Di era sekarang, siapa anak bola yang engga tau Zlatan Ibrahimovic. Kalau dia main di lapangan, sudah dipastikan gelontoran gol akan bersarang ke gawang lawan. Bahkan di usia yang menginjak 35 tahun, Zlatan masih mampu mencetak 20-an goal di kompetisi seberat Liga Premiere Inggris. Superb 👏 👏

Dibalik semua prestasi, trofi dan nama besarnya, seorang Zlatan dibentuk oleh lingkungan yang keras plus tekad yang membara. Cerita lengkapnya terangkum keren di sebuah buku berjudul sama seperti account Twitter-nya: I am Zlatan.

Sinopsis

Buku I am Zlatan dimulai dengan cerita masa kecil seseorang yang kelak menjadi legenda sepakbola Swedia. Zlatan kecil lahir di Rosengard, sebuah daerah kecil penuh imigran. Penduduk dengan banyak latar belakang menjadikan daerah ini keras. Masalah sekecil apapun bisa menjadi besar di Rosengard. Anak-anak kecil disana juga engga dididik untuk cengeng. Kalau anak kecil jatuh dan menangis, dia akan dijewer orang tuanya sambil bilang “Dasar dungu. Ngapain sih kok bisa jatuh segala.”

Di Rosengard, Zlatan kecil hidup bersama ibu dan saudara-saudaranya: Sanela dan Aleksandar. Tidak beda dengan orang-orang lain, Keluarga Zlatan pun sama kerasnya. Ibunya gampang marah. Mungkin karena tekanan ekonomi, fokus ibu Zlatan adalah bagaimana menghidangkan makanan di atas meja, bukan bagaimana supaya anak-anaknya berlaku terpuji.

Sekitar bulan November 1990, hak asuh Zlatan dan Sanela berpindah ke ayahnya karena berbagai macam alasan. Tapi situasi hanya menjadi sedikit lebih baik, hanya sedikit. Ayahnya cuma buruh bangunan dengan penghasilan yang sedikit lebih besar dari ibunya yang jadi tukang bersih-bersih. Ditengah semua hal itu, sepakbola adalah hiburan buat Zlatan. Dia mempelajari banyak trik sepakbola dari internet. Idolanya adalah pemain Brazil macam Pele dan Ronaldo. Dia tidak tertarik mengidolakan pesepakbola Swedia karena menurutnya mereka tidak cukup bagus.

Memimpin Inter meraih Scudetto via theladbiblegroup.com

Saat tinggal bersama ayahnya di Malmo, Zlatan masuk akademi sepakbola lokal, MBI. Disana dia bermain cukup bagus secara individu. Tapi secara tim, Zlatan payah. Tidak salah kalau kemudian, para suporter, yang jelas adalah orang tua dari rekan satu timnya, marah besar. Perlakuan ini membuat Zlatan muak tapi dia tetap bermain baik. Di satu pertandingan, dia bahkan “harus” mencetak 8 gol sendirian supaya timnya bisa menang 8-5. Pertandingan itu membuka jalan baginya untuk masuk ke klub yang lebih besar; Malmo FF.

Ayah Zlatan tidak pernah ikut menyaksikan anaknya bertanding, tapi dia tahu bahwa Zlatan itu spesial. Dia lalu meminta Zlatan masuk ke klub profesional. Malmo FF tadi adalah saran ayahnya. Walaupun sudah main di klub profesional, biarpun belum masuk skuat inti, Zlatan tetap jadi anak yang liar, mengerikan dan mudah marah. Jangankan rekan setim, wasit, bahkan pelatih. Saat itu dia tersadar, kalau seorang pemain dengan ego sebesar dirinya ingin dihargai, dia harus berlatih 10 kali lebih keras dari orang lain. Hasilnya, saat Malmo FF masuk periode terburuk dalam sejarahnya berkompetisi di sepakbola Swedia, Zlatan lah yang memikul beban itu. Gelontoran gol-golnya, membuat Malmo FF kembali ke divisi teratas Liga Swedia.

