Ya. Kamu tidak salah baca. Maksud dibuatnya tulisan ini adalah untuk menggambarkan betapa effort JOT dan tentu saja para member berhasil membuat para VVOTA atau mungkin orang awam berdecak kagum. Kualitas MV JKT48 sudah meningkat drastis dan ini tentu akan bermanfaat untuk menjaring  lebih banyak lagi penggemar-penggemar baru di circle-nya JKT48.

MV JKT48 Semakin Mendekati Standar Jepang

Harus kita akui bersama kalau standar Music Video Jepang ataupun Amerika masih sangat jauh di atas Indonesia. Di negara kita, tidak banyak talent-talent berbakat yang mampu mengolah sebuah video musik dengan perpaduan teknis dan cita rasa yang baik. Seringkali, hanya salah satunya aja yang menonjol.

Ambil contoh MV-MV YouTuber sekarang yang sekarang jadi rapper (dan apalah itu). MV-MV mereka rata-rata cukup oke secara teknis tapi punya cita rasa yang buruk. Tidak ada cerita yang ingin mereka tekankan dalam video-nya. Beda lagi sama MV-MV dari Tulus. Tidak perlu disangsikan lagi, semua video musik Tulus punya cerita yang diceritakan dengan indah. Tapi sayang, efeknya bermain disitu-situ aja.

Bagaimana dengan AKB48? AKB48 lebih variatif. Beberapa MV seperti #SukiNanda atau Shoot Sign punya shot-shot yang menarik plus memanjakan mata. #SukiNanda memiliki nuansa musim panas yang ceria sementara Shoot Sign lebih dark.

JKT48 sendiri sudah beberapa kali mencoba membuat video musik seperti itu. Contoh kongkretnya adalah Beginner dan Indahnya Senyum Manismu. Walaupun kita sama-sama tahu masih jauh dari standar AKB48. Bahkan, MV So Long yang begitu menyentuh itu aja efek-efeknya tergolong standar. Ketolong banget sama konteks graduasinya Ve.

Terobosan baru dilakukan semenjak launching MV Kimi Wa Melody. Di MV ini, video-nya jadi lebih jelas, lebih detail, dan ada tambahan efek-efek menarik selain slow motion. Dan setelahnya, MV-MV JKT48 tidak pernah sama lagi.

Junai No Crecendo dan UZA, Pembuktian Nyata Project Re:Boost

Satu hal menarik setelah ditunjuknya Melody sebagai General Manager adalah project Re:Boost JKT48. Dengan Re:Boost, JKT48 ingin lebih dekat dengan fans dan juga menaikkan standar diri mereka sendiri. Mirip-mirip lah sama revolusi mental yang digadang-gadang pemerintah Jokowi.

Secara official, project Re:Boost menghasilkan double single Uza dan Everyday Kachuusha. Tapi, Re:Boost bisa saja sudah dipersiapkan jauh sebelum itu. Junai No Crecendo sebagai single peringkat satu di gelaran JKT48 Request Hour 2017 kemarin baru dibuatkan video musik pada April 2018. Butuh 4 bulan persiapan dan satu bulan dan hasil akhirnya memang tidak mengecewakan.

Detail-detail ekspresi wajah Shania, Ikha dan Yona benar-benar dieksploitasi dengan baik. Plus dukungan efek-efek yang menarik, performa ketiga member ini dalam MV patut diacungi jempol.

Beda lagi dengan UZA. Digadang-gadang sebagai single dengan dance tersulit sepanjang sejarah AKB48, para member dari semua team harus melalui babak penyisihan dulu. Mereka harus mampu membuat perhatian JOT tertuju pada usaha keras dan kemampuan mereka.

Hasilnya, nama-nama seperti Ayana, Shania, Jinan dan yang lainnya berhasil lolos seleksi dan sah menjadi penampil UZA versi JKT48. Ayana dan Beby yang dikenal memiliki skill dance paling mumpuni menjadi double center.

Sedikit intermezzo. Konon, para member harus retake adegan sampai 200 kali untuk benar-benar mendapat shot-shot adegan yang menarik plus berkohesi dari awal sampai akhir.

Dan hasilnya bisa kamu lihat di video di bawah ini.

UZA: Dance Luar Biasa, Lagu Biasa Saja

Usaha tak kenal lelah para member akhirnya terbayar lunas. 200 kali retake itu sukses menghasilkan sebuah music video dengan transisi dan efek yang ciamik. Detail-detail gerakan para member terlihat jelas. Bahkan di beberapa momen, ekspresinya pun sangat menarik ditonton.

Kredit lebih patut diberikan pada Beby dan Ayana. Sebagai member yang menduduki posisi center, kedua orang ini mampu tampil prima, baik secara dance, ekspresi dan penjiwaan. Kompor gas buat kalian berdua!

Kerja bagus dari kedua center kita via facebook.com/fajaranz/

Yang jadi masalah adalah lagunya yang tidak bisa masuk ke telinga semua orang di Indonesia. Kanda Fajar adalah salah satunya. Entah kenapa, lirik-lirik UZA agak janggal di telinga Kanda Fajar. PR buat JOT, setelah berhasil meng-improve kualitas visualnya, sekarang mesti ada perubahan juga dari sisi penerjemahaan lirik. Jangan seperti translate “mentah” yang kalau diubah jadi bahasa Indonesia jadi terdengar aneh.

Categories: VVOTA

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.