Buat kamu yang suka nonton tontonan yang bikin mikir, serial Billions adalah salah satu yang harus kamu coba. Kanda Fajar udah habis nonton 2 season dan memang serial ini keren parah. Karakter favorit Kanda Fajar, dan mungkin juga orang-orang lain, adalah Bobby Axelrod. Dia ini tipikal orang yang ambisius. Dia akan melakukan apapun supaya tujuannya tercapai. Dan karena dia adalah CEO dari sebuah hedge fund, kesuksesannya diraih lewat cara curang: Insider trading.

Kanda Fajar tidak akan membawa kamu menelisik lebih jauh soal insider trading dan prakteknya. Selain karena kasusnya yang sedikit terjadi di Indonesia, topik Kanda Fajar kali ini bukan tentang hendge fund dan semacamnya, tapi soal startup teknologi sukses beranama Uber. Loh kok bisa?!

Bisa karena diperspektif Kanda Fajar, Uber dan CEO-nya kala itu, Travis Kalacnik, amat sangat mirip dengan Bobby dan Axe Capital-nya. Kedua orang CEO ini sama-sama ambisius dan tentu saja rela menghalalkan segala macam cara supaya menjadi pemimpin industrinya masing-masing. Dan hal itu berarti dibalik kegemilangan Uber dan Axe Capital, ada berbagai macam masalah yang siap datang kapan saja tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Sejarah Uber: At a Glance

Ide dasar Uber pertama kali didirikan oleh Garret Camp dan Travis Kalanick pada tahun 2008. Di tahun itu, keduanya bertemu untuk pertama kali dalam sebuah konferensi teknologi di Paris. Di pertemuan itu, mereka berbincang soal gimana susahnya mencari taksi di San Francisco yang dingin bersalju. Dari situ, tercetuslah gagasan untuk layanan mobil yang nyaman dan terjangkau yang bernama UberCab. Setahun kemudian, mulai berganti nama menjadi Uber tapi masih tetap tidak punya produk yang dijual.

uber ceo
Founder yang (pernah) jadi CEO Uber via mobilemarketingmagazine.com

Di awal tahun 2010, Travis Kalanik dan Garret Camp memutuskan untuk meng-hire orang lain sebagai CEO. Orang yang beruntung itu adalah Ryan Graves, mantan karyawan GE. Di tahun yang sama, aplikasi Uber akhirnya mendarat pertama kali di Apple App Store. Masalah belum selesai sampai disitu. Travis Kalanik dan Garret Camp tau kalau mereka butuh uang banyak buat menjalankan Uber. Alhasil, mereka akhirnya menggalang dana lewat situs AngleList dan terkumpulah USD 600 ribu sebagai pendanaan awal Uber.

Di akhir 2010, UberCap berganti nama menjadi Uber saja. Aplikasi mereka juga mulai bisa di-download Google Play store. Di tahun ini pula, Travis Kalanik, si Co-founder naik jabatan jadi CEO sementara Ryan Graves jadi COO. Di bawah tangan dingin Kalanik, Uber berkembang dengan cepat. Dari yang awalnya hanya di San Fransisco, Uber kini udah ada di 58 negara dan memiliki valuasi lebih dari $60 milliar!

Banyak Duit = Banyak Masalah

Dengan valuasi milliaran dollar, Uber tercatat sebagai startup paling bernilai di dunia. Valuasi sebesar itu datang dari visi perusahaan ini tidak pernah berhenti berekspansi. Sayang ekspansi Uber yang kadang gila-gilaan ternyata menjadi duri dalam daging yang lama kelamaan menggerogoti Uber itu sendiri.

Dibawah ini Kanda Fajar udah punya daftar masalah-masalah apa aja yang pernah dihadapi sama Uber dan Travis Kalanik sebagai CEO. *Dan ini belum semuanya*

Sexist Jokes and Other Problems with Women

Entah karena keblinger apa, Travis Kalanik ini cukup sering berkomentar bernada seksis di media. Di Indonesia mungkin engga terlalu bermasalah, tapi di Amerika sana, komentar-komentar yang terhitung merendahkan skill perempuan bisa berakibat fatal. Apalagi kalau itu dikeluarkan dari mulut seorang CEO perusahaan sesukses Uber.