Berkat kemampuannya, Zlatan dianggap jadi pesepakbola muda potensial di Swedia. Ajax Amsterdam mengendus bakatnya. Dia ditransfer dengan nilai 85 juta Krona, memecahkan rekor transfer klub manapun di Swedia. Di Ajax, Zlatan kesulitan mengulang kegemilangannya di Malmo FF. Konsistensi menjadi masalah terbesarnya. Tapi pelatih masih menaruh kepercayaan buat Zlatan. Lambat laun, bersama Mido, dan Rafael Van Der Vart, Zlatan menjadi bakat-bakat Ajax yang paling banyak diincar klub-klub besar Eropa.

Akhirnya, Zlatan menggandeng Mino Raiola, agen kualitas jempolan untuk mengurus kepindahannya ke klub lain. Tujuannya adalah Juventus yang saat itu ditangani Fabio Capello. Di Italia, Capello mengubah cara main Zlatan menjadi lebih efektif. Dia diajari untuk tampil baik untuk satu tugas penting: mencetak gol dan dia melakukannya dengan baik. Bersama pemain-pemain legendaris lain macam Pavel Nedved, David Trezeguet, Del Piero dan Buffon, Juventus hampir tidak terbendung di Italia, sampai akhirnya skandal Calciopoli datang dan menghancurkan semuanya.

Akibat skandal itu, Juventus harus terdegradasi ke Serie B. Zlatan menolak untuk tetap tinggal seperti legenda-legenda Juventus yang disebutkan diatas. Dia memilih menyebrang ke Inter Milan. Disana, dia dilatih oleh The Special One, Jose Mourinho. Memiliki ego yang sama besarnya, mereka berdua cepat akrab. Di Inter, walaupun bukan Kapten tim, Zlatan bahkan mendapat akses langsung ke Massimo Moratti si presiden klub. Dengan pengaruh sebesar itu, Zlatan membawa Inter merajai Serie A. Dengan gol-golnya, Inter berhasil memutus dominasi Juventus dan AC Milan.

Udah tua dan masih produktif. Keren via news.sky.com

Setelah merajai Serie A, Zlatan terobesi dengan Liga Champions. Dia akhirnya pindah ke Barcelona. Dia main bagus disana. Zlatan mencetak banyak gol tapi pusat permainan tetap ada di kaki Messi. Karena Messi juga Guardiola menggeser posisi Zlatan ke sisi sayap. Biasanya Zlatan akan mengamuk, tapi tidak di Barcelona. Kultur “anak baik dan penurut” di klub ini membuatnya mengusap dada. Dia merasa pelatih tidak membuatnya mengeluarkan kemampuan terbaik. Saat Zlatan mengeluarkan uneg-unegnya, Guardiola hanya diam tanpa menjelaskan apapun. Sejak itu, Guardiola mengacuhkan Zlatan. Dia juga tidak lagi memberi instruksi buatnya sebelum pertandingan. Dia juga bahkan menyuruh Zlatan untuk pindah, secara halus tentu saja.

Zlatan akhirnya kembali ke Serie A, ke saudara sekota Inter, AC Milan. Disana, Zlatan terlahir kembali jadi mesin gol mematikan. Dan sekali lagi membantu AC Milan memenangkan trofi Seria A yang telah lama lepas dari genggaman.

Impression

Sinopsis yang Kanda Fajar tulis diatas cuma sebagian dari keseluruhan isi buku. Ada kisah Zlatan di timnas dan hubungan pribadinya yang sengaja tidak Kanda Fajar tulis.

Lewat buku ini, Kanda Fajar jadi mengidolakan sosok Zlatan, bukan sebagai pesepakbola melainkan sebagai seorang manusia. Dia mudah marah, memang itu benar. Tapi dia marah kalau ada rekan setim, atau dirinya sendiri bermain buruk di pertandingan. Dia meledak-ledak karena dia merasa bersemangat. Zlatan adalah sosok orang yang semakin dicemooh akan semakin bagus permainannya.

Zlatan akan melakukan apapun untuk menang. Dia bahkan mau berlatih lebih keras demi mencapai level yang lebih tinggi. Zlatan adalah pembeda dan itulah yang dia percayai. Dia yakin kalau setiap orang memiliki jalannya sendiri. Dia tidak akan pernah menganjurkan anak-anak muda mengikuti jejajknya. Tidak. Dia akan bilang untuk ikuti rutemu dan kalau itu berbeda, ya biarkan saja.

You are the best in the world, Zlatan!

Categories: Bacaan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.