Pagi hari tanggal 4 Desember 2017, Kanda Fajar nonton berita di TV. Mumpung lagi makan di warteg Pak RT yang melegenda itu, Kanda Fajar engga menyia-nyiakan waktu dengan mengganti channel gosip pagi dengan berita yang lebih berfaedah. Benar saja, ada berita penting yang terjadi hari itu. Berita yang dimaksud adalah launching Gerbang Pembayaran Nasional atau sering disingkat GPN.

Menurut Deputi Gubernur Senior BI, ide GPN ini sudah dipikirkan sejak 20 tahun sebelumnya. Dan di penghujung tahun 2017 ini, GPN benar-benar jadi kenyataan.

Tapi apakah sebenarnya GPN itu? Apakah ide yang udah 20 tahun digodok itu bisa bermanfaat buat kita? Inilah yang akan Kanda Fajar bahas di blog post ini.

The Definition

Menurut definisi resmi dari Bank Indonesia (BI), Gerbang Pembayaran Nasional/National Payment Gateway adalah sistem yang terdiri atas standar, switching, dan services yang dibangun melalui seperangkat aturan dan mekanisme (arrangement) untuk mengintegrasikan berbagai instrumen dan kanal pembayaran secara nasional. Kamu bisa baca dokumennya lewat link ini.

Kalau masih bingung, Kanda Fajar mengibaratkan GPN sebagai Visa atau Mastercard dengan kearifan lokal. Dengan begitu, secara teori kamu bisa melakukan pembayaran lewat ATM mana saja dengan biaya yang lebih murah.

Loh bukannya sekarang juga udah bisa ya? Kan ada ATM Bersama atau Alto?

Ini juga yang mengganggu Kanda Fajar selama beberapa hari. Setelah googling sana sini, akhirnya Kanda Fajar ketemu jawabannya.

ATM Bersama, Alto dan Prima adalah jaringan interbank yang beroperasi di Indonesia. Mereka semua ada untuk memfasilitasi transaksi antar bank via ATM. Ketiganya punya rekanan bank-bank yang berbeda. Misalnya Alto, jaringan ATM ini melayani bank-bank seperti CIMB Niaga, Maybank, Panin dll. Sedangkan, ATM bersama punya lebih banyak lagi rekanan seperti Mandiri, BRI, BNI dll.

Kalau tidak ada ATM Bersama, Alto dan Prima, kamu cuma bisa tarik tunai di ATM bank kamu doang. Kamu engga akan bisa pakai ATM bank lain.

bisa jadi lawan langsung Visa dan Mastercard via mybalitrips.com

Terus beda dong sama Visa dan Mastercard?

Jelas beda, dong. Visa dan Mastercard itu sebenarnya adalah perusahaan penyedia credit card. Walaupun begitu, Visa dan Mastercard hanya sekedar “meminjamkan” expertise dan teknologi mereka ke bank dan institusi financial lainnya. Kedua perusahaan ini mendapatkan untung dari fee dari setiap transaksi yang terjadi dalam jaringannya.

To sum up, GPN hadir untuk menyatukan perbedaan diantara ATM Bersama, Alto dan Prima. GPN juga overlapped fungsi Visa dan Mastercard karena GPN emang bisa memproses transaksi kartu kredit. GPN adalah standar nasional di Indonesia. Jadi, setiap kali kita transaksi di antar bank, jaringan yang dipake cuma satu walaupun pengelola jaringannya bisa beda-beda.

Keuntungan Dari Adanya GPN

Dari banyak artikel yang Kanda Fajar baca di Kompas, Kontan, Detik, Finansialku dll, ada 3 tujuan utama kenapa GPN dibuat. Jawabannya adalah:

  1. Menciptakan ekosistem dari sistem pembayaran yang saling interkoneksi, interoperabilitas dan mampu melaksanakan pemrosesan transaksi yang mencakup otorisasi, kliring dan setelment secara domestik
  2. Meningkatkan perlindungan konsumen antara lain melalui pengamanan data transaksi nasabah dalam setiap transaksi.
  3. Meyakinkan ketersediaan dan integritas data transaksi sistem pembayaran nasional guna mendukung efektifitas transmisi kebijakan moneter, efisiensi intermediasi dan resiliensi sistem keuangan.

Oke. Kanda Fajar tahu kalimat diatas adalah jawaban yang intelektual banget. Kanda Fajar akan coba sederhanakan buat kamu. Intinya adalah GPN ada supaya utilisasi/penggunaan infrastruktur jaringan, mesin ATM dan EDC bisa lebih maksimal dan biaya investasi bisa ditekan.

