Piala Dunia memang tidak ada habisnya dibahas. Selain karena isu-isu korupsi dan power abuse yang tiap tahun menderanya, kompetisi sepakbola bikinan FIFA ini juga engga ada habisnya memunculkan kejutan. Messi? Out. Ronaldo? Out. Christian Erikksen? Out. Entah sudah ada berapa banyak pemain yang tampil baik di klub tapi gagal membawa negaranya melangkah lebih jauh.

Yang lebih miris lagi Spanyol. Tim matador memang datang ke Rusia dengan kondisi pincang berkat dipecatnya Lopetegui. Tapi tetap aja kita engga boleh anggap remeh kreativitas Isco, kebuasan Costa dan intrik-intrik Ramos. Tapi nyatanya toh tim ini tetap kalah, dan Rusia adalah pelaku utamanya.

Rusia = Spanyol Antidote?

Di pertandingan kemarin malam, Spanyol tampil dengan susunan pemain terbaiknya. De Gea di posisi kiper. Alba, Ramos, Pique dan Nacho mengisi lini belakang. Sementara itu, Koke, Busquet, Silva, Isco dan Asensio mengisi lini tengah. Diego Costa tetap dipercaya sebagai penyerang tunggal.

Diatas kertas, skuat Spanyol unggul jauh diatas Rusia, dimana cuma Akinfeev, Golovin, Dzyuba dan Zhirkov yang akrab di telinga. Tapi memang, kemampuan individu pemain tidak akan berarti apa-apa tanpa sistem permainan yang tepat. Hal ini dibuktikan dengan betapa mandeknya serangan-serangan Spanyol selama hampir 90 menit waktu normal.

Rusia yang menggunakan formasi 5-4-1 dengan sistem flat terbukti efektif mematikan pemain-pemain Spanyol yang terkenal kreatif dan lincah. Aliran bola Spayol hanya berkutat di lini tengah. Pertahanan solid Rusia membuat Diego Costa kekurangan supply bola sementara Isco, Busquet dan Silva lebih sering mundur ke tengah untuk menjemput bola. Gelandang-gelandang Spanyol seperti hilang akal di depan kedisiplinan pemain-pemain belakang Rusia. Bahkan, satu-satunya gol Spanyol adalah hasil dari gol bunuh diri pemain Rusia sendiri!

Akhirnya, Aleksandr Golovin dkk berhasil memaksa Spanyol ke babak adu penalti dan seperti yang kita tahu, Akinfeev lah yang akhirnya tampil sebagai pahlawan.

Arsenal Harus Mencoba Pendekatan Rusia dalam Bertahan

Menjelang akhir kepemimpinan era Wenger, Arsenal makin terlihat bobrok, terutama di lini belakang. Dari 38 pertandingan, Arsenal berhasil memenangi 19 pertandingan dan kalah di 13 pertandingan lain. Selisih menang-kalah yang tipis ini menggambarkan betapa Arsenal masih harus banyak berbenah.

Dan lagi, dari 38 pertandingan yang sudah dilakoni, gawang Arsenal bobol 51 kali. Artinya, di setiap pertandingan, paling tidak Petr Cech atau Ospina kebobolan 1.34 kali. Cukup banyak kalau dibandingkan duo Manchester.

Kesalahan paling banyak datang dari duet palang pintu utama, Koscielny dan Mustafi, yang kurang meyakinkan. Entah kenapa, kedua orang ini terlihat kurang nyaman saat bermain dengan 4 bek. Untuk itu, Wenger sempat mengadopsi skema 3 bek dengan susunan (dari kiri ke kanan), Monreal, Mustafi, Koscielny. Skema ini cukup berhasil meminimalisir kesalahan-kesalahan pemain belakang tapi disaat bersamaan, mengorbankan sisi eksplosif Monreal.

Yup, walaupun sudah berusia 31 tahun, Monreal cukup aktif membantu serangan tapi juga tidak mudah ditembus saat bertahan.

Penampil terbaik di lini pertahanan Arsenal via metro.co.uk

Arsenal perlu belajar cara bertahan dengan lebih baik kalau ingin kembali berada di 4 besar, atau bahkan bermimpi mengangkat trofi Liga Premier Inggris. Bellerin dan Monreal yang sering naik membuat duet Kosciely-Mustafi sering terekspos. Ditambah lagi ketiadaan pemain tengah berkarakter bertahan di lini tengah membuat pertahanan Arsenal makin rapuh. Untuk itu, cara bertahan Rusia bisa dijadikan contoh yang baik dalam hal ini. Garis pertahanan yang menganut sistem zonasi dan flat sejajar, terbukti ampuh membuat lawan, yang diatas kertas punya kualitas lebih baik, mati kutu.

Liat aja betapa frustasinya Isco, Koke dan gelandang Spanyol lain dalam membongkar pertahanan rapat Rusia. Spanyol terpaksa melakukan lebih dari 1000 passing tanpa berpotensi membahayakan gawang. Spanyol gagal memanfaatkan kekuatan terbesarnya untuk menembus gawang Rusia.

Harapan Baru dengan Perekrutan Leno, Sokratis, Torreira

Unai Emery selaku pelatih kepala Arsenal nampaknya mengerti bahwa pertahanan Arsenal adalah bagian yang paling butuh pembenahan dengan segera. Hal ini terlihat dari aktivitas transfer Arsenal yang selalu berhubungan dengan pemain berkarakter bertahan. Tercatat, Lichtsteiner, Leno, Sokratis, dan Torreira adalah beberapa nama pemain bertahan yang bisa dipastikan merapat dengan Arsenal musim depan.

Tambahan Amunisi di posisi bek tengah via twitter.com/Arsenal

Tanpa mengecilkan peran Lichtsteiner nanti, bisa dipastikan kalau pertahanan Arsenal ala Emery akan bertumpu pada Leno, Sokratis, dan Torreira. Leno adalah opsi yang lebih baik ketimbang Ospina dan penerus dari Cech yang sudah menua. Sokratis akan mengancam posisi nyaman Koscielny atau Mustafi di musim kemarin serta membimbing bek-bek muda Arsenal seperti Chambers, Holding, dan Mavropanos. Sementara Torreira, menilik permainannya yang tak kenal lelah saat melawan Portugal, pemain ini adalah pemain yang sudah sejak lama dirindukan fans. Tipe permainannya disiplin cenderung keras dan work rate-nya tinggi. Cocok untuk melindungi Xhaka, Ramsey, Ozil atau Mikhitaryan di lini tengah.

Arsenal no. 1 via twitter.com/Arsenal

Perekrutan Emery sejauh ini membuktikan kalau dia memang sudah melakukan pekerjaan rumahnya dengan baik. Dia tahu bahwa kelemahan Arsenal adalah sistem pertahanan yang kurang disiplin dan work rate-nya rendah. Dengan kehadiran 4 pemain bertahan baru musim ini, harapan untuk bisa melihat Arsenal baru yang lebih baik tentu semakin membumbung tinggi.

Categories: Arsenal Thought

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.