Taxi Driver: Sebuah Mahakarya Asal Korsel yang Membuat Profesi Supir Tampak Keren

Di era serba mudah ini, pekerjaan sebagai supir taksi engga lagi dipandang sebelah mata. Apalagi di era keemasan Go-Jek, Grab dan Uber kayak sekarang. Penghasilan mereka sebulan bisa 2-3 kali lipat dari gaji pegawai tetap. Makanya, ada banyak orang yang rela resign demi jadi supir.

Kalau dulu, jadi supir itu ga pernah jadi dream job. Yang jadi supir itu orang-orang yang skillnya cuma mengemudi. Tidak lebih. Kanda Fajar termasuk orang yang mikir kayak gitu. Semua berubah pas Kanda Fajar selesai nonton film Korea yang Judulnya Taxi Driver.

Sinopsis

Alkisah, di musim semi 1980, Korea Selatan sedang dalam masa transisi menuju negera yang lebih demokratis. Setelah Park Chung-hee dibunuh, beberapa kudeta berkekuatan militer menghadirkan kengerian dan kecemasan di masyarakat. Masalahnya, tidak ada pengganti yang punya kekuatan politik selayaknya Park Chung-hee. Jadilahnya, banyak daerah yang mulai memberontak. Salah satu yang pertama adalah di Gwangju.

Situasi di Gwangju terbilang parah. Mahasiswa turun ke jalan. Media di sensor habis-habisan. Militer menghajar warga biasa. Dan karena tempat yang berbahaya itu makin menarik di mata jurnalis, Jürgen Hinzpeter memutuskan pergi kesana mencari kebenaran yang harus dunia ketahui.

Kim Man-Seob supir taksi biasa dengan keberanian luar biasa via thr.com

Karena Mr. Hinzpeter berani bayar mahal untuk sampai ke Gwangju, Kim Man-Seob melihat sang wartawan sebagai cara cepat mendapat uang. Masalah utang membuatnya nekat membawa Jürgen Hinzpeter ke Gwangju yang sekarang sedang berada dalam situasi darurat militer. Di awal, perjalanan mereka tampak baik-baik saja. Di perbatasan, mereka dicegat sekelompok tentara bersenjata lengkap. Kim Man-Seob mulai khawatir dan ingin pulang. Jürgen Hinzpeter mengancam untuk tidak membayar Kim Man-Seob kalau dia tidak bisa sampai ke Gwangju. Daripada pulang dengan tangan hampa, Kim Man-Seob bermain peran sebagai supir yang harus mengantar seorang pebisnis kaya ke Gwangju.

Beruntung bagi Jürgen Hinzpeter, baru beberapa menit masuk ke wilayah Gwangju, dia udah bertemu sama sekelompok mahasiswa di sebuah truk yang membawa-bawa bendera Korea dengan sangat bersemangat. Tanpa membuang waktu, Jürgen Hinzpeter langsung merekam kejadian yang dia lihat. Karena ada mahasiswa yang bisa bahasa Inggris (dan karena ada beberapa kali cekcok sama Kim Man-Seob), Jürgen Hinzpeter memutuskan untuk pergi dengan para mahasiswa. Kim Man-Seob mengikuti dari belakang.

Karena sudah dibayar setengah harga, tepat di belokang pertama Kim Man-Seob langsung belok arah kembali ke Seoul. Niatnya berubahnya setelah Kim Man-Seob melihat seorang ibu-ibu tua. Dia mengantar si ibu tua ke rumah sakit mencari anaknya yang sudah semalaman tidak pulang. Di rumah sakit, pemandangan yang tidak biasa langsung menampar keras Kim Man-Seob.

Orang-orang terluka parah. Para supir taksi sibuk mengantar para korban yang terluka. Para ibu menangis di samping jasad anaknya. Semua pemandangan itu sama sekali tidak pernah dibayangkan Kim Man-Seob sebelumnya. Kehidupan di Seoul yang tenang sama sekali berbeda dengan suasana berdarah di Gwangju. Belum lagi para supir lain melihatnya dengan tatapan jijik karena Kim Man-Seob “tega” menerima 100 ribu won dari Jürgen Hinzpeter. Menurut mereka, semua orang yang ada Gwangju haruslah saling tolong dengan ikhlas dan tanpa pamrih.

Benar saja, masyarakat Gwangju itu sangat solid. Bensin disediakan gratis, servis mobil gratis dan para perempuan turun ke jalan memberikan makanan khas Korea yang juga gratis. Semuanya sebagai bentuk perlawanan masyarakat menolak tangan besi pemerintah di seluruh wilayah Gwangju. Kebetulan juga disaat itu, warga sedang berkumpul di depan balai kota. Mungkin karena protes yang keras, pemerintah mengerahkan kekuatan militer untuk membubarkan masa. Karenanya, tentara memukuli para demonstran dengan brutal dan keji. Warga yang cuma ingin hak-haknya diakui disiksa tanpa ampun. Menurut Jürgen Hinzpeter, dunia perlu tahu situasi berdarah di Gwangju ini. Sebagai reporter, Jürgen Hinzpeter merasa punya beban moral untuk memberitakan apa yang tejadi.

suasana rumah khas Korea via hancinema.net

Situasi makin memburuk. Hwang Tae-Sool (si kepala pagyuyuban taksi Gwangju) dan Koo Jae-Sik (si mahasiswa translator) mengajak Kim Man-Seob serta Jürgen Hinzpeter pergi dari lokasi kejadian. Naas, Kim Man-Seob tidak bisa langsung kembali ke Seoul karena mobilnya mogok. Jadilah Koo Jae-Sik, Kim Man-Seob dan Jürgen Hinzpeter menginap ke di kediaman Hwang Tae-Sool. Suasana rumah jadi ramai karena setiap orang mau melepaskan ketakutan yang baru saja mereka alami. Sayang, harapan untuk sejenak saja merasakan kedamaian harus pupus karena ada suara deru senapan yang bersaut-sautan. Ternyata, malam itu sebuah kantor berita di berangus pasukan khusus pemerintah.