“Yeah, we call that Boob-er.” Itulah kata-kata Travis saat diwawancarai majalah GQ soal bekerja sama dengan perempuan. Jelas hal itu membuat banyak orang meradang. Setelah jokes yang engga lucu itu, banyak orang saat itu menganggap kalau Uber bukanlah tempat yang bagus buat perempuan.

susan fowler
Susan Fowler, the whistle-blower via ft.com

Dan benar saja, beberapa tahun kemudian, mantan Uber engineer Susan Fowler membuat sebuah blog post yang menggambarkan betapa working culture di Uber sangat tidak ramah buat perempuan. Nyatanya, Susan seringkali menerima sexual harassment dari atasannya. Dia didiskriminasi karena dia perempuan dan saat Susan melaporkannya ke departemen HR, dia malah berada dalam ancaman pemecatan dan poor performance review dari atasan.

Uber is like James Bond

Kanda Fajar bikin subjudul ini bukan tanpa alasan. James Bond terkenal sebagai mata-mata MI6 yang jago berantem tapi selalu berpenambilan elegan dimanapun dan kapanpun. Mirip kayak Uber. Dari tampak luar, Uber adalah perusahaan yang dengan brillian menyelesaikan masalah transportasi di kota-kota besar. Tapi sebenarnya, perusahaan adalah mata-mata ulung. Tercatat bahkan Beyonce aja jadi target mata-matanya.

Di tahun 2014, Forbes mencatat kalau Uber memonitor informasi apa saja terkait lokasi penggunanya. Nyatanya, Uber bukan cuma memata-matai pengguna tapi juga kompetitor utamanya di Amerika Utara, Lyft. Lebih parah lagi, Uber ternyata punya divisi internal sendiri yang tugasnya “meng-order dan meng-cancel” booking Lyft. Tujuannya jelas supaya perusahaan kompetitor kehabisan armada dan memilih untuk memakai Uber.

Bad Driver’s Background Checks

Buat Uber (dan perusahaan transportasi berbasis aplikasi lain), driver ibarat prajurit yang berada di garda terdepan. Kompetensi driver sangatlah berpengaruh buat company secara keseluruhan. Sayang, Uber gagal meng-hire driver yang benar-benar berkompeten.

Ada dua kasus yang paling heboh soal bagaimana metode background check Uber kecolongan. Pertama adalah skandal pemerkosaan di India dan yang kedua adalah penembakan masal di Michigan.

James B. Dalton, 45, didakwa sebagai tersangka kasus enam penembakan beruntun di Kalamazoo, Michigan. Uber berkilah bahwa tersangka tidak punya catatan kriminal sebelumnya. Tersangka juga secara rata-rata mendapat review 4.73 dari 5. Perusahaan malah menyalahkan undang-undang yang memperbolehkan kepemilikan senjata bagi warga sipil sebagai sumber masalah, bukan proses hiring Uber.

Jangan naik Uber di India via indianexpress.com

Di kasus pemerkosaan di India, menyalahkan Uber juga tidak tepat juga. Di negara ini, kasus pemerkosaan sering terjadi. Tapi yang menjadi kesalahan Uber adalah di tahun perusahaan diam-diam mendapatkan catatan medis korban. Ini tentu menjadi sebuah kesalahan besar karena sudah menyangkut privasi seseorang.

Surge Pricing Scheme

Yang membuat Uber bisa bernilai miliaran dollar adalah karena Uber bisa menekan cost sampai serendah-rendahnya. Hal itu mungkin dilakukan terutama karena mereka tidak punya armada sendiri. Driver Uber adalah seorang enterpreneur yang menggunakan kendaraan pribadinya untuk menghasilkan uang.

