Aguero mati kutu. Bola hanya berputar di sepertiga akhir lapangan dan sesekali diselesaikan dengan tendangan jarak jauh. Dan saat Argentina punya peluang memenangkan pertandingan lewat titik putih, Messi gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Dia gagal mengecoh seorang kiper 34 tahun yang dulunya adalah seorang sutradara film di negaranya. Dan kalau kamu lihat tayangan ulang, penalti Messi pun aneh karena dia menendangnya bagai menendang tendagan bebas, melengkung dan tanggung.

Ini sekali lagi membuktikan satu hal: mental Messi tidak setebal Ronaldo

Kekuatan Mental si CR7

Mental seorang Cristiano Ronaldo memang patut diacungi jempol. Dia sanggup membawa beban negara di pundaknya dan dia melakukannya dengan baik. Di MU, Real Madrid dan Portugal, pemain-pemain lain menggantungkan harap padanya.

The speech from a beast via motivationquotes.org

Ronaldo ini tipikal orang yang tahan dengan olok-olok. Penaldo adalah contohnya. Julukan ini diberikan karena begitu seringnya dia mencetak gol dari titik putih. Tapi orang-orang lupa bahwa dia pernah memberikan jatahnya ke Benzema dalam suatu pertandingan. Orang-orang lupa bahwa dalam tendangan penalti, mental adalah requirement nomor 1. Tanpa mental, kiper akan dengan mudah menghalau tendangan penalti itu.

Oiya, Kanda Fajar baru ingat, di pertengahan musim pertama 2017/2018, orang-orang mulai meragukan kualitas seorang Cristiano Ronaldo. Dia mulai sering membuang-buang peluang dan hasilnya, catatan golnya kalah jauh dibanding Messi di La Liga. Usianya yang sudah lewat 30 tahun dijadikan kambing hitam. Orang-orang melihat bahwa masa edar seorang Ronaldo hanya tinggal menunggu waktu.

Anggapan skeptis dan pesimisme itu bertahan paling tidak sampai bulan Desember kemarin. Tapi memasuki paruh kedua musim 2017/2018, dia tampil meledak. Catatan golnya membaik, baik di La Liga apalagi di Liga Champions. Yang paling berkesan adalah ketika Real Madrid berhadapan dengan Juventus di semifinal. Real Madrid membuang-buang aggregate 4-1 di leg pertama. Di leg kedua, Real Madrid keok 3-0 di Santiago Bernabeu. Pertandingan seperti akan dilanjutkan ke babak adu penalti sampai akhirnya Benatia melanggar Vasquez di kotak terlarang. Ronaldo maju sebagai algojo. Beban di pundaknya begitu besar. Harapan Madrid bergantung pada bola hasil tendangannya. Kanda Fajar cukup yakin bahwa penonton netral pun menginginkan dia gagal sehingga pertandingan akan berlangsung makin seru dan mendebarkan. Di tengah berbagai keraguan itu, Ronaldo mengambil nafas dalam. Dia berlari mantap menuju bola dan menendangnya ke pojok kanan atas gawang dengan keras. Kiper Juventus terlanjur bergerak ke arah berlawanan dan GOOLLLLL!!!!

Mental Ronaldo vs Juventus via abc.net.au

Di tengah situasi penuh tekanan seperti itu, hanya ada segelintir pemain yang sanggup menanggung beban itu. Dan Cristiano Ronaldo adalah salah satunya.

Arsenal Butuh Pemain Seperti Ronaldo

Kanda Fajar adalah pendukung Arsenal. Dan Kanda Fajar menyesal mengetahui kenyataan bahwa Wenger dulu sempat tertarik merekrut Cristiano Ronaldo tapi hal itu tidak jadi terrealisasi.

Ronaldo dulu hampir jadi pemain Arsenal via instagram.com/arsenalfc.always/

Arsenal era Invincible dpenuhi talenta-talenta berbakat plus orang-orang bemental tangguh macam Pattrick Viera dan Thierry Henry. Mereka adalah orang-orang yang mampu mengangkat moral tim dan tampil luar biasa saat benar-benar dibutuhkan.

Setelahnya, Arsenal seperti kehilangan sosok yang mampu dijadikan harapan di saat-saat kritis. Ozil adalah tipikal seniman, mampu tampil baik dan memanjakan mata saat semua berjalan sesuai visinya. Sanchez adalah pemain hebat dan pekerja keras, tapi dia terlalu egois untuk mau menanggung beban tim. Sementara si kapten tim, Laurent Koscielny, dia adalah pemimpin di lapangan tapi tidak bisa diharapkan untuk tampil bagus setiap saat.

Arsenal butuh perubahan. Arsenal butuh pemain dengan mental baja setebal Cristiano Ronaldo. Unai Emery selaku pelatih baru Arsenal tampak mengetahui kebutuhan itu. Hal itu terlihat dari aktivitas transfer klub yang ramai diperbincangkan. Selain merekrut bakat-bakat muda seperti Torroeira dan Bernd Leno, Emery juga merekrut pemain-pemain sarat pengalaman dalam diri Sokratis dan Stephan Lichtsteiner. Keduanya diharapkan sanggup membimbing skuat Arsenal kedepannya dan menularkan mental pemenang ke pemain-pemain muda bertalenta macam Bellerin, Mavropanos, Maitland-Niles dll.

Semoga bisa menularkan mental juara ke skuat muda Arsenal via arsenal.com

Akhir kata, Arsenal tidak butuh seseorang seperti Lionel Messi, Arsenal butuh Cristiano Ronaldo.

Categories: Arsenal Thought

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.