Kanda Fajar masih ingat betul, pas hari Jumat malam, tanggal 20 April 2018, smartphone Kanda Fajar berbunyi. Ada notifikasi. Bukan dari pacar, teman atau siapapun. Lebih penting daripada itu, ada pesan notifikasi dari aplikasi CNBC Indonesia yang Kanda Fajar instal. Isinya? “Rupiah Makin Terpuruk, Dolar AS Tembus Rp 13.804.”

Kenapa Kanda Fajar bilang notifikasi ini lebih penting dari pesan pacar atau gebetan? Jawabannya simpel. Itu karena kurs 13.804 itu adalah titik telemah nilai tukar rupiah sejak Februari 2006, 2 tahun sebelum krisis finansial 2008, bosque!

Penyebab Penguatan Dollar AS

Dari beberapa artikel yang Kanda Fajar baca di berbagai media bisnis online, Dollar AS engga cuma menguat dari Rupiah, tapi juga dari mata uang utama lain sepeti Pound-sterling atau Euro. Nah, pertanyaan selanjutnya adalah faktor apa yang mendorong penguatan Dollar AS?

Iklim bisnis yang makin tidak menentu tampaknya menjadi alasan kenapa investor global memburu Dollar AS. Akibatnya, permintaan Dollar lebih banyak dari persediaannya dan membuat Dollar AS menguat.

Iklim bisnis yang buruk ini didukung oleh banyaknya sentimen negatif yang mendera dunia, salah satunya adalah cuitan Trump soal harga minyak.

Inti tweet itu adalah kemarahan Trump karena OPEC, khususnya Arab Saudi mencoba mengurangi produksi minyak supaya harga IPO Aramco bisa tinggi. FYI, Aramco ini adalah Pertamina-nya Arab Saudi. Kabarnya, kalau benar melantai di bursa, Aramco ini akan bernilai $1,5 milliar. Artinya, nilainya bisa 2 kali lipat dari Apple, 4 kali lipat Exxon Mobil atau seperlimaa dari nilai MSCI Emerging Markets Index. Gila!!

Aramco, Pertamina-nya orang Arab via saudigazette.com.sa

Tweet diatas mengindikasikan kalau OPEC lah pihak yang bersalah atas naiknya harga minyak, bukan AS era pemerintahan Trump. Selain itu, hal ini juga memberi sinyal kalau AS siap menggenjot produksi supaya pemasukan negara meningkat.

OPEC jelas merespon keras. Mereka tidak terima disalahkan begitu saja. Well, karena AS dan OPEC ini berantem, timbullah efek ketidakpastian soal energi. I tell you business people hate uncertainty.

Apa Yang Harus Pemerintah Lakukan?

Melemahnya Rupiah jelas bukan berita bagus buat Indonesia. Efek dari melemahnya Rupiah ini adalah Utang luar negeri kita, yang notabene berdenominasi Dollar, akan bernilai lebih besar dari seharusnya. Ini juga kabar buruk buat konsumsi rumah tangga yang sering pake barang-barang impor. Harganya makin mahal, cuy. Belum lagi kalau kita hitung sentimen negatif ke pemerintah menjelang bulan Pemilu. Wah, bisa runyam urusannya.

Terus pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia, harus melakukan apa? Jawabannya adalah intervensi.

Mau ga mau BI harus intervensi via dailysocial.id

Seperti yang Kanda Fajar bilang diatas, masalah nilai tukar itu adalah masalah supply dan demand. Selain itu, kurs juga erat banget hubungannya sama tingkat suku bunga. Jadi intinya, menurut isi kepala Kanda Fajar (yang sotoy) ini, BI harus mengurangi supply aka peredaran Rupiah dengan menyerap kelebihan likuiditas rupiah di pasaran.

Secara lebih konkret, caranya adalah berikut ini.

Penerbitan SBI, SBIS dan SDBI

Pada dasarnya, SBI, SBIS SDBI ini adalah surat utang yang dikeluarkan bank Indonesia. SBI dan SBIS bisa dikeluarkan dengan manfaat bunga atau dijual dengan harga diskon, tergantung situasi. Kedua instrumen ini biasanya cuma berjangka waktu 1 sampai 12 bulan saja. Oh, iya, bank biasanya beli ketiga instrumen ini untuk menjaga likuiditas bank itu sendiri.

Penerbitan Reverse Repo SBN

FYI, repo disini artinya repurchase atau pembelian kembali. Jadi kalau ada yang beli repo, artinya yang beli punya kewajiban untuk membeli lagi setelah jangka waktu tertentu. Nah, kalau reverse repo berarti si penjual yang wajib beli lagi. Pusing, sama Kanda Fajar juga pas baru pertama kali belajar.

Selain itu, Karakter lain dari instrumen reverse repo SBN sama aja kayak SBI, SBIS, dan SDBI.

Penjualan SBN Outright

Pada dasarnya, SBN outright ini berkarakter mirip dengan Reverse Repo SBN. Bedanya, BI disini engga punya kewajiban beli kembali aja.

Jual Valas (Spot, Forward, Swap) terhadap Rupiah

Logikanya simple sih. Karena kita pengen Rupiah menguat, pemerintah beli aja terus rupiah hingga supply-nya turun. Sisi negatifnya adalah cadangan devisa negara bisa turun dan akan rentah “digoyang” sama sentimen-sentimen eksternal lain.

Lewat cara-cara diatas, diharapkan peredaran Rupiah jadi terbatas. Karena Rupiah jadi langka, permintaan akan Rupiah bisa meningkat lalu mengerek turun kurs USD/IDR.

Disclaimer: Cara-cara diatas tergolong teknik Open Market Operation. Teknik lain kayak Standing Facilities engga dibahas

Categories: Analisa Ekonomi

One comment

USD/IDR Tembus 13.800, Bagaimana Pemerintah Harus Bertidak?

Leave a Reply