Sri Mulyani di peluncuran GPN via sekuritas.co.id

BI menilai GPN tersebut bisa menurunkan biaya transaksi, terutama yang lewat mesin EDC, sehingga merchant discount rate (MDR) diturunkan dari saat ini 2-3% menjadi 1%. Merchant Discount Rate Perusahaan adalah fee/komisi yang diminta bank untuk setiap transaksi yang menggunakan EDC milik bank tersebut. Komponen komisi biasanya dihitung berdasarkan sejumlah faktor, seperti volume, risiko dan sektor industri.

Kalau tujuan itu tercapai, masyarakat diharapkan dapat lebih sering lagi melakukan transaksi yang artinya fee based income bank bisa lebih tinggi. Hasilnya, suka bunga kredit bisa diturunkan karena bank cari duit bukan dari spread bunga simpanan dan kredit lagi.

Is That an Urgently Needed Initiative?

Seperti yang tadi sudah Kanda Fajar bahas, GPN sudah digodok selama 20 tahun. Lalu kenapa harus sekarang diluncurkan? Adakah situasi-situasi khusus yang mendorong BI meresmikannya pada tahun ini?

Menurut Kanda Fajar pribadi, setidaknya ada dua alasan kenapa keputusan BI meresmikan GPN adalah keputusan yang tepat. Pertama adalah karena ledakan e-commerce dan tingginya transaksi kartu per hari.

E-commerce yang Terus Menjadi Hot Topic

Tidak ada yang menyangkal kalau e-commerce is a big thing today. Selepas 2017, tren e-commerce sepertinya belum akan berakhir. Malah akan semakin menggila kalau melihat tren 5 tahun terakhir.

Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 50% GDP Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Bandingkan dengan investasi sekitar 32%, dan belanja pemerintah 9%. Ini artinya semakin boros masyarakat semakin baik perekonomian Indonesia.

selalu naik ya tren-nya via swa.co.id

Porsi konsumsi yang besar itu ternyata disumbang transaksi online juga, loh. Menurut data BPS, 11,33% masyarakat menggunakan internet untuk belanja online. Sehingga cukup wajar kalau di semester I 2017 kemarin, transaksi e-commerce mencapai 6,69% dari konsumsi. Ditilik dari nilainya, transaksi e-commerce tadi senilai US$ 18,61 miliar atau Rp 248,2 triliun ($1=Rp 13.300)!

mempunyai sistem pembayaran yang bagus adalah sebuah keharusan. Sistem pembayaran yang rumit akan membuat konsumen, terutama dari kaum millenial kayak kamu, malas belanja. Kalau itu terjadi, porsi investasi akan naik. Dengan kata lain, Indonesia bisa saja lebih ketergantungan dengan duit dari luar negeri.

Tingginya Nilai Transaksi Perbankan Per Hari

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Eni V Panggabean, jumlah rata-rata transaksi via sistem BI-RTGS bisa mencapai Rp 509,2 triliun per hari per Januari 2017. Dibandingkan dengan tahun kemarin, angka ini tumbuh kira-kira 19%.

agak susah dibaca ya diagramnya via katadata.co.id

Adapun transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (BI) tercatat mencapai Rp 14,2 triliun per hari per Januari 2017. Dibandingkan dengan tahun kemarin, angka tahun ini juga tumbuh 19%.

Tidak jauh berbeda dengan transaksi ritel.  Per Desember 2016, transaksi  ritel via kartu ATM-Debit tumbuh 14,3%. Ini senilai dengan transaksi sebesar Rp 16,9 triliun per hari. Transaksi ritel dengan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) juga bertumbuh 13,6%. Kalau melalui uang elektronik pertumbuhannya sekitar 34,1% atau menjadi Rp 24,2 miliar. Sementara itu, rata-rata transaksi harian kartu kredit justru mengalami penurunan sebesar 0,2% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 680,7 miliar.

Verdict

Di Indonesia, jumlah instrumen kartu ATM Debit mencapai 136,1 juta. Sementara itu, jumlah instrumen kartu kredit mencapai 17,4 juta dan uang elektronik ada 51,2 juta. Dengan banyaknya instrumen pembayaran via kartu, memiliki jaringan yang tersentralisasi seperti GPN adalah sebuah lompatan besar. GPN berpotensi meningkatkan efisiensi dalam hal infrastruktur buat bank-bank di Indonesia. Biaya-biaya yang berlebihan jadinya bisa dipangkas karena infrastruktur yang dipakai cuma satu. Hasilnya, Bank senang dan konsumen pun juga senang.

Categories: Analisa Ekonomi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.