Uber, dan mungkin juga perusahaan berbasis aplikasi lain, tidak pernah mengaggap driver-drivernya sebagai pegawai. Mereka “cuma” individual kontraktor yang menyediakan kendaraan baut Uber. Dengan begitu, Uber tidak perlu pusing memikirkan UMR, gaji lembur ataupun uang reimbursement.

Yang kemudian jadi masalah adalah atas dasar apa Uber menetapkan harga yang dibebankan ke pengguna. Kalau driver Uber adalah pegawai, sah-sah saja kalau Uber mematok tarif tetap per kilometer atau memberi diskon sampai 50% lebih. Tapi, setiap driver Uber adalah kontraktor. Itu artinya mereka bebas mematok tarif mereka sendiri, kan?

kalau driver dianggap pegawai, harga Uber pasti mahal via musictechpolicy.com

Inilah yang jadi perhatian buat penegak hukum di Amerika Serikat sana. Kalau Uber tetap menganggap drivernya sebagai kontraktor dan menetapkan tarif tetap buat setiap driver-nya, Uber jelas sudah melanggar anti-trust law.

Secara sederhana, Anti-trust law adalah hukum bisnis yang mencegah perusahaan melakukan monopoli usaha. Penetapan tarif tetap atau price fixing adalah salah satu cara bagaimana bisnis melakukan monopoli usaha.

Kanda Fajar tidak begitu paham bagaimana aplikasinya di Indonesia. Tapi Uber, Go-Jek dan Grab sepertinya menggunakan skema serupa. Harganya ketiga layanan itu memang bisa naik dan turun tergantung demand tapi ketiganya jelas tidak punya hak menetapkan harga buat driver-nya karena tiap driver tidaklah dianggap sebagai pegawai.

Solusi Jitu = Turunkan Travis Kalanik dari Posisi CEO

Membahas masalah yang terjadi di Uber itu ibarat menguras air laut, sia-sia dan tidak akan pernah berhasil kalau Travis Kalanik masih memegang tampuk kekuasaan.

Setelah kelakuannya dan visinya yang terlalu gila, Board of Director Uber menekan Travis Kalanik untuk resign. Dengan berat hati, Travis menyanggupinya. Dia digantikan oleh Dara Khosrowshahi, mantan CEO Expedia.

Pemilihan Khosrowshahi yang terlihat lebih “tenang” dari Kalanik memberi pesan bahwa Uber siap berubah dan memulai kehidupan yang baru. Pria keturunan Iran ini dipandang bisa membawa Uber meninggalkan kejadian-kejadian terdahulu dan fokus menyediakan layanan yang lebih baik lagi buat pengguna.

Dara Khosrowshahi
Dara Khosrowshahi via vox.com

Tapi kenyataan tidak semudah itu. Khosrowshahi ternyata masih terus menemukan dosa Kalanik yang sesudah yang bersangkutan tidak lagi menjabat. Setelah menunjuk dua anggota board lain demi menjaga kekuasaanya atas Uber, yang terbaru adalah kabar bahwa Uber menjadi korban hacker dan sekitar 57 juta data pribadi pengguna terekspos ke dunia maya. Dibawah Kalanik, Uber rela membayar si hacker $100,000 untuk menghapus data yang dia hack dan tidak blang apa-apa ke media.

Khosrowshahi punya cara yang lebih elegan. Dia meminta maaf di depan publik atas nama perusahaan dan bersedia membantu pihak berwajib untuk menyelidiki kasus ini.

Tindakan Khosrowshahi ini nyatanya berdampak baik bagi reputasi perusahaan. Hasilnya adalah raksasa bisnis Jepang, Softbank masih berminat berinvestasi di Uber. Dana sebesar $1 miliar dollar siap dikeluarkan, dengan tambahan $9 milliar saham lain untuk dibeli dari investor Uber yang lain

Categories: Tech

Leave a Reply