Malam yang seharusnya gelap berubah menjadi merah menyala. Jürgen Hinzpeter kembali mengeluarkan kamera dan merekam setiap menit kejadian. Tindakannya ketahuan oleh para tentara yang berpakaian seperti preman. Koo Jae-Sik, Kim Man-Seob dan Jürgen Hinzpeter kabur ke sebuah rumah susun tua yang tidak berpenghuni. Naas bagi Koo Jae-Sik, dia tertangkap dan dibunuh di tempat sementara Kim Man-Seob dan Jürgen Hinzpeter berhasil kembali ke rumah Hwang Tae-Sool.

Esoknya, Kim Man-Seob kembali ke Seoul pagi-pagi buta. Dalam perjalanan, nuraninya bergejolak. Dia diantara dua posisi sulit; kembali ke Seoul demi anaknya atau ke Gwangju demi Jürgen Hinzpeter. Kim Man-Seob memilih pilihan kedua. Dia kembali ke rumah sakit menemukan Hwang Tae-Sool terduduk di samping jasad Koo Jae-Sik yang baru diangkut dari sawah. Di depannya, ada Jürgen Hinzpeter yang terduduk lemas melihat orang yang dekat dengannya harus meregang nyawa akibat kebrutalan pemerintah.

Menolak untuk menyerah, Kim Man-Seob mengajak Jürgen Hinzpeter untuk mengambil beberapa gambar lagi. Kim Man-Seob berpikir kalau cuma Jürgen Hinzpeter-lah yang punya resource untuk memberitakan betapa kacau situasi di Gwangju. Bukan cuma memotivasi kembali Jürgen Hinzpeter, Kim Man-Seob malah memimpin segerombolan supir taksi untuk menyelamatkan warga yang ditembaki militer dengan brutalnya. Tapi Kim Man-Seob ingat bahwa dia dan Jürgen Hinzpeter membawa beban yang lebih berat: menyiarkan kebenaran soal Gwangju ke seluruh dunia.

Koo Jae-Sik, si mahasiswa penerjemah via hancinema.net

Keduanya lalu pergi dari lokasi penembakan dan bergegas kembali ke Seoul. Di perbatasan, Kim Man-Seob dan Jürgen Hinzpeter kembali dicegat oleh pihak militer. Kim Man-Seob tidak bisa menggunakan alasan yang sama seperti waktu masuk ke Gwangju karena peraturan akan makin ketat. Berkat plat nomor yang dikasi sama Hwang Tae-Sool, akhirnya Kim Man-Seob dan Jürgen Hinzpeter berhasil menerobos keluar dari Gwangju. Sayang, militer tidak menyerah begitu saja. Mereka kembali mengejar taksi Kim Man-Seob dan Jürgen Hinzpeter. Untungnya, Hwang Tae-Sool dan beberapa supir taksi lain datang membantu Kim Man-Seob dan Jürgen Hinzpeter meloloskan diri.

Di Seoul, Jürgen Hinzpeter tidak mau membuang waktu untuk kembali ke Jepang. Dia tidak boleh membuang waktu lebih banyak supaya warga Gwangju tidak disiksa lebih lama. Menjelang keberangkatannya, Jürgen Hinzpeter ingin bertukar alamat sama Kim Man-Seob. Sayang, si supir taksi ingin hidup tenang dan malah memberi identitas palsu pada Jürgen Hinzpeter.

Impression

This film is a goddamn masterpiece! Kanda Fajar udah nonton cukup banyak film Korea (kamu bisa baca di blog ini juga) tapi this one is exceptional.

Alur ceritanya amat sangat smooth. Tidak bercela sedikitpun. Naik turunnya emosi sangat pas timing-nya, suasananya dan akting tokohnya. Di awal, kamu mungkin masih bisa ketawa-ketawa kecil. Di tengah, kamu bakal sering mengucap sumpah serapah ke tentara-tentara pemerintah yang brutal. Di bagian akhir, kamu bakal ngerasa sedih karena tau Kim Man-Seob dan Jürgen Hinzpeter tidak akan pernah bertemu lagi setelahnya.

Semua bentuk kebrutalan pemerintah harus musnah dari muka bumi via nytimes.com

Not to mention how thrilling it is to see taxi drivers fight against the military who chased them down. No nitro, no sophisticated tech, no men with muscle but the same excitement.

Satu hal lagi, Kim Man-Seob adalah tokoh yang bersinar paling terang di Taxi Driver. Dia berhasil membawa karakter orang susah yang bimbang antara materi dan hati nurani. Character Development-nya juga oke punya. Diawal, Kim Man-Seob mungkin berpikir kayak gini; “what the hell I am doing here!.” Menjelang akhir, pikirannya berubah jadi gini; “I feel wrong leaving my friend behind. I should come back and make it right.” Brilliant.

Akhir kata, Taxi Driver berhasil membawa kekejaman pemerintah otoriter ke layar perak. The film make me angry about any leaders who use brutality to gain their power